RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

Penari Gambyong saat pembukaan acara Merti Dusun Saparan di Tetep Salatiga (Foto Arief Rasika)

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Suasana berbeda terasa di kawasan Sendang Gambir, Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Rabu (19/8/2027). Ratusan warga berkumpul bukan sekadar menghadiri sebuah acara tahunan, melainkan merawat sebuah warisan leluhur melalui tradisi merti dusun atau saparan.

Di lokasi yang menjadi sumber mata air bersejarah itu, warga menggelar ritual sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan. Tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga, Henni Mulyani, mengatakan merti dusun di Tetep merupakan bentuk ritual budaya yang masih dijaga masyarakat secara mandiri.

“Hari ini warga Dusun Tetep menyelenggarakan merti dusun atau sedekah bumi. Ini merupakan ritual budaya untuk mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena masih diberikan rezeki, baik dari hasil pertanian maupun bidang lainnya,” ujar Henni

Menurut dia, salah satu hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah seluruh rangkaian acara digelar melalui swadaya masyarakat. Selain ritual adat, warga juga menampilkan kesenian yang melibatkan generasi muda.

“Anak-anak Randuacir yang sudah lama belajar tari tampil membawakan tari Gambyong. Tari ini memiliki makna sebagai penyambutan tamu,” katanya.

Henni menyebut Pemerintah Kota Salatiga telah mencatat kegiatan tersebut sebagai salah satu event budaya tahunan. Ke depan, ia berharap merti dusun Tetep dapat berkembang menjadi agenda yang lebih luas.

Sendang Gambir, Sumber Air dan Jejak Sejarah Dusun Tetep

Pemilihan Sendang Gambir sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Tempat tersebut dipercaya memiliki nilai sejarah bagi masyarakat sekitar.

Ketua Paguyuban Sendang Gambir, Amir Mahmud, menjelaskan bahwa sendang tersebut dahulu menjadi salah satu sumber mata air utama bagi wilayah Randuacir, Tetep, Patehan, hingga Cengeng.

“Dulu Sendang Gambir merupakan salah satu mata air satu-satunya untuk wilayah ini. Karena sumber air lain belum ada, masyarakat memanfaatkan sendang ini untuk kehidupan sehari-hari,” jelas Amir.

Menurutnya, keberadaan sendang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan air, tetapi juga memiliki cerita sejarah yang masih terus digali masyarakat. Sendang Gambir dipercaya berkaitan dengan kisah seorang resi yang memiliki kemampuan penyembuhan.

“Tempat ini dulu dipercaya sebagai tempat empu penyembuhan. Karena itu mata air yang ada di sini tetap dihormati dan dijaga,” katanya.

Amir menuturkan tradisi merti dusun di Sendang Gambir telah berlangsung puluhan tahun dan diwariskan secara turun-temurun.

“Kalau dihitung, kegiatan seperti ini sudah hampir 50 tahun dilaksanakan. Dulu bentuknya masih sederhana, hanya ritual kecil. Seiring perkembangan zaman, tradisi ini terus berkembang dan tetap dijaga,” ujarnya.

Ritual Adat yang Merangkul Keberagaman

Selain menjaga budaya leluhur, merti dusun Tetep juga menjadi ruang memperkuat toleransi antarumat beragama.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menghadirkan tokoh dari tiga agama untuk bersama-sama memanjatkan doa.

“Kita menjaga kearifan budaya lokal sekaligus menjaga toleransi beragama. Tujuan kegiatan ini adalah bersyukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan, sehingga kami menghadirkan tokoh agama Buddha, Muslim, dan Nasrani untuk doa bersama,” kata Amir.

Rangkaian acara diawali dengan ritual pembasuhan tangan menggunakan air Sendang Gambir. Setelah itu, warga menyaksikan pertunjukan seni, termasuk tari Gambyong yang dibawakan generasi muda setempat.

Henni menjelaskan, keberadaan kesenian dalam ritual tersebut memiliki makna tersendiri.

