URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Dalam sepekan ini hampir semua media di tanah air memberitakan terkait adanya silang pendapat antara Prof.Dr. Seto Mulyadi. "Saya sungguh menyayangkan, mengapa hal tersebut terjadi ? Apakah tidak sebaiknya dicari jalan keluar secara bersama, bertemu ibarat (kakak-adek) seperti dulu-dulu,"terang Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jawa Tengah, Samsul Ridwan

Mbak Google

KABAR RASIKA

Buntut Perseteruan Kak Seto – Arist Merdeka Sirait, Ketua LPAI Jateng “Saya Turut Prihatin, Akhiri Itu Segera”

Buntut Perseteruan Kak Seto – Arist Merdeka Sirait, Ketua LPAI Jateng “Saya Turut Prihatin, Akhiri Itu Segera”

Buntut Perseteruan Kak Seto – Arist Merdeka Sirait, Ketua LPAI Jateng “Saya Turut Prihatin, Akhiri Itu Segera”

Ketua LPAI Jateng Samsul Ridwan (Poto dok ist)
Ketua LPAI Jateng Samsul Ridwan (Poto dok ist)
featured-img

Dalam sepekan ini hampir semua media di tanah air memberitakan terkait adanya silang pendapat antara Prof.Dr. Seto Mulyadi atau yang akrab dipanggil kak Seto dengan Arist Merdeka Sirait atau akrab dipanggil bang Arist.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jawa Tengah, Samsul Ridwan, mengatakan, secara pribadi lebih dari 15 tahun dengan mereka berdua, Kak Seto Mulyadi dan Arist Merdeka Sirait.

“Saya dekat dengan beliau berdua, dan bahkan dengan keduanya saya pernah mendampinginya masing-masing saat saya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal (sekjen) baik di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI),”katanya.

Karena cukup lama bersama dalam berbagai aktivitas dengan kedua sahabat tersebut, lanjut Samsul, maka secara pribadi saya banyak mengetahui karakter, keunggulan dan bahkan kekurangan masing-masing yang mungkin publik tidak banyak mengetahuinya.

“Terus terang saat ini saya prihatin saat mencermati di berbagai pemberitaan media terkait paska keduanya menghadiri sidang di PN malang kemarin,”ungkapnya.

Samsul menambahkan, kedua sahabat saya tersebut hadir dalam acara meskipun di hari dan waktu berbeda, dan akhirnya memunculkan kesan konflik tajam yang seakan akan hal tersebut benar terjadi. Di beberapa statemen terdapat narasi menyudutkan.

“Saya sungguh menyayangkan, mengapa hal tersebut terjadi ? Apakah tidak sebaiknya dicari jalan keluar secara bersama, bertemu ibarat (kakak-adek) seperti dulu-dulu,”terangnya.

“Andaipun ada perasaan dan cara pandang berbeda, bukankan lebih baik diselesaikan secara lebih arif, menahan diri untuk tidak mudah mengumbar pernyataan keluar terbuka yang pasti akan dipersepsikan oleh publik secara beragam dan bahkan membingungkan,”tandasnya.

Bukankah jika kita saling ribut, saling sudut maka para predator anak akan riuh bertepuk tangan dan mereka tertawa terbahak-bahak?

“Ayo saling merangkul, tahan kata, jangan lagi saling memukul, damaikan jiwa, raih mimpi bersama wujudkan Indonesia Ramah Anak, Salam dari shahabat yang saat ini tinggal di Kampoeng,”pungkas pria yang juga pernah menjabat Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak

BACA JUGA :

pilkades 2026
Pilkades Kabupaten Semarang Tahap Pertama Digelar 14 Desember 2026, 140 Desa Bersiap
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5.000 Persen, Industri Jadi Motor Pertumbuhan