KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Lama Kunjungan Wisata di Kabupaten Semarang Masih Rendah, Disparta Dorong Promosi Luar Daerah dan Event Malam Hari

Lama Kunjungan Wisata di Kabupaten Semarang Masih Rendah, Disparta Dorong Promosi Luar Daerah dan Event Malam Hari

Lama Kunjungan Wisata di Kabupaten Semarang Masih Rendah, Disparta Dorong Promosi Luar Daerah dan Event Malam Hari

Fort Willem I yang ada di Ambarawa menjadi magnet baru bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Kabupaten Semarang masih menyimpan potensi besar di sektor pariwisata. Dengan bentang alam pegunungan, udara sejuk, serta beragam destinasi alam dan budaya, wilayah ini sejatinya mampu menjadi tujuan wisata unggulan di Jawa Tengah.

Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak maksimal terhadap pergerakan ekonomi daerah. Salah satu indikator yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah rendahnya tingkat lama kunjungan wisatawan yang datang ke Kabupaten Semarang.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Hendrastuti Ikasari, mengungkapkan tingkat lama kunjungan wisatawan di Kabupaten Semarang saat ini masih relatif singkat. Berdasarkan data yang dimiliki, rata-rata lama tinggal wisatawan nusantara hanya 1,17 hari, sementara wisatawan mancanegara 1,57 hari, dengan rata-rata keseluruhan sekitar 1,2 hari atau masih sebatas satu malam.

“Kalau dibandingkan dengan daerah lain yang potensi pariwisatanya luar biasa, tingkat lama kunjungan bisa mencapai tiga hari. Ini berarti kita masih punya PR besar untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (17/1/2026).

Menurut Hendrastuti, rendahnya lama kunjungan tersebut dipengaruhi oleh karakteristik wisatawan yang datang. Mayoritas pengunjung masih berasal dari wilayah sekitar seperti Semarang, Kendal, Kudus, dan Pati, yang tidak membutuhkan akomodasi menginap.

“Wisatawan kita mayoritas masih dari sekitar Semarang saja, jadi mereka datang pulang pergi. Ini yang membuat tingkat hunian dan lama kunjungan belum optimal,” jelasnya.

Rendahnya lama kunjungan wisatawan juga berdampak langsung pada tingkat belanja. Berdasarkan hasil survei, sekitar 41 persen wisatawan masih membelanjakan kurang dari Rp500 ribu, yang mencakup tiket masuk, jajan, dan oleh-oleh.

“Kalau wisatawan menginap satu sampai dua malam, tentu belanjanya bisa di atas Rp500 ribu. Semakin lama tinggal, semakin besar dampaknya bagi ekonomi lokal,” urainya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya mulai mengintensifkan promosi ke luar daerah. Salah satunya melalui kegiatan roadshow promosi pariwisata luar daerah serta penyelenggaraan Gedongsongso Travel Mart, dengan harapan mampu menarik wisatawan dari luar Jawa Tengah agar berkunjung dan menginap di Kabupaten Semarang. Strategi lain yang dilakukan adalah memperbanyak event wisata, terutama yang berlangsung hingga malam hari.

“Event wisata menjadi salah satu strategi kami. Harus ada lebih banyak event, terutama yang waktunya sampai malam, supaya wisatawan memilih menginap,” tambahnya.

Hendrastuti juga menyoroti fenomena wisatawan yang memilih menginap di Kota Semarang. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya pilihan hotel dengan harga yang lebih variatif dan relatif lebih murah dibandingkan hotel di Kabupaten Semarang, meskipun sama-sama berstatus hotel berbintang.

“Hotel di Kota Semarang pilihannya banyak dan harganya lebih kompetitif. Walaupun sama-sama hotel berbintang, di kita harganya masih relatif tinggi,” bebernya.

Meski demikian, Kabupaten Semarang memiliki daya tarik tersendiri sebagai lokasi menginap, terutama dari sisi suasana alam yang sejuk dan asri. Saat ini tercatat terdapat 252 hotel, baik nonbintang maupun berbintang, namun hotel berbintang baru berjumlah 15 unit, yang dinilai masih sangat terbatas untuk daerah tujuan wisata.

“Potensi hotel kita sebenarnya luar biasa, tapi jumlah hotel berbintang masih terlalu sedikit kalau dibandingkan dengan Kota Semarang,” pungkasnya. (win)

Kabar Terkini

POPULER

Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) menjadi salah satu upaya memperkuat mitigasi bencana di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Hal itu dibahas dalam Forum Konsultasi Publik di Hotel Aston Semarang, Senin (28/9/2026), untuk menyamakan pemahaman serta mendorong pemanfaatan data dalam perencanaan pembangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.
Peta Zona Gerakan Tanah Kabupaten Semarang-Salatiga Dibahas, Mitigasi Jadi Perhatian
Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelas pada Rabu (23/9/2026). R mengalami sejumlah memar, luka di belakang telinga, bibir pecah, serta trauma setelah kejadian. Pihak sekolah mengaku telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat dan menyiapkan pembinaan serta upaya pemulihan kondisi psikologis korban.
Diduga Jadi Korban Perundungan Berulang, Siswa SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Alami Luka hingga Trauma
Relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Tol Jogja-Bawen masih menunggu tindak lanjut Pemkab Semarang. Warga telah memilih lahan pengganti sekitar 5.000 meter persegi, tetapi proses pembelian belum berjalan. Kepastian dibutuhkan karena makam lama masih digunakan dan menampung sekitar 550 makam.
Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas
Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
[pekok2]