URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Semar Gugat menggelar aksi tanda tangan massal menolak rencana pengeboran geothermal Gunung Ungaran di Basecamp Kendalisodo, Desa Samban, Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (2/9/2026). Mereka meminta rencana tersebut dikaji serius karena khawatir aktivitas pengeboran berdampak terhadap lingkungan dan sumber air masyarakat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Gelombang Penolakan Pengeboran Gunung Ungaran Mulai Muncul, Sejumlah Komunitas Galang Tanda Tangan Massal

Gelombang Penolakan Pengeboran Gunung Ungaran Mulai Muncul, Sejumlah Komunitas Galang Tanda Tangan Massal

Gelombang Penolakan Pengeboran Gunung Ungaran Mulai Muncul, Sejumlah Komunitas Galang Tanda Tangan Massal

Sejumlah warga dan komunitas yang tergabung dalam Aliansi Semar Gugat menggalang tanda tangan massal penolakan pengeboran Gunung Ungaran untuk PLTP (geothermal), di basecamp Kendalisodo, Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (2/9/2026) sore. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Gelombang penolakan terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geothermal di Gunung Ungaran mulai muncul. Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Semar Gugat menggelar aksi tanda tangan massal sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pengeboran Gunung Ungaran. Aksi tersebut digelar di Basecamp Kendalisodo, Desa Samban, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (2/9/2026) sore.

Salah satu masyarakat yang turut menyuarakan penolakan adalah Parmin, aktivis di Kabupaten Semarang. Ia mengaku khawatir rencana pengeboran tersebut justru menimbulkan dampak yang sulit dikendalikan dan berpotensi menjadi beban bagi generasi mendatang.

“Seperti kejadian lumpur Lapindo di Sidoarjo, manusia tidak mampu mengatasi. Saya punya anak cucu di Kabupaten Semarang. Jangan sampai anak cucu saya nanti menjadi korban atas kesalahan pengeboran Gunung Ungaran,” kata Parmin.

Menurutnya, alam seharusnya dijaga dan dirawat, bukan dieksploitasi tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul.

“Gunung Ungaran ini adalah gunung api yang sedang tidur. Dulu Gunung Ungaran pernah meletus dahsyat. Sekarang sudah tidur, makanya jangan dirusak.”

“Ibarat macan kalau tidur jangan digurah (dibangunkan), nanti ngamuk. Kita sebagai manusia tidak akan mampu menanggulangi kalau sampai terjadi sesuatu,” katanya.

Ia menilai manusia merupakan bagian dari alam yang kehidupannya bergantung pada ketersediaan air, tanah, udara, dan sumber daya alam lainnya. Karena itu, menurut dia, setiap upaya pemanfaatan sumber daya alam harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

“Oleh karena itu, mari kita tolak adanya pengeboran Gunung Ungaran. Ini sangat berisiko tinggi. Saya selaku orang tua hanya bisa menasihati anak cucu agar mereka tidak menjadi korban,” ujarnya.

Sementara itu, pelaku budaya di Kabupaten Semarang, Sutikno, mengatakan Gunung Ungaran memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat, khususnya dalam menyediakan sumber air dan mendukung sektor pertanian.

“Ini betul-betul simbol Ibu Pertiwi yang menghidupi, baik air maupun tanamannya, sehingga menjadi berkah bagi para petani,” kata Sutikno.

Ia mengatakan kekhawatiran terhadap rencana pemanfaatan panas bumi di Gunung Ungaran bukan kali pertama disuarakan. Menurutnya, para budayawan dan seniman di Kabupaten Semarang pernah melakukan penolakan serupa pada 2010.

“Di tahun 2010 kami bersama para budayawan dan rekan-rekan seniman pernah menolak hal itu. Dengan pertimbangan yang sungguh bijak, kemudian pengeboran dibatalkan,” ujarnya.

Sutikno kini kembali mempertanyakan rencana pengeboran tersebut. Ia khawatir aktivitas pengeboran dan pemanfaatan panas bumi dapat memengaruhi keberadaan sumber air di kawasan Gunung Ungaran.

“Apakah mereka belum mempelajari dulu tentang hidrologinya? Karena akibatnya sungguh akan menguras air yang terkandung di Gunung Ungaran. Itu yang menjadi kekhawatiran kami,” katanya.

Menurutnya, dampak yang dikhawatirkan tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar Gunung Ungaran, tetapi juga wilayah yang bergantung pada sumber air dari kawasan tersebut.

“Tidak hanya masyarakat Kabupaten Semarang, tetapi sampai seluruh Semarang dan Kendal. Bahkan sumber air yang kita manfaatkan di Jawa Tengah juga ada yang berasal dari Gunung Ungaran,” ujarnya.

Ia mencontohkan keberadaan Kali Garang yang selama ini menjadi salah satu sumber air penting. Karena itu, ia berharap kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan dari proyek geothermal tersebut mendapat perhatian serius.

“Bagaimana kalau Kali Garang menjadi Kali Garing? Yang kekeringan itu akan merusak lingkungan. Biarlah mereka berkata tidak akan terjadi apa-apa, tetapi kekhawatiran kita ketika itu terjadi, air nanti akan tiada lagi dan kita akan kekeringan,” pungkasnya. (win)

BACA JUGA :

Rencana pembangunan PLTP di kawasan Gunung Ungaran berpotensi berdampak pada sekitar 540 KK di Dusun Darum, Ngipik, dan Talun, Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang. Hingga Rabu (2/9/2026), pemerintah desa mengaku belum menerima informasi resmi maupun sosialisasi terkait proyek tersebut dan meminta keterbukaan kepada masyarakat.
Ratusan KK di Desa Candi Berpotensi Terdampak Geothermal Gunung Ungaran
Kota Salatiga meraih juara I kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan dalam Apresiasi Pemda Berprestasi Regional Jawa-Bali 2026 Batch II yang digelar Kemendagri pada 28 Agustus 2026. Atas capaian tersebut, Salatiga mendapat dukungan Rp2 miliar untuk memperkuat akses dan kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat.
Bukan Kaleng-kaleng! Kota Salatiga raih Prestasi di Bidang Pendidikan
Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.
Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak
DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum dan kampanye antikorupsi kepada sekitar 150 siswa SMAN 3 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah, Senin. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran hukum, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengenalkan bahaya HIV/AIDS serta pengelolaan sampah kepada para pelajar.
JMS di SMAN 3 Salatiga, Gandeng Berbagai Pihak, “Wujudkan Generasi Emas Anti Korupsi”
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah
Penerima Bansos Terindikasi Judol Bakal Dicoret, Dinsos Kabupaten Semarang Buka Pengajuan Sanggahan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved