KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Petugas Basarnas Kantor SAR Semarang bersama tim SAR gabungan mengevakuasi survivor yang terjatuh ke dalam jurang sedalam 40 meter menggunakan High Angle Rescue Technique (HART), Sabtu (29/8/2026) dini hari. Foto: IST/ Basarnas Kantor SAR Semarang

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Seorang pecinta reptil, Galih Rizky F (20), terjatuh ke jurang sedalam sekitar 40 meter saat melakukan herping di kawasan Curug Lawe Benowo Kalisidi (CLBK), Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) malam.

Ia yang merupakan warga Gondokusuman, Yogyakarta, saat itu bersama tiga rekannya tengah melakukan herping, yakni aktivitas mencari, mengamati, dan mendokumentasikan reptil serta amfibi di habitat aslinya.

Basarnas Kantor SAR Semarang yang mendapatkan dari rekan korban sekitar pukul 22.15 WIB segera datang ke lokasi bersama tim SAR gabungan.

“Kami menerima telepon dari rekan survivor bahwa salah satu dari mereka terjatuh ke jurang,” ujar Nur Mustofa, Komandan Tim Evakuasi saat dikonfirmasi, Sabtu (29/8/2026).

Setelah menerima laporan, tim SAR gabungan langsung menuju lokasi dengan membawa perlengkapan pertolongan di medan ketinggian. Menurut Mustofa, keempat orang tersebut sengaja melakukan pengamatan pada malam hari karena sejumlah reptil dan amfibi merupakan satwa yang aktif pada malam hari atau nokturnal.

“Saat itu mereka sedang melakukan pengamatan terhadap reptil dan amfibi yang aktif di malam hari,” jelasnya.

Peristiwa bermula ketika rombongan menyusuri jalur setapak di kawasan hutan Curug Lawe. Korban menggunakan senter untuk menerangi sekaligus menyapu area yang menjadi lokasi pengamatan. Saat berjalan dengan posisi badan menghadap ke belakang, korban tidak menyadari adanya jurang di jalur yang dilaluinya.

“Korban berjalan mundur dan tidak menyadari ada jurang di depannya,” terangnya.

Korban kemudian terperosok dan jatuh hingga ke dasar jurang dengan kedalaman sekitar 40 meter. Proses evakuasi berlangsung cukup dramatis. Tim SAR harus bekerja dalam kondisi malam hari dengan penerangan terbatas dan medan yang terjal.

“Medannya cukup ekstrem dan penerangan juga terbatas,” ungkapnya.

Setelah sekitar 2,5 jam melakukan upaya evakuasi, korban akhirnya berhasil dievakuasi pada Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Evakuasi dilakukan menggunakan High Angle Rescue Technique (HART) atau teknik pertolongan di medan ketinggian.

“Sekitar pukul 02.00 WIB survivor berhasil kami evakuasi,” katanya.

Dari pemeriksaan awal, korban mengalami sejumlah cedera. Di antaranya cedera pada kepala, lengan kanan, dan tungkai kanan.

“Setelah dievakuasi, survivor langsung dibawa ke RSUD Gondo Suwarno Ungaran,” jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat yang hendak melakukan aktivitas di alam terbuka agar tidak mengabaikan faktor keselamatan, terutama ketika berada di medan ekstrem seperti hutan, gunung maupun kawasan air terjun.

“Selalu waspada dan prioritaskan keselamatan,” tegasnya.

Ia juga meminta masyarakat yang hendak berkegiatan di alam agar terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengelola kawasan dan melakukan survei lokasi. Selain itu, peserta kegiatan di alam juga perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk menghadapi kondisi medan yang berisiko.

“Jangan langsung berkegiatan saat pertama datang. Sebaiknya survei lokasi terlebih dahulu,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kalisidi, Dimas Prayitno Putra, menegaskan korban bukan pengunjung yang masuk melalui pintu masuk wisata resmi CLBK. Terlebih CLBK tidak menyelenggarakan kegiatan wisata reguler pada malam hari di kawasan Perhutani.

“Tidak ada pemberitahuan ke kami. Sehingga tidak tercantum di data registrasi,” bebernya.

Menurut Dimas, kegiatan organisasi pecinta alam berbasis sekolah maupun perguruan tinggi yang hendak melintas atau melanjutkan perjalanan dari kawasan Indrokilo, Promasan maupun puncak harus dilengkapi surat resmi organisasi yang diketahui pembimbing, kepala sekolah, dekan atau rektorat.

“Jumlah peserta, panitia dan rundown kegiatan harus jelas,” pungkasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

DPC GEKRAFS Salatiga Dikukuhkan, Potensi Ekonomi Kreatif Terus Dikembangkan hingga Pasar Internasional
DPC GEKRAFS Salatiga Dikukuhkan, Potensi Ekonomi Kreatif Terus Dikembangkan hingga Pasar Internasional
Gagal Salip dari Sebelah Kiri, Pengendara Motor Diduga Terlindas Truk di Dekat Exit Tol Salatiga
Gagal Salip dari Sebelah Kiri, Pengendara Motor Diduga Terlindas Truk di Dekat Exit Tol Salatiga
Persoalan pengelolaan dan lelang tanah Bondo Deso di Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, berujung pada pengaduan ke Ditreskrimum Polda Jawa Tengah. Pengaduan diajukan terkait masuknya tanah bengkok Kepala Dusun Borangan Heny Affandi dalam daftar lelang. Kedua pihak menyatakan siap memberikan keterangan dan dokumen kepada aparat penegak hukum.
Polemik Tanah Bondo Deso, Kadus Borangan, Mulai Babak Baru. Seperti apa?
Yakuza Maneges wilayah Salatiga dan Semarang menyiapkan pendampingan hukum serta posko pengaduan 24 jam bagi masyarakat yang menghadapi persoalan hukum atau menjadi korban kekerasan. Komitmen itu disampaikan usai deklarasi di Grand Wahid Hotel Salatiga, Sabtu (3/10/2026), dengan melibatkan pengacara untuk mendampingi korban tanpa melihat latar belakang pihak yang terlibat.
Deklarasi Yakuza Maneges Salatiga, Hadirkan Perubahan Positif, Berikan Manfaat Nyata di Masyarakat
[pekok2]