URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Masyarakat Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terus melestarikan tradisi Saparan atau merti dusun yang digelar setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar. Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini diwujudkan melalui rangkaian ritual adat, open house, serta pertunjukan kesenian sebagai ungkapan syukur, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan ‘MBG Swadaya’

Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan ‘MBG Swadaya’

Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan ‘MBG Swadaya’

Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah menerima tamu yang datang silih berganti layaknya Lebaran dalam tradisi Saparan di Dusun/Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Senin (27/7/2026). Foto: win
Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah menerima tamu yang datang silih berganti layaknya Lebaran dalam tradisi Saparan di Dusun/Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Senin (27/7/2026). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Tradisi Saparan masih terus dijaga masyarakat Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Tradisi yang menjadi wujud syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi itu tetap dilaksanakan setiap tahun dengan rangkaian ritual adat hingga open house yang dihadiri ratusan tamu.

Salah seorang warga setempat, Gunawan Tri Rahmadi, mengatakan Saparan merupakan tradisi merti dusun yang umumnya dilaksanakan pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Setiap dusun memiliki hari pelaksanaan yang berbeda sesuai tradisi yang diwariskan turun-temurun.

“Rata-rata dusun di wilayah kami memperingati merti dusun pada bulan Saparan. Masing-masing punya hari sendiri. Untuk Dusun Wates jatuh setiap Senin Kliwon di bulan Sapar dan tradisi ini terus dilaksanakan dari tahun ke tahun,” ujarnya ditemui di rumahnya, Senin (27/7/2026).

Menurut Gunawan, merti dusun menjadi momentum masyarakat untuk mensyukuri nikmat dan rezeki yang diperoleh sekaligus memperkuat kebersamaan antarwarga melalui silaturahmi. Salah satu tradisi yang selalu dilakukan adalah menggelar open house. Warga yang membuka rumahnya akan menjamu siapa pun yang datang dengan aneka hidangan yang disiapkan secara swadaya.

“Semua tamu wajib makan. Menunya berbeda-beda di setiap rumah sesuai kemampuan yang memasak. Ini bisa dibilang seperti makanan bergizi gratis yang benar-benar swadaya dari masyarakat,” katanya.

Ia yang juga anggota DPRD Kabupaten Semarang ini mengatakan, jumlah tamu yang datang saat Saparan diperkirakan mencapai lebih dari 400 orang. Bahkan, rumah tokoh masyarakat lain dapat menerima hingga sekitar 1.000 tamu selama perayaan berlangsung.

“Rangkaiannya dimulai dari nyadran kuburan dan nyadran kali atau mata air. Ini bentuk rasa syukur sekaligus mengingatkan bahwa dusun dan alam harus terus kita rawat,” jelasnya.

Selain ritual adat, masyarakat juga tetap mempertahankan hiburan tradisional sebagai bagian dari merti dusun. Beberapa dusun masih mempertahankan pagelaran wayang kulit atau ketoprak karena telah menjadi tradisi yang diyakini turun-temurun. Namun di Dusun Wates, pelaksanaan hiburan kini mulai dikolaborasikan dengan keinginan generasi muda. Jika tahun sebelumnya menggelar wayang kulit, tahun ini warga memilih menghadirkan kesenian Reog.

“Tahun ini kami memilih Reog. Pelaksanaannya tidak bersamaan dengan hari merti dusun agar warga bisa menikmati pertunjukan setelah selesai menerima tamu di rumah masing-masing,” ungkap Gunawan.

Sementara, Istichomah, warga lokal yang turut merayakan tradisi Saparan turut mengamini hal tersebut. Menurutnya, setiap rumah memiliki sajian wajib yang berbeda. Di rumahnya, menu yang harus tersedia adalah jadah dan jenang atau wajik.

“Filosofinya, jenang dan jadah memiliki dua warna yang kontras. Maknanya agar mengerti bedanya hal yang baik dan buruk. Sementara wajik teksturnya lengket, harapannya menjadi perekat tali persaudaraan,” kata Istichomah.

Ia yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Semarang mengaku, dalam satu hari tak kurang dari 200 tamu datang bersilaturahmi.

“Dari teman-teman ASN, perangkat desa, dan pimpinan OPD banyak yang datang. Mereka semua wajib untuk menyantap menu yang telah dihidangkan,” sambungnya.

