KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Pasar Bunga Bandungan, Sentra Florikultura Kabupaten Semarang

Pasar Bunga Bandungan, Sentra Florikultura Kabupaten Semarang

Pasar Bunga Bandungan, Sentra Florikultura Kabupaten Semarang

Kawasan wisata Bandungan di Kabupaten Semarang telah mengalami transformasi yang signifikan, terutama dalam pembangunan Alun-alun Bandungan dan penataan kawasan pasar bunga, sayur, dan buah. Pelaksanaan penataan tersebut berhasil mengurangi kemacetan lalu lintas dan meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Foto: win
Aneka bunga potong tersedia di Pasar Bunga Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang, kini telah bersolek menjadi salah satu primadona daya tarik wisata (DTW). Mulai dari pembangunan Alun-alun Bandungan, hingga penataan kawasan pasar bunga, sayur dan buah.

Dahulu, orang-orang selalu mengeluhkan problem kemacetan lalu lintas hingga kondisi pasar yang semrawut. Para pedagang jajanan, buah, sayur dan bunga berderet memadati sepanjang jalan mulai dari area kantor Kecamatan Bandungan hingga kawasan yang sekarang difungsikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Namun, sejak dilakukan penataan pada 2021 lalu, secara perlahan keluhan masyarakat itu tereliminasi. Para pedagang di Pasar Bandungan lama direlokasi ke tempat baru yang telah disiapkan sebelumnya agar lebih tertata. Salah satunya adalah pasar bunga potong yang sebelumnya memadati sepanjang ruas jalan di depan kantor Kecamatan Bandungan akhirnya dipindahkan ke lokasi yang sekarang, yakni di Desa Jetis, berjarak lebih kurang 1 kilometer dari lokasi yang lama.

Purnomo (36), Direktur BUMDes Jetis Juara menuturkan, saat ini total terdapat 350 orang yang tergabung dalam paguyuban Pasar Bunga Bandungan. Jumlah itu terdiri dari pedagang dan petani bunga. Tidak hanya dari Kecamatan Bandungan saja, melainkan juga dari Kecamatan Sumowono dan Ambarawa.

“Awalnya dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes), sehingga kita bentuk BUMDes pada 2021 baru kemudian menyusul paguyubannya,” ujarnya saat ditemui di Pasar Bunga Jetis, Bandungan, Sabtu (4/11/2023).

Koleksi bunga yang ada di Pasar Bunga Bandungan juga terbilang lengkap. Mulai dari krisan, aneka mawar, peacock, sedap malam, anyelir, hingga daun ceplok piring khas lereng pegunungan ditransaksikan di pasar ini mulai jam 00.00 hingga 09.00 WIB. Harga juga cukup terjangkau, mulai dari Rp5 ribu per ikat untuk jenis bunga peacock hingga Rp20 ribu untuk bunga krisan setiap ikatnya.

“Biasanya untuk keperluan dekorasi. Pengiriman ke Kota Semarang, Solo, Jogja, dan sebagian Jawa Timur,” kata Purnomo.

Keberadaan Pasar Bunga Bandungan ini turut menyumbang PADes Jetis hingga lebih dari Rp200 juta per tahun. Jumlah itu dimungkinkan akan bertambah mengingat saat ini tengah dilakukan pembangunan kios untuk menampung pedagang bunga. Dari berbagai aspirasi yang masuk, setidaknya ada 200 kios yang diusulkan untuk dibangun. Namun, dari pihak BUMDes Jetis Juara untuk sementara akan membangun 150 kios terlebih dahulu.

“Target PADes kita naikkan jadi Rp400 juta per tahun,” ungkapnya.

Untuk memenuhi target itu, para penjual bunga tabur yang selama ini belum ‘menginduk’ ke Pasar Bunga Bandungan diharapkan bisa digandeng. Hal itu sejalan dengan pembangunan dan pengembangan pasar. Semakin cepat pembangunan, maka semakin memudahkan para penjual bunga tabur tersentralisasi.

“Selama ini masih berlokasi di atas (dekat pasar sayur). Harapannya pembangunan segera selesai sehingga bisa ikut ke sini semua,” paparnya.

Melihat animo pembeli yang datang, baik skala kecil ataupun partai besar, tidak dipungkiri perputaran bunga potong yang ditransaksikan terbilang stabil. Peningkatan penjualan akan naik tajam pada momen-momen tertentu, seperti lebaran dan musim hajatan. Saat momen tersebut, bunga potong jamak dijadikan pemanis ruangan serta dekorasi panggung pelaminan.

“Sebenarnya setiap hari standar, perputaran bunga cukup besar dan stabil. Paling menurun saat bulan Suro (Muharam) karena banyak orang tidak menggelar pesta pernikahan,” jelasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Dua pengusaha olahan singkong Salatiga, Tony Anindya dari Argotelo dan Hendardi dari singkong keju D-9, menerima penghargaan dari Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar saat kunjungan ke Kampung Singkong Salatiga, Kamis (15/10/2026). Muhaimin mengapresiasi perkembangan produk lokal serta menyatakan kesiapan pemerintah untuk berkolaborasi dengan pelaku usaha dan industri kreatif di Salatiga.
Hadir di Kampung Telo, Muhaimin Iskandar Beri Penghargaan Pengusaha UMKM Salatiga Berbasis Singkong
Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Semarang masa bakti 2026–2029 resmi dilantik di Pendopo Bupati Semarang, Ungaran, Rabu (14/10/2026). Ketua PWI Jawa Tengah Setiawan Hendra Kelana dan Ketua PWI Kabupaten Semarang Rony Yuwono menekankan pentingnya profesionalisme, integritas, independensi, serta solidaritas wartawan di tengah transformasi digital. Kepengurusan baru juga diharapkan membangun kemitraan konstruktif untuk mendukung pembangunan daerah tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik.
Rony Yuwono Ketua PWI Kabupaten Semarang 2026–2029
Polsek Tengaran, Polres Semarang, memberikan edukasi tentang bahaya narkoba dan pencegahan perundungan kepada 147 siswa SDN Sugihan 01, Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Selasa (13/10/2026). Melalui program Polisi Sahabat Anak (POLSANA), polisi mengajak siswa menghindari narkoba, tidak melakukan kekerasan terhadap teman, serta melaporkan perundungan kepada guru atau orang tua.
Cegah Perundungan, Aipda Joko Sambangi SDN Sugihan 01 Tengaran. Tekankan Siswa harus Saling Menghargai
Kepala Desa petahana Nyatnyono, Parsunto, mengembalikan formulir pencalonan Pilkades pada hari terakhir pendaftaran, Kamis (15/10/2026). Ia kembali maju untuk melanjutkan pembangunan desa dan pengembangan wisata religi yang dinilai belum maksimal. Panitia mencatat delapan orang mengambil formulir, sedangkan tiga bakal calon telah mengembalikannya hingga Kamis pagi.
Parsunto Pilih Hari Terakhir Kembalikan Formulir Pendaftaran Kades Nyatnyono, Berangkat Jalan Kaki Usai Minta Restu Sesepuh
[pekok2]