RASIKAFM.COM | UNGARAN — Keinginan untuk menenangkan diri dengan bersemedi yang belum kesampaian justru dituangkan Sidik Gunawan, seniman asal Sidorejo, Bergas Lor, Kabupaten Semarang, ke dalam karya seni pari corek. Gunawan (sapaan akrabnya) menggambar sosok Sang Buddha yang sedang bersemedi di hamparan sawah seluas sekitar 1.200 meter persegi. Karya tersebut dibuat menggunakan dua varietas padi dengan karakter warna berbeda, yakni padi berdaun hijau dan padi Black Madras yang memiliki daun berwarna gelap.
Gunawan mengatakan, gambar Buddha dalam posisi bersemedi tersebut memiliki makna personal baginya. Keinginan untuk bersemedi muncul setelah ia kehilangan sang istri. Ia kemudian bertemu dengan seorang tokoh Buddhis yang akrab disapanya Romo Puji. Kepada Romo Puji, Gunawan sempat mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pertapa.
“Saya bilang ke Romo, ‘Mo, piye carane dadi pertapa, aku kok pengin dadi pertapa.’ Terus banyak ngobrol dengan Romo. Saya malah disarankan tidak usah jadi pertapa dulu. Katanya, saya punya keahlian menggambar, kenapa tidak menggambar Buddha untuk acara Asadha,” katanya ditemui di Kafe Lodji Londo miliknya, Rabu (26/8/2026).
Dari percakapan tersebut, Gunawan kemudian membuat karya pari corek bergambar Buddha dalam posisi bersemedi. Menurutnya, posisi tersebut sekaligus menjadi simbol keinginannya untuk mencari ketenangan melalui pertapaan.
“Waktu itu saya ingin sekali menenangkan diri dengan bersemedi. Untuk sementara diwujudkan melalui gambar,” ujarnya.
Karya pari corek yang kini digelutinya berawal dari kehidupannya sebagai petani. Ide tersebut muncul setelah seorang rekannya dari Yogyakarta memberikan bibit padi Black Madras yang memiliki daun berwarna gelap.
“Saya coba tanam, ternyata memang daunnya berwarna hitam. Ada juga yang bilang itu padi wulung,” tuturnya.
Perbedaan warna daun tersebut kemudian memunculkan gagasan untuk membuat gambar di lahan persawahan. Gunawan mencoba menggambar wajahnya sendiri dengan memanfaatkan perbedaan warna antara padi hijau dan padi berdaun hitam. Percobaan pertama belum sempurna. Namun, bentuk wajah yang dibuatnya tetap dapat dikenali. Dari pengalaman itu, ia terus mempelajari karakter masing-masing varietas padi hingga teknik pari corek yang dibuatnya semakin berkembang. Sejumlah tokoh pernah dituangkan dalam karya tersebut, antara lain Ganjar Pranowo, Joko Widodo, Bung Karno, Sudaryono yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, hingga Presiden Prabowo Subianto.
“Pertama buat desain dan sketsa gambar, kemudian skalanya diperbesar hingga ratusan kali untuk disesuaikan dengan ukuran sawah,” ungkapnya.
Setelah padi yang disemai berumur sekitar 20 hari, proses penanaman untuk membentuk gambar dilakukan. Ia menggunakan benang sebagai garis patokan agar posisi tanaman sesuai dengan pola yang telah dibuat. Proses penanaman harus dilakukan secara cepat. Untuk satu gambar, seluruh proses penanaman maksimal diselesaikan dalam waktu sekitar satu pekan.
“Kalau lebih dari satu minggu biasanya gambar tidak sempurna karena pertumbuhannya berbeda. Yang satu sudah rapat, yang di sini masih jarang,” jelasnya.
Setelah penanaman selesai, gambar baru mulai terlihat jelas sekitar satu setengah bulan kemudian, ketika tanaman padi mulai tumbuh rapat.
Tantangan terbesar adalah ketelatenan dan pemahaman terhadap karakter tanaman. Tidak semua varietas padi mudah digunakan untuk membentuk gambar.
“Yang kami gunakan varietas Inpari 32 jenis Black Madras karena cenderung tumbuh tegak sehingga lebih mudah digunakan untuk membentuk pola,” sambungnya.
Menurut Gunawan, pari corek bukan sekadar karya seni. Inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu cara meningkatkan pendapatan petani tanpa harus mengalihfungsikan lahan persawahan. Ia melihat semakin banyak lahan pertanian di wilayahnya yang berubah menjadi permukiman. Di sisi lain, banyak petani hanya memiliki lahan sawah yang relatif sempit sehingga hasil panennya terbatas.
“Saya berpikir, piye carane petani bisa mendapat hasil lain selain panen dari sawah yang mereka miliki. Saya berharap sawah ini tetap lestari karena lahan sawah di sini semakin menyempit dan banyak dibangun rumah,” katanya.
Karena itu, ia bersama sejumlah anak muda mulai membentuk kelompok tani yang diberi nama Kelompok Tani Pari Corek. Kelompok tersebut diharapkan menjadi wadah untuk mengembangkan berbagai inovasi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan pertanian. Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah menambahkan sejumlah gubuk di area persawahan. Gubuk tersebut nantinya dibuat dengan konsep yang menarik sehingga dapat menjadi tempat beristirahat sekaligus menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Lokasi sawah yang berada di belakang Lodji Londo miliknya dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata pertanian.
“Tamu-tamu Lodji Londo mungkin bisa menyewa untuk duduk-duduk menikmati sawah. Hasil sewanya nanti untuk petani. Harapannya seperti itu,” ujarnya.
Ke depan, ia juga berencana mengembangkan pari corek menggunakan varietas padi dengan warna daun yang lebih beragam. Ia berharap dapat mendatangkan bibit dari Jepang yang memiliki warna daun putih, abu-abu, merah hingga kuning sehingga pola gambar yang dibuat di sawah semakin variatif.
Selain itu, kelompoknya berencana mengembangkan kegiatan edukasi ke sekolah, khususnya sekolah yang bergerak di bidang pertanian. Edukasi tersebut diharapkan dapat memperkenalkan cara memanfaatkan lahan sawah melalui sentuhan seni sekaligus meningkatkan nilai ekonomi pertanian.
“Harapan kami, bagaimana sawah tetap lestari dan petani bisa mendapatkan pendapatan lebih. Salah satunya melalui pari corek,” tandasnya. (win)






