KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Kisah Narimah dan Eulisa, Santri Lansia Asal Wamena dan Aceh Menimba Ilmu Saat Pesantren Ramadan di PKRR

Kisah Narimah dan Eulisa, Santri Lansia Asal Wamena dan Aceh Menimba Ilmu Saat Pesantren Ramadan di PKRR

Kisah Narimah dan Eulisa, Santri Lansia Asal Wamena dan Aceh Menimba Ilmu Saat Pesantren Ramadan di PKRR

Pondok Pesantren (Ponpes) Kasepuhan Raden Rahmat (PKRR) yang terletak di Dusun Gedong, Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang, memiliki ciri khas unik dengan menampung santri lanjut usia (lansia). Saat memasuki bulan Ramadan, PKRR mengadakan serangkaian kegiatan, termasuk Pesantren Ramadan, yang diikuti oleh ratusan santri lokal dan beberapa dari luar pulau Jawa.
Foto: IST
Para santri lansia di Ponpes Kasepuhan Raden Rahmat, Banyubiru, Kabupaten Semarang mengikuti kajian dalam program Pesantren Ramadan Lansia, Rabu (20/3/2024).

RASIKAFM.COM | BANYUBIRU – Pondok Pesantren (Ponpes) Kasepuhan Raden Rahmat (PKRR) yang berada di Dusun Gedong, Desa Gedong, Banyubiru, Kabupaten Semarang memiliki keunikan tersendiri. Sesuai namanya, ponpes ini dikhususkan bagi santri lanjut usia (lansia).

Memasuki bulan Ramadan, ponpes di bawah Yayasan Pitutur Luhur ini turut menggelar sejumlah kegiatan, di antaranya Pesantren Ramadan. Tak hanya diikuti oleh ratusan santri lokal saja, sejumlah santri yang berasal dari luar pulau Jawa juga antusias mengikuti program ini.

Adalah Narimah (69), seorang santri lansia asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Ia datang ke PKRR sejak 6 Januari 2024 usai mendapatkan informasi tentang ponpes khusus lansia ini dari sebuah tayangan televisi beberapa tahun lalu.

“Saya ambil program Tombo Ati selama 4 bulan, insyaAllah nanti bulan Mei selesai dan pulang ke Wamena,” kata dia ditemui di PKRR, Rabu (20/3/2024).

Narimah mengaku di Wamena sebenarnya ada majelis pengajian yang diikutinya. Akan tetapi, dari 11 orang kini tinggal 3 orang saja. Semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu inilah yang akhirnya membawanya ke PKRR.

“Alhamdulillah di sini hawanya sejuk. Di Wamena lebih dingin lagi, sampai 14 derajat suhunya. Intinya saya merasa nyaman, bisa istirahat sambil mengaji,” ujarnya.

Di bulan Ramadan ini, ia memiliki target untuk bisa membaca alquran dengan lancar. Harapan besarnya adalah seperti misi PKRR yakni berpulang ke haribaan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah.

“Niat ingsun saya hanya satu, bisa mengaji. Sehingga nanti ketika dipanggil Allah penuh rasa bahagia, husnul khatimah,” harapnya.

Lain halnya dengan Eulisa Fajriana (65), santri lansia asal Kabupaten Bintang, Aceh Tengah. Ia sengaja “nyantri” di PKRR untuk mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan keagamaan. Ia mengaku mengetahui ponpes ini dari YouTube, lalu mencoba mencari referensi yang lain dan ditakdirkan di sini.

“Saya rencananya mondok 3 pekan selama Ramadan, tapi nggak tahu kalau nanti berubah. Niatnya dekat dengan cucu dan kerabat, karena ada keluarga di Solo,” bebernya.

Pada awalnya ia tidak memiliki ekspetasi yang tinggi ketika memutuskan untuk menjadi santri di PKRR. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia menemukan sesuatu yang berbeda mengenai penerapan pembiasaan serta metode belajar alquran.

“Ternyata metodenya lain, beda dengan cara saya belajar di Aceh yang hanya sepatah-sepatah. Di sini menjadi lebih paham bagaimana makhraj yang benar,” paparnya.

Eulisa mengaku, saat ini ia bersama keluarga besarnya sedang merintis sebuah ponpes bagi para lansia di Aceh. Sekembalinya dari menimba ilmu di PKRR, ia berencana mengembangkan metode penerapan pembiasaan dan belajar alquran di Aceh.

