KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Dari Petruk Sampai Musang King, Legitnya Durian Tuntang Laris Manis Diserbu Pembeli

Dari Petruk Sampai Musang King, Legitnya Durian Tuntang Laris Manis Diserbu Pembeli

Dari Petruk Sampai Musang King, Legitnya Durian Tuntang Laris Manis Diserbu Pembeli

Seorang pembeli sedang memilih durian di sebuah kios durian yang ada di Desa Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (10/1/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Durian Tuntang, Kabupaten Semarang, kembali menjadi buruan para pencinta durian. Pada musim panen, penjualan durian di kawasan ini bisa mencapai ratusan buah setiap harinya.

Salah satu pedagang durian Tuntang, Ratih Puspitasari, mengungkapkan bahwa dalam sehari ia mampu menjual hingga 250 buah durian. Usaha yang telah dijalani turun-temurun hingga generasi ketiga ini mengalami lonjakan pembeli terutama pada momen tertentu, seperti pergantian tahun dan menjelang Lebaran.

“Kalau panen dari pohon sendiri bisa dapat sekitar 150 buah, ditambah setoran 20 sampai 25 buah. Sehari bisa habis 250 buah. Paling ramai kemarin bulan Desember saat pergantian tahun, dan biasanya nanti juga ramai saat Lebaran,” ujar Ratih, Sabtu (10/1/2026).

Durian Tuntang diminati pembeli dari berbagai daerah, mulai dari Semarang, Jakarta, hingga Surabaya. Beragam jenis durian lokal tersedia, di antaranya petruk mrican, ketan, musang king, bawur, motong, duri hitam, tembaga, dan matahari. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Rp20 ribu hingga Rp100 ribu per buah.

Masa panen durian Tuntang berlangsung dari November hingga April. Namun, Ratih mengaku panen kedua sempat mengalami kegagalan akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan bunga durian gugur.

Menariknya, meski berjualan durian sejak kecil, Ratih mengaku tidak menyukai buah tersebut. Untuk memastikan kualitas rasa durian yang dijual, ia mengandalkan penciuman aroma.

“Dari baunya saja sudah tahu ini manis, pahit, atau manis pahit. Sejak kecil memang tidak suka durian, tapi orang tua dan nenek sudah jualan, jadi saya teruskan,” katanya.

Saat tidak musim durian lokal, Ratih tetap berjualan dengan mendatangkan durian dari daerah lain seperti Wonosobo, Pekalongan, dan Boja, Kendal. Khusus bulan Oktober, durian didatangkan dari Sumatera. Meski harganya lebih murah, menurut Ratih, durian dari luar daerah memiliki risiko kualitas yang lebih tinggi.

“Enam bulan jualan, enam bulan libur. Kalau dari luar memang lebih murah, tapi risikonya juga lebih besar,” ungkapnya.

Salah satu pembeli, Bayu, rela jauh-jauh dari Kota Semarang untuk menikmati durian ketan di kios milik Ratih.

“Sudah langganan, kalau musim durian pasti ke sini. Favoritnya durian ketan, rasanya legit dan pulen,” kata dia. (win)

Kabar Terkini

POPULER

Trans Banyumas Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Trans Banyumas: Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelas pada Rabu (23/9/2026). R mengalami sejumlah memar, luka di belakang telinga, bibir pecah, serta trauma setelah kejadian. Pihak sekolah mengaku telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat dan menyiapkan pembinaan serta upaya pemulihan kondisi psikologis korban.
Diduga Jadi Korban Perundungan Berulang, Siswa SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Alami Luka hingga Trauma
[pekok2]