SEMARANG – Pemanfaatan gas bumi di Jawa Tengah, khususnya wilayah Semarang dan kawasan industri di sekitarnya, menunjukkan pertumbuhan yang semakin agresif. Dalam lima tahun terakhir, volume penjualan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) di wilayah Semarang disebut melonjak lebih dari 5.000 persen.
Area Head PGN Semarang Sugianto Eko Cahyono mengatakan, pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator kuat bahwa kebutuhan gas bumi di Jawa Tengah masih memiliki ruang ekspansi yang besar.
“Kalau kita lihat dari tahun 2021 dibandingkan dengan 2026, volume penjualan di Semarang ini sudah meningkat lebih dari 5.000 persen,” kata Sugianto.
Menurutnya, pertumbuhan terbesar berasal dari sektor industri. Secara jumlah, pelanggan memang terus bertambah, tetapi dari sisi volume penyerapan, industri dengan kebutuhan energi besar masih menjadi konsumen utama.
Wilayah Semarang, Kendal hingga Batang menjadi salah satu koridor penting pengembangan jaringan gas bumi PGN seiring pertumbuhan kawasan industri di Jawa Tengah.
Kapasitas Belum Terpakai Maksimal
Di tengah pertumbuhan tersebut, Sugianto menyebut pemanfaatan kapasitas jaringan gas yang sudah tersedia saat ini masih berada di kisaran 20–30 persen.
Artinya, infrastruktur yang telah dibangun masih memiliki ruang yang cukup besar untuk meningkatkan volume penyaluran gas kepada pelanggan baru.
“Kapasitas yang sudah terpasang ini sebenarnya masih kecil, sekitar 20 sampai 30 persen. Artinya masih ada ruang yang cukup besar untuk kita tingkatkan penggunaan gas bumi,” ujarnya.
Data tersebut sejalan dengan perkembangan infrastruktur transmisi gas di Jawa Tengah. Pemerintah sebelumnya membangun Pipa Cirebon-Semarang (Cisem) tahap I yang menghubungkan Semarang dan Batang sepanjang sekitar 60 kilometer. Jalur tersebut mulai memasok gas ke Kawasan Industri Kendal pada November 2023 dan ke Kawasan Industri Batang pada Juli 2024.
Kini konektivitas tersebut semakin diperkuat dengan beroperasinya penuh Cisem II, ruas Batang-Cirebon-Kandang Haur Timur sepanjang sekitar 242–245 kilometer. Pemerintah menyebut integrasi ini meningkatkan fleksibilitas penyaluran gas dari berbagai sumber menuju pusat-pusat permintaan, termasuk industri, pembangkit listrik, dan sektor strategis lainnya.
Dari Semarang, Gas Mengalir ke Industri
Sebelumnya, integrasi infrastruktur transmisi Gresem, Cisem I dan jaringan distribusi PGN telah meningkatkan volume penyerapan pelanggan industri dan komersial di area Semarang dari sekitar 0,5 BBTUD menjadi 3,5 BBTUD.
Pada 2024, PGN Area Semarang tercatat melayani 31 pelanggan industri dan komersial, 29 pelanggan kecil, serta satu pembangkit listrik.
Perkembangan itu terus berlanjut. Pada Juli 2026, PGN Area Semarang mulai menyuplai gas bumi ke PT Roda Pasifik Mandiri, produsen sepeda, sepeda listrik dan motor listrik di Semarang. Pabrik tersebut diproyeksikan menggunakan gas hingga 50 ribu meter kubik per bulan.
Sugianto mengatakan, bertambahnya akses gas bumi menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung pertumbuhan industri.
Bagi investor, ketersediaan energi merupakan bagian dari pertimbangan ketika menentukan lokasi investasi. Karena itu, PGN tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga berkoordinasi dengan pengelola kawasan industri agar infrastruktur gas tersedia di lokasi yang memiliki potensi permintaan.
“Investor sebelum datang ke Semarang atau Jawa Tengah tentunya akan menanyakan infrastruktur. Dengan gas bumi sudah tersedia di kawasan, ini menjadi salah satu poin bagi investor untuk memutuskan berinvestasi,” kata Sugianto.
Jaringan Trans Jawa Buka Pilihan Sumber Pasokan
Salah satu keuntungan pengembangan jaringan gas terintegrasi adalah semakin fleksibelnya sumber pasokan.
Untuk Semarang dan sekitarnya, pasokan gas berasal dari sejumlah sumber, termasuk wilayah produksi di Jawa Tengah serta jaringan transmisi yang membawa gas dari sumber lain di Pulau Jawa.
Sugianto mengatakan, keberadaan jaringan yang menghubungkan Jawa Tengah dengan wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat memungkinkan gas dari berbagai sumber dikelola dan disalurkan sesuai kebutuhan pelanggan.
Kondisi ini juga penting karena sumber gas tidak selalu berada dekat dengan pusat konsumsi.
Pemerintah sendiri menyebut integrasi Cisem II sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas jaringan transmisi gas nasional. Infrastruktur tersebut memungkinkan optimalisasi gas dari berbagai sumber sekaligus meningkatkan keandalan pasokan dan efisiensi sistem.
Industri Bisa Hemat hingga 40 Persen
Bagi pelaku usaha, gas bumi bukan sekadar pilihan bahan bakar, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi biaya operasional.
Pengalaman pelanggan PGN di Semarang menunjukkan potensi penghematan yang cukup signifikan. Hotel Gumaya Semarang, misalnya, menggunakan sekitar 500 MMBTU gas per bulan, setara sekitar 14 kiloliter BBM, untuk kebutuhan dapur dan laundry.
Pihak hotel menyebut penggunaan gas bumi memberikan efisiensi biaya energi sekitar 40 persen, sekaligus memberikan pasokan yang lebih stabil dan memudahkan penghitungan kebutuhan energi bulanan.
Pengalaman serupa juga datang dari sektor industri. Salah satu pelanggan industri PGN di Demak sebelumnya menggunakan CNG yang dikirim menggunakan kendaraan. Setelah beralih ke gas melalui jaringan pipa, perusahaan menyebut biaya energi dapat lebih hemat sekitar 20–30 persen sekaligus mengurangi risiko keterlambatan pasokan akibat kendala armada dan perjalanan.
Rumah Tangga dan UMKM Masih Dibidik
Ekspansi PGN tidak hanya menyasar industri besar