“Tari Gambyong memang dikenal sebagai tari penyambutan tamu. Kemudian dilanjutkan tayub yang mengajak masyarakat dan tamu untuk bersukaria bersama sebagai bentuk rasa syukur,” tuturnya.

Melalui merti dusun, masyarakat Tetep menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar mengenang masa lalu. Tradisi menjadi cara warga menjaga identitas budaya, merawat sumber kehidupan, sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah perubahan zaman.

Amir Machmud berikan keterangan media

BACA JUGA :

Sebanyak 31 sapi di Kota Salatiga terkonfirmasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sepanjang Januari hingga 4 September 2026. Dispangtan Salatiga menyebut lalu lintas sapi dari luar daerah menjadi faktor utama penyebaran penyakit. Dari jumlah tersebut, 30 sapi telah sembuh dan satu dipotong paksa, sementara saat ini tidak ada kasus aktif.
31 Sapi di Salatiga Terjangkit PMK, Dinas Pantau Lalu Lintas Ternak
BALAP-LIAR
Balap Liar dan Knalpot Brong Makin Meresahkan, Satlantas Polres Salatiga amankan 75 Motor
Tim sepak bola Popda Kota Salatiga berhasil menjadi juara Popda Jawa Tengah 2026 setelah mengalahkan Kabupaten Wonogiri 1-0 pada partai final. Sebelumnya, Salatiga menyingkirkan Kota Semarang melalui adu penalti 5-3 di semifinal. Gelar ini diraih berkat konsistensi, kekompakan, dan mental bertanding para pemain muda sepanjang kompetisi.
Skuad Muda Juara, Perjuangan Tim Sepak Bola Salatiga di ajang Popda Jateng Berbuah Manis
Ikuti Popda Pelajar, Tim Sepak Bola Salatiga Tampil Meyakinkan, Pastikan Lolos 8 Besar
Ikuti Popda Pelajar, Tim Sepak Bola Salatiga Tampil Meyakinkan, Pastikan Lolos 8 Besar
Warung Makan Podomoro milik Mbah Rukiyem di Jalan Jenderal Sudirman, Salatiga, Jawa Tengah, semakin ramai setelah dikunjungi Anang Hermansyah dan Ashanty. Konten kuliner pasangan selebritas itu membuat tumpang koyor legendaris yang dijual sejak 1969 tersebut diburu pembeli dari berbagai daerah hingga penjualan koyor meningkat dari 7 menjadi 22 kilogram per hari.
Usai Viral dikunjungi Anang-Ashanty Tumpang Koyor Legendaris Podomoro Salatiga Diburu Pembeli
Kota Salatiga meraih juara I kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan dalam Apresiasi Pemda Berprestasi Regional Jawa-Bali 2026 Batch II yang digelar Kemendagri pada 28 Agustus 2026. Atas capaian tersebut, Salatiga mendapat dukungan Rp2 miliar untuk memperkuat akses dan kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat.
Bukan Kaleng-kaleng! Kota Salatiga raih Prestasi di Bidang Pendidikan

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Warga Dusun Kropoh, Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan terkubur di kebun pada Kamis (3/9/2026) sore. Bayi ditemukan Gendro Susanto saat mencari rumput setelah melihat gundukan tanah baru. Polisi kemudian mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi serta pihak yang bertanggung jawab.
Curiga Gundukan Tanah Baru, Warga Bandungan Temukan Bayi Terkubur dan Terbungkus Daster
Tim Penilai Blackspot Therapy Polda Jawa Tengah melakukan survei dan penilaian Jalur Penyelamat di Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga, Selasa (1/9/2026), untuk memetakan potensi kerawanan kecelakaan. Tim memeriksa kondisi jalan, rambu, marka, fasilitas keselamatan, dan lingkungan sekitar sebagai dasar penyusunan rekomendasi penanganan.
Tim Polda Jateng Cek Jalur Penyelamat JLS Salatiga, Amati Situasi Lalin Penyebab Laka

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved

Lebar: px

Tinggi: px

                 

Warning: Undefined variable $output in /home/u503210056/domains/rasikafm.com/public_html/wp-content/plugins/pekok/pekok.php on line 157