RASIKAFM.COM | SALATIGA – Pemerintah mengubah strategi perang melawan tuberkulosis (TBC). Jika selama ini penderita datang sendiri ke fasilitas kesehatan, kini petugas justru mendatangi masyarakat untuk memburu kasus yang belum terdeteksi. Langkah luar biasa (extraordinary) itu ditempuh agar target menemukan 1,08 juta penderita TBC sepanjang 2026 bisa tercapai.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus saat menyerahkan sertifikat sembuh kepada sembilan pasien tuberkulosis resisten obat (TB RO) di Poliklinik TB SO RRP RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, Senin (29.6.2026).
Benjamin mengungkapkan, hingga pertengahan tahun ini pemerintah baru menemukan sekitar 800 ribu penderita TBC. Artinya, masih ada ratusan ribu kasus yang diperkirakan belum terdiagnosis dan berpotensi terus menularkan penyakit di lingkungan sekitarnya.
“Yang kita kejar bukan sekadar angka, tetapi orang-orang yang belum mengetahui dirinya menderita TBC. Semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati dan rantai penularan bisa diputus,” katanya.
Menurut dia, peluang kesembuhan TBC sebenarnya sangat tinggi. Tingkat keberhasilan pengobatan bahkan mencapai lebih dari 90 persen apabila pasien ditemukan lebih awal dan menjalani terapi hingga tuntas. Karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah menemukan penderita yang masih tersembunyi di tengah masyarakat.
Salah satu strategi yang dijalankan adalah skrining aktif dari rumah ke rumah. Di Kota Salatiga, sekitar 1.000 rumah akan menjadi sasaran pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Setiap anggota keluarga akan diperiksa, termasuk menjalani pemeriksaan TBC bila diperlukan.
Langkah tersebut dilakukan karena penularan TBC paling banyak terjadi di lingkungan keluarga. Seseorang yang tinggal serumah dengan pasien memiliki risiko tinggi terpapar bakteri. Meski demikian, orang yang tertular belum tentu langsung sakit. Sebagian hanya mengalami infeksi laten sehingga tidak bergejala, namun tetap perlu diketahui agar dapat ditangani sesuai prosedur.
Karena itu, setiap kali ditemukan satu pasien TBC, seluruh anggota keluarga akan ditelusuri dan diperiksa, termasuk menggunakan foto rontgen dada. Pemerintah ingin memastikan tidak ada penderita yang luput dari pengobatan.
Benjamin juga menilai keberadaan kader TBC menjadi ujung tombak keberhasilan program eliminasi TBC. Para kader menjadi penghubung antara tenaga kesehatan dengan masyarakat, mulai dari edukasi, penemuan suspek, pendampingan minum obat, hingga memastikan pasien menyelesaikan pengobatan.
Sebagai bentuk keberhasilan pengobatan, Wamenkes menyerahkan sertifikat sembuh kepada sembilan pasien TB resisten obat yang telah disiplin menjalani terapi selama enam bulan. Meski telah dinyatakan sembuh, mereka tetap diwajibkan menjalani kontrol berkala setiap tiga hingga enam bulan untuk memastikan penyakit tidak kembali muncul.
Sementara itu, Wali Kota Salatiga Dr. Robby Hernawan berharap RS Paru dr. Ario Wirawan tetap mempertahankan fokus sebagai rumah sakit spesialis paru. Menurutnya, pengalaman panjang rumah sakit tersebut dalam menangani TBC menjadi modal penting untuk mendukung target nasional eliminasi TBC.