Menurut Istichomah, keberlangsungan Saparan menunjukkan masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian tradisi sekaligus menjaga nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan budaya yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. (win)

BACA JUGA :

Cemburu Buta, Seorang Pemuda Asal Bawen Dihajar Pakai Knalpot
Cemburu Buta, Seorang Pemuda Asal Bawen Dihajar Pakai Knalpot
Kebakaran Rumah di Kedungringin Suruh, Satu Orang Meninggal Terjebak Kobaran Api
Kebakaran Rumah di Kedungringin Suruh, Satu Orang Meninggal Terjebak Kobaran Api
Dugaan penyalahgunaan dana Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) mencuat dalam audiensi Gapoktan Ngudi Hasil Desa Pakopen dengan DPRD Kabupaten Semarang, Kamis (13/8/2026). Anggota kelompok mengaku menerima dana lebih kecil dari nilai kredit dalam akad, sementara kewajiban tetap berjalan. DPRD meminta Pemkab membentuk tim untuk memfasilitasi penyelesaian.
Dana Kredit Petani Pakopen Bandungan Diduga Diselewengkan, Kuasa Hukum: Ada Indikasi Korupsi
Kampung Keluarga Berkualitas Manggar Lestari, Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, meraih juara pertama nasional pengelolaan Kampung KB 2026 dari Kemendukbangga/BKKBN. Prestasi tersebut diraih melalui keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan lansia, pendampingan anak dan balita, seni budaya, serta berbagai program untuk meningkatkan kualitas keluarga dan lingkungan.
Kampung KB Manggar Lestari Desa Lerep Juara Nasional, Bukan Sekadar Soal “Dua Anak Cukup”
Pemkab Semarang segera mencatat tanah hibah dari Kementerian Pertanian seluas sekitar 2,3 hektare sebagai aset daerah setelah dokumen administrasinya lengkap, Selasa (11/8/2026). Tanah eks Balai Penyuluhan Pertanian yang dihibahkan sejak 1991 tersebut diperkirakan bernilai Rp58 miliar. Pemkab Semarang juga menunggu proses sertifikasi tanah 14,8 hektare dari Badan Bank Tanah di Desa Branjang yang bernilai sekitar Rp60 miliar.
35 Tahun Mangkrak, Tanah Hibah Kementan untuk Pemkab Semarang Akhirnya Tuntas
Tim gabungan kepolisian mengamankan dua terduga pelaku kasus dugaan perampokan yang menewaskan pemilik konter Royal Phone, Chandra Waskito, di Kelurahan Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Penangkapan dilakukan di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang pada Jumat (7/8/2026), kurang dari 48 jam setelah kejadian, setelah polisi mengembangkan penyelidikan dengan melibatkan Polda Jawa Tengah, Polres Semarang, dan Polres Grobogan untuk mengungkap peran serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Misteri Perampokan Royal Phone Ambarawa Terkuak, Polisi Ringkus Dua Terduga Pelaku

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang mengungkap kasus perampokan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, melalui jejak salah satu tersangka saat menggunakan jasa ojek online dari Grobogan menuju Ambarawa. Polisi menelusuri pengemudi GoRide yang menerima satu unit handphone sebagai pembayaran hingga memperoleh identitas tersangka. Penyidik juga menyebut motif perkara berkaitan dengan persoalan ekonomi dan masih melengkapi berkas sebelum diserahkan kepada kejaksaan.
Terungkap Lewat Histori Ojol, Perampok Royal Phone Bayar Gojek Pakai HP Hasil Kejahatan
Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala
Seorang pelajar kelas 10 SMK Bakti Nusantara berinisial KM (16) ditilang Satlantas Polres Salatiga karena mengendarai sepeda motor dengan knalpot tidak sesuai spesifikasi di pertigaan Cebongan, Selasa (11/8/2026). Polisi menilai suara knalpot brong mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Selain penindakan, Kasat Lantas AKP Henry Sulistyanta memberikan edukasi agar pelajar tidak menggunakan knalpot yang menimbulkan kebisingan.
Tertangkap Basah Gunakan Knalpot Brong di Pertigaan Cebongan, Siswa SMA di Salatiga Tertunduk Lesu

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved