RASIKAFM.COM | WONOGIRI – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Tahun 2026 menggabungkan dua potensi penting Desa Purworejo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, yakni potensi ekonomi dan pangan lokal. Melalui program kerja yang dijalankan selama KKN, mahasiswa mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pemasaran. Di sisi lain, mahasiswa mengolah bahan pangan lokal berupa singkong menjadi makanan bergizi bagi balita.
Program tersebut dilaksanakan oleh 10 mahasiswa KKN Tim II Undip dengan didampingi dosen pembimbing lapangan Farid Agushybana, Fariz Nurmita Aziz, dan Dewi Setyaningsih. Di sektor ekonomi, mahasiswa menjalankan program “Pengembangan Potensi UMKM Desa Melalui Inovasi Digital dan Penguatan Ekonomi Lokal”.
Tahap awal dilakukan dengan mendata pelaku UMKM secara door to door di tujuh dusun, yakni Mundu, Semin Kulon, Semin Wetan, Ngantup, Jati Bedug, Sumberejo, dan Banjardowo. Mahasiswa tidak sekadar mencatat jenis usaha dan produk yang dihasilkan, tetapi juga menggali persoalan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital.
“Dari pendataan secara langsung ini kami bisa melihat kondisi UMKM di lapangan. Ada yang usahanya sudah berjalan baik, tetapi masih ada yang belum memanfaatkan media digital secara maksimal,” kata Ketua KKN Tim II Undip, Aliya Firdhaussya Putri Setiawan saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, digitalisasi menjadi penting karena calon konsumen saat ini semakin banyak mencari informasi produk melalui internet.
“Karena itu kami mengenalkan hal-hal yang sederhana dan mudah diterapkan, seperti mendaftarkan lokasi usaha di Google Maps, menggunakan QRIS, serta memanfaatkan media sosial untuk promosi,” ujarnya.
Pendampingan tersebut mendapat respons positif dari pelaku UMKM. Mukino, salah satu pelaku UMKM Desa Purworejo, mengatakan keterbukaan masyarakat terhadap program mahasiswa tidak lepas dari harapan agar usaha mereka bisa berkembang.
“Selama programnya membantu kami berkembang, kami siap untuk terbuka,” kata Mukino.
“Kalau ada yang bisa membantu usaha kami lebih dikenal, tentu kami senang. Apalagi kalau pelanggan dari luar desa bisa mengetahui produk kami melalui internet,” lanjutnya.
Sebagai tindak lanjut pendataan, mahasiswa memberikan pendampingan pendaftaran Google Maps, penggunaan QRIS, serta penguatan strategi promosi digital. Mahasiswa juga menyusun peta persebaran UMKM Desa Purworejo yang memuat lokasi usaha di tujuh dusun. Selain itu, dikembangkan website UMKM Desa Purworejo yang berisi profil UMKM, informasi produk, lokasi usaha, kontak pelaku usaha, serta tautan Google Maps.
“Harapannya masyarakat tidak kesulitan mencari UMKM yang ada di Desa Purworejo. Produk warga juga bisa lebih mudah ditemukan oleh masyarakat dari luar desa,” katanya.
Tak hanya berbicara soal ekonomi, mahasiswa KKN Undip juga mengembangkan inovasi berbasis pangan lokal untuk mendukung kesehatan masyarakat. Dalam kegiatan Posyandu Ibu Hamil dan Balita, mahasiswa mengemas kegiatan dengan edukasi kesehatan dan gizi, demonstrasi memasak, serta pemberian makanan tambahan (PMT).
Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah BoLeSi (Bola Lele Singkong), yang dibuat dari ikan lele dan singkong yang dipadukan dengan telur, wortel, keju, serta bahan pendukung lainnya.
“Singkong dipilih karena merupakan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Kami mencoba mengolahnya menjadi makanan yang lebih menarik sehingga bisa menjadi alternatif menu untuk balita,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Purworejo, Hartono, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN Undip, terutama karena memanfaatkan bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Olahannya bagus, menarik, enak, seratus poin untuk KKN Undip,” paparnya.
Menurutnya, inovasi tersebut dapat menjadi contoh bahwa bahan pangan lokal tidak harus dikonsumsi dalam bentuk yang monoton. Ia juga menilai program KKN tidak hanya memberikan manfaat dalam jangka pendek, tetapi dapat meninggalkan pengetahuan yang bisa diteruskan masyarakat.
“Yang penting bukan hanya produknya, tetapi bagaimana masyarakat mendapatkan pengetahuan dan bisa meneruskannya setelah mahasiswa selesai KKN,” tandasnya. (win)