“Caranya dengan mengaplikasikan kurikulum yang ada di sini, tentunya atas seizin para pengurus. Semoga dibolehkan dan direstui,” harapnya.

Sementara Wakil Direktur PKRR Maulida Al Munawaroh menerangkan saat ini terdapat tidak kurang dari 300 santri mukim dan 665 santri non mukim yang tersebar di 12 kecamatan se-Kabupaten Semarang. Tahun ini adalah tahun kedua pengadaan Pesantren Ramadan Lansia.

“Kali ini memang cukup padat seperti ponpes pada umumnya, tahajud dan kajian lain yang sifatnya memenuhi wawasan lansia. Terbaru ada program berbagi, alhamdulillah kemarin terkumpul 30 paket yang dibagikan ke santri non mukim kurang mampu,” terangnya.

Diakui Maulida, pihaknya menghadapi sejumlah tantangan dalam melayani para santri lansia ini. Secara ilmiah, usia yang tidak lagi muda menyebabkan penurunan fisik dan kognitif. Tidak hanya penerimaan informasi, melainkan ada beberapa hal yang harus diulangi terus menerus, misal memilah sampah, membersihkan alat makan, sampai dengan masalah ibadah termasuk salat.

“Di luar itu semua, kami bersyukur bisa mengambil ilmu dari mereka. Bagaimanapun juga, mereka pernah muda sementara kami belum merasakan menjadi sepuh,” tandasnya.

Sebagai informasi, PKRR mengusung konsep ecoterapi, yaitu terapi ruhani dan psikologi dengan memanfaatkan alam. Para santri lansia tidak hanya belajar agama tetapi juga mengisi kegiatan harian dengan aktivitas produktif seperti bercocok tanam, meracik obat-obatan herbal hingga membuat keterampilan.

Dengan kurikulum rojiro (olahrogo, olahjiwo, olahroso) PKRR memosisikan diri sebagai lembaga yang melayani para lansia secara komprehensif, agamis, medis dan psikologis. Harapannya, di ujung usianya, para lansia tetap produktif, mandiri, sehat, dan memiliki spiritual yang baik. (win)

Knowledge

Tidak ada postingan.

Kabar Terkini

POPULER

Suasana Hening Iringi Pembukaan Tenis Meja Porprov Jateng, Doa Mengalir untuk Syabilla
Suasana Hening Iringi Pembukaan Tenis Meja Porprov Jateng, Doa Mengalir untuk Syabilla
Bakal calon Kepala Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Hermawan Sigit atau Nanang, menyiapkan sejumlah gagasan pembangunan yang mencakup perbaikan tata kelola pemerintahan, pengembangan UMKM, optimalisasi wisata lokal, dan pengelolaan sampah rumah tangga. Ia mengusung visi masyarakat religius, maju, sejahtera, dan mandiri dengan mengedepankan partisipasi warga serta penerapan program secara bertahap.
Bertarung dalam Pilkades Cukilan, Hermawan Sigit siapkan sejumlah Jurus Jitu, “urip kudu urup”
Kontingen sambo Kota Salatiga meraih tiga medali emas, satu perak, dan satu perunggu pada hari pertama Porprov Jawa Tengah 2026, Kamis (22/10). Medali emas dipersembahkan Michel Angelo, Nanda Bagus Yuniarta, dan Rendi Dwi Kuncoro. Sementara itu, Pradipa Bagaskara Pratama meraih perak dan Surya Adji Nugroho menyumbangkan perunggu.
Sambo Salatiga Borong Tiga Emas dalam Porprov Jateng
Persaingan cabang olahraga biliar dalam Porprov Jawa Tengah XVII 2026 di Kabupaten Semarang menghadirkan kejutan dengan tumbangnya sejumlah atlet unggulan. Hingga Rabu (28/10/2026), sebanyak 10 dari 15 nomor pertandingan telah selesai digelar. Sebanyak 112 atlet dari 29 kabupaten/kota mengikuti kompetisi yang berlangsung di J_Pool Billiard and Cafe dan Kingdom Billiard hingga Jumat (30/10/2026).
Kejutan di Cabor Biliar Porprov Jateng XVII, Sejumlah Unggulan Tumbang
[pekok2]