RASIKAFM.COM | SALATIGA – Suasana berbeda terasa di kawasan Sendang Gambir, Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Rabu (19/8/2027). Ratusan warga berkumpul bukan sekadar menghadiri sebuah acara tahunan, melainkan merawat sebuah warisan leluhur melalui tradisi merti dusun atau saparan.
Di lokasi yang menjadi sumber mata air bersejarah itu, warga menggelar ritual sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan. Tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga, Henni Mulyani, mengatakan merti dusun di Tetep merupakan bentuk ritual budaya yang masih dijaga masyarakat secara mandiri.
“Hari ini warga Dusun Tetep menyelenggarakan merti dusun atau sedekah bumi. Ini merupakan ritual budaya untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena masih diberikan rezeki, baik dari hasil pertanian maupun bidang lainnya,” ujar Henni
Menurut dia, salah satu hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah seluruh rangkaian acara digelar melalui swadaya masyarakat. Selain ritual adat, warga juga menampilkan kesenian yang melibatkan generasi muda.
“Anak-anak Randuacir yang sudah lama belajar tari tampil membawakan tari Gambyong. Tari ini memiliki makna sebagai penyambutan tamu,” katanya.
Henni menyebut Pemerintah Kota Salatiga telah mencatat kegiatan tersebut sebagai salah satu event budaya tahunan. Ke depan, ia berharap merti dusun Tetep dapat berkembang menjadi agenda yang lebih luas.
Sendang Gambir, Sumber Air dan Jejak Sejarah Dusun Tetep
Pemilihan Sendang Gambir sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Tempat tersebut dipercaya memiliki nilai sejarah bagi masyarakat sekitar.
Ketua Paguyuban Sendang Gambir, Amir Mahmud, menjelaskan bahwa sendang tersebut dahulu menjadi salah satu sumber mata air utama bagi wilayah Randuacir, Tetep, Patehan, hingga Cengeng.
“Dulu Sendang Gambir merupakan salah satu mata air satu-satunya untuk wilayah ini. Karena sumber air lain belum ada, masyarakat memanfaatkan sendang ini untuk kehidupan sehari-hari,” jelas Amir.
Menurutnya, keberadaan sendang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air, tetapi juga memiliki cerita sejarah yang masih terus digali masyarakat. Sendang Gambir dipercaya berkaitan dengan kisah seorang resi yang memiliki kemampuan penyembuhan.
“Tempat ini dulu dipercaya sebagai tempat empu penyembuhan. Karena itu mata air yang ada di sini tetap dihormati dan dijaga,” katanya.
Amir menuturkan tradisi merti dusun di Sendang Gambir telah berlangsung puluhan tahun dan diwariskan secara turun-temurun.
“Kalau dihitung, kegiatan seperti ini sudah hampir 50 tahun dilaksanakan. Dulu bentuknya masih sederhana, hanya ritual kecil. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini terus berkembang dan tetap dijaga,” ujarnya.
Ritual Adat yang Merangkul Keberagaman
Selain menjaga budaya leluhur, merti dusun Tetep juga menjadi ruang memperkuat toleransi antarumat beragama.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menghadirkan tokoh dari tiga agama untuk bersama-sama memanjatkan doa.
“Kita menjaga kearifan budaya lokal sekaligus menjaga toleransi beragama. Tujuan kegiatan ini adalah bersyukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan, sehingga kami menghadirkan tokoh agama Buddha, Muslim, dan Nasrani untuk doa bersama,” kata Amir.
Rangkaian acara diawali dengan ritual pembasuhan tangan menggunakan air Sendang Gambir. Setelah itu, warga menyaksikan pertunjukan seni, termasuk tari Gambyong yang dibawakan generasi muda setempat.
Henni menjelaskan, keberadaan kesenian dalam ritual tersebut memiliki makna tersendiri.
“Tari Gambyong memang dikenal sebagai tari penyambutan tamu. Kemudian dilanjutkan tayub yang mengajak masyarakat dan tamu untuk bersukaria bersama sebagai bentuk rasa syukur,” tuturnya.
Melalui merti dusun, masyarakat Tetep menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu. Tradisi menjadi cara warga menjaga identitas budaya, merawat sumber kehidupan, sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah perubahan zaman.







