URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha

Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha

Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha

Seni pari corek bergambar Sang Buddha yang tengah bersemedi di bawah pohon Bodhi disinari cahaya purnama karya seniman Sidik Gunawan, menghiasi area persawahan Lingkungan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Rabu (26/8/2026). Foto: IST/ dok. Kelompok Tani Pari Corek
Seni pari corek bergambar Sang Buddha yang tengah bersemedi di bawah pohon Bodhi disinari cahaya purnama karya seniman Sidik Gunawan, menghiasi area persawahan Lingkungan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Rabu (26/8/2026). Foto: IST/ dok. Kelompok Tani Pari Corek
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN — Keinginan untuk menenangkan diri dengan bersemedi yang belum kesampaian justru dituangkan Sidik Gunawan, seniman asal Sidorejo, Bergas Lor, Kabupaten Semarang, ke dalam karya seni pari corek. Gunawan (sapaan akrabnya) menggambar sosok Sang Buddha yang sedang bersemedi di hamparan sawah seluas sekitar 1.200 meter persegi. Karya tersebut dibuat menggunakan dua varietas padi dengan karakter warna berbeda, yakni padi berdaun hijau dan padi Black Madras yang memiliki daun berwarna gelap.

Gunawan mengatakan, gambar Buddha dalam posisi bersemedi tersebut memiliki makna personal baginya. Keinginan untuk bersemedi muncul setelah ia kehilangan sang istri. Ia kemudian bertemu dengan seorang tokoh Buddhis yang akrab disapanya Romo Puji. Kepada Romo Puji, Gunawan sempat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pertapa.

“Saya bilang ke Romo, ‘Mo, piye carane dadi pertapa, aku kok pengin dadi pertapa.’ Terus banyak ngobrol dengan Romo. Saya malah disarankan tidak usah jadi pertapa dulu. Katanya, saya punya keahlian menggambar, kenapa tidak menggambar Buddha untuk acara Asadha,” katanya ditemui di Kafe Lodji Londo miliknya, Rabu (26/8/2026).

Dari percakapan tersebut, Gunawan kemudian membuat karya pari corek bergambar Buddha dalam posisi bersemedi. Menurutnya, posisi tersebut sekaligus menjadi simbol keinginannya untuk mencari ketenangan melalui pertapaan.

“Waktu itu saya ingin sekali menenangkan diri dengan bersemedi. Untuk sementara diwujudkan melalui gambar,” ujarnya.

Karya pari corek yang kini digelutinya berawal dari kehidupannya sebagai petani. Ide tersebut muncul setelah seorang rekannya dari Yogyakarta memberikan bibit padi Black Madras yang memiliki daun berwarna gelap.

“Saya coba tanam, ternyata memang daunnya berwarna hitam. Ada juga yang bilang itu padi wulung,” tuturnya.

Perbedaan warna daun tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk membuat gambar di lahan persawahan. Gunawan mencoba menggambar wajahnya sendiri dengan memanfaatkan perbedaan warna antara padi hijau dan padi berdaun hitam. Percobaan pertama belum sempurna. Namun, bentuk wajah yang dibuatnya tetap dapat dikenali. Dari pengalaman itu, ia terus mempelajari karakter masing-masing varietas padi hingga teknik pari corek yang dibuatnya semakin berkembang. Sejumlah tokoh pernah dituangkan dalam karya tersebut, antara lain Ganjar Pranowo, Joko Widodo, Bung Karno, Sudaryono yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, hingga Presiden Prabowo Subianto.

“Pertama buat desain dan sketsa gambar, kemudian skalanya diperbesar hingga ratusan kali untuk disesuaikan dengan ukuran sawah,” ungkapnya.

Setelah padi yang disemai berumur sekitar 20 hari, proses penanaman untuk membentuk gambar dilakukan. Ia menggunakan benang sebagai garis patokan agar posisi tanaman sesuai dengan pola yang telah dibuat. Proses penanaman harus dilakukan secara cepat. Untuk satu gambar, seluruh proses penanaman maksimal diselesaikan dalam waktu sekitar satu pekan.

