URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Proyek wisata Jateng Valley di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, hingga kini belum kembali dilanjutkan setelah terhenti sejak pandemi COVID-19. Kondisi tersebut disampaikan warga dan pemerintah kelurahan, Senin (3/8/2026), yang berharap pembangunan segera diteruskan agar kawasan kembali hidup, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Mangkraknya Jateng Valley, Warga Menanti Proyek Wisata Kembali Hidup

Mangkraknya Jateng Valley, Warga Menanti Proyek Wisata Kembali Hidup

Mangkraknya Jateng Valley, Warga Menanti Proyek Wisata Kembali Hidup

Pintu gerbang Jateng Valley yang terletak di kawasan hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Ungaran Timur ditutup seng dan digembok, sementara sejumlah bangunan tampak kusam dan tidak terawat, Senin (3/8/2026). Foto: win
Pintu gerbang Jateng Valley yang terletak di kawasan hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Ungaran Timur ditutup seng dan digembok, sementara sejumlah bangunan tampak kusam dan tidak terawat, Senin (3/8/2026). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Gerbang utama kawasan Jateng Valley di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, kini tampak tertutup rapat. Pagar seng yang digembok, bangunan yang mulai kusam, serta semak belukar yang tumbuh di sekitarnya menjadi gambaran proyek wisata yang hingga kini belum juga berlanjut.

Di balik gerbang yang sunyi itu, Maryam (52), warga sekaligus pedagang makanan yang membuka warung tepat di depan pintu masuk kawasan, menjadi saksi perjalanan proyek yang sempat membawa harapan besar bagi masyarakat.

Menurut Maryam, aktivitas pembangunan mulai terlihat sekitar tahun 2020. Saat itu, puluhan pekerja setiap hari keluar masuk kawasan untuk mengerjakan proyek yang digadang-gadang menjadi destinasi wisata terbesar di Asia Tenggara.

“Awalnya ramai sekali. Banyak pekerja datang setiap hari. Warga juga berharap nanti bisa membuka usaha karena kalau wisatanya jadi tentu pengunjung akan banyak,” ujarnya ditemui di warungnya, Senin (3/8/2026).

Namun, suasana tersebut tidak berlangsung lama. Sejak pandemi Covid-19 melanda, aktivitas pembangunan perlahan berhenti hingga akhirnya proyek benar-benar mangkrak.

“Setelah Covid-19, pekerja sudah tidak ada lagi. Kami sempat berpikir nanti akan dilanjutkan, tetapi sampai sekarang belum ada kabar,” katanya.

Maryam mengaku beberapa kali masih melihat rombongan datang meninjau lokasi. Ia menduga mereka merupakan calon investor, namun kunjungan tersebut tidak pernah berlanjut menjadi pembangunan.

“Pernah ada tamu datang melihat-lihat, mungkin investor. Tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya,” tuturnya.

Berhentinya proyek turut berdampak pada penghasilan warga sekitar. Warung milik Maryam yang dahulu ramai didatangi pekerja maupun pengunjung kini hanya mengandalkan pengguna jalan yang melintas.

“Dulu banyak yang makan, ngopi, sampai bungkus nasi. Sekarang paling hanya orang lewat saja. Rasanya sepi sekali,” ungkapnya.

Sebelum direncanakan menjadi Jateng Valley, kawasan seluas sekitar 372 hektare tersebut dikenal sebagai Wana Wisata Penggaron yang dikelola Perhutani. Kawasan itu menjadi salah satu tujuan wisata alam favorit di Kabupaten Semarang.

Maryam mengenang, setiap musim liburan sekolah kawasan tersebut selalu dipenuhi kegiatan perkemahan. Selain itu, jalur offroad, aktivitas sepeda gunung, hingga penelitian mahasiswa juga rutin digelar di kawasan hutan tersebut.

“Dulu paling ramai saat musim kemah. Saya sering memasak katering untuk peserta kemah. Offroad juga ramai, mahasiswa sering penelitian di sini,” kenangnya.

Meski harga tiket masuk saat itu hanya sekitar Rp6.000, suasana hutan yang asri mampu menarik banyak pengunjung.
Maryam berharap proyek Jateng Valley dapat kembali dilanjutkan sehingga kawasan tersebut hidup kembali dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Kalau bisa diteruskan saja. Sayang kalau dibiarkan seperti ini. Kalau dibangun lagi pasti banyak orang datang dan masyarakat juga bisa ikut mencari rezeki,” harapnya.

Sementara itu, Lurah Susukan, Suhartono, mengatakan pihak kelurahan tidak mengetahui secara rinci perkembangan maupun skema kerja sama proyek Jateng Valley. Menurutnya, pemerintah kelurahan hanya pernah dilibatkan saat sosialisasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada awal rencana pembangunan.

“Setelah sosialisasi memang pembangunan sempat berjalan, tetapi sekarang berhenti dan belum ada informasi lagi mengenai kelanjutannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah fasilitas seperti akses jalan dan gazebo sempat dibangun, namun kawasan tersebut belum pernah beroperasi sebagai destinasi wisata.

Suhartono menambahkan, masyarakat sebenarnya telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut keberadaan Jateng Valley. Melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), lingkungan permukiman di sekitar kawasan ditata, sementara warga juga membentuk kelompok wanita tani sebagai bagian dari persiapan menghadapi potensi meningkatnya kunjungan wisatawan.

“Harapan masyarakat tentu proyek ini bisa dilanjutkan. Yang penting nantinya benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi warga,” pungkasnya. (win)

BACA JUGA :

Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional
Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak masyarakat aktif memeriksa data kesejahteraan dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), termasuk desil yang tercatat, di Jawa Tengah, Rabu (19/8/2026). Warga dapat menyanggah data yang tidak sesuai melalui laman kementerian agar penyaluran bantuan dan program pemberdayaan lebih tepat sasaran.
Warga Diminta Aktif Cek Data Desil dan Sanggah Data DTSEN
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved