RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Semarang menunjukkan tren penurunan sepanjang semester pertama 2026. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Semarang menegaskan perlindungan terhadap anak, terutama anak berkebutuhan khusus atau anak inklusi, tetap menjadi perhatian serius.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Semarang, Dewanto Leksono, mengatakan berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat dalam tiga tahun terakhir sebelum akhirnya menurun pada 2026. Pada 2023 tercatat 107 kasus, meningkat menjadi 126 kasus pada 2024, kemudian kembali naik menjadi 142 kasus pada 2025. Dari jumlah itu, korban masih didominasi oleh anak-anak.
“Kalau melihat trennya, tahun 2023, 2024, dan 2025 memang meningkat. Tapi di semester pertama tahun 2026 alhamdulillah jumlahnya menurun menjadi 35 kasus,” ujar Dewanto usai peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tingkat Kabupaten Semarang di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Kamis (23/7/2026).
Ia mengungkapkan, salah satu kasus yang saat ini tengah ditangani merupakan dugaan kekerasan seksual terhadap seorang anak penyandang disabilitas. Kasus tersebut kini masih dalam proses pendampingan oleh DP3AKB bersama aparat kepolisian.
“Ada laporan terkait anak disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual. Saat ini sedang kami dampingi dan diproses oleh kepolisian,” katanya.
Menurut Dewanto, anak penyandang disabilitas maupun anak berkebutuhan khusus memiliki kerentanan lebih tinggi sehingga membutuhkan perlindungan bersama dari seluruh elemen masyarakat. Karena itu, peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Kabupaten Semarang mengusung tema berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan mengajak anak-anak reguler bermain bersama anak inklusi.
“Kami ingin menghapus sekat dan stigma terhadap anak berkebutuhan khusus sekaligus meminimalkan praktik perundungan. Semua anak memiliki hak yang sama, termasuk anak inklusi. Harapannya mereka bisa bergaul, bermain, dan berbahagia bersama teman-temannya tanpa ada pembeda,” lanjutnya.
Sementara itu, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menegaskan perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat. Selain mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pendidikan karakter anak dan pencegahan bullying, Pemkab Semarang juga menyiapkan dukungan khusus bagi anak inklusi.
“Tahun 2027 kami berencana memberikan beasiswa kepada sekitar 1.682 anak inklusi mulai jenjang TK, SD, MI, SMP hingga MTs. Masing-masing anak direncanakan menerima bantuan sebesar Rp500 ribu,” ungkapnya.
Selain bantuan pendidikan, Pemkab Semarang juga akan terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif melalui penguatan kompetensi guru dan perbaikan sarana prasarana sekolah secara bertahap agar seluruh anak dapat memperoleh layanan pendidikan yang setara.
“Sekarang ‘kan anak-anak inklusi campur dengan anak-anak yang lainnya. Tidak boleh disendirikan. Maka, secara bertahap juga kaitanya infrastruktur, ini juga menjadi prioritas pemerintah daerah, secara bertahap kita benahi agar sekolah menjadi ramah difabel,” pungkasnya. (win)