“Kalau lebih dari satu minggu biasanya gambar tidak sempurna karena pertumbuhannya berbeda. Yang satu sudah rapat, yang di sini masih jarang,” jelasnya.

Setelah penanaman selesai, gambar baru mulai terlihat jelas sekitar satu setengah bulan kemudian, ketika tanaman padi mulai tumbuh rapat.
Tantangan terbesar adalah ketelatenan dan pemahaman terhadap karakter tanaman. Tidak semua varietas padi mudah digunakan untuk membentuk gambar.

“Yang kami gunakan varietas Inpari 32 jenis Black Madras karena cenderung tumbuh tegak sehingga lebih mudah digunakan untuk membentuk pola,” sambungnya.

Menurut Gunawan, pari corek bukan sekadar karya seni. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu cara meningkatkan pendapatan petani tanpa harus mengalihfungsikan lahan persawahan. Ia melihat semakin banyak lahan pertanian di wilayahnya yang berubah menjadi permukiman. Di sisi lain, banyak petani hanya memiliki lahan sawah yang relatif sempit sehingga hasil panennya terbatas.

“Saya berpikir, piye carane petani bisa mendapat hasil lain selain panen dari sawah yang mereka miliki. Saya berharap sawah ini tetap lestari karena lahan sawah di sini semakin menyempit dan banyak dibangun rumah,” katanya.

Karena itu, ia bersama sejumlah anak muda mulai membentuk kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Pari Corek. Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mengembangkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan pertanian. Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah menambahkan sejumlah gubuk di area persawahan. Gubuk tersebut nantinya dibuat dengan konsep yang menarik sehingga dapat menjadi tempat beristirahat sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Lokasi sawah yang berada di belakang Lodji Londo miliknya dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata pertanian.

“Tamu-tamu Lodji Londo mungkin bisa menyewa untuk duduk-duduk menikmati sawah. Hasil sewanya nanti untuk petani. Harapannya seperti itu,” ujarnya.

Ke depan, ia juga berencana mengembangkan pari corek menggunakan varietas padi dengan warna daun yang lebih beragam. Ia berharap dapat mendatangkan bibit dari Jepang yang memiliki warna daun putih, abu-abu, merah hingga kuning sehingga pola gambar yang dibuat di sawah semakin variatif.

Selain itu, kelompoknya berencana mengembangkan kegiatan edukasi ke sekolah, khususnya sekolah yang bergerak di bidang pertanian. Edukasi tersebut diharapkan dapat memperkenalkan cara memanfaatkan lahan sawah melalui sentuhan seni sekaligus meningkatkan nilai ekonomi pertanian.

“Harapan kami, bagaimana sawah tetap lestari dan petani bisa mendapatkan pendapatan lebih. Salah satunya melalui pari corek,” tandasnya. (win)

BACA JUGA :

Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional
Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Rencana pengalihan status guru PPPK dari pemerintah daerah menjadi pegawai pemerintah pusat mulai 2027 mendapat perhatian Pemkab Semarang. BKPSDM Kabupaten Semarang menyatakan masih menunggu petunjuk teknis resmi pemerintah pusat, terutama terkait administrasi, pembiayaan, pembinaan, kewenangan, serta mekanisme pengelolaan ribuan guru PPPK dan PNS di daerah.
4.200 PPPK Guru di Kabupaten Semarang Berpotensi Diambil Alih Pusat, BKPSDM Tunggu Juknis

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak masyarakat aktif memeriksa data kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk desil yang tercatat, di Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026). Warga dapat menyanggah data yang tidak sesuai melalui laman kementerian agar penyaluran bantuan dan program pemberdayaan lebih tepat sasaran.
Warga Diminta Aktif Cek Data Desil dan Sanggah Data DTSEN
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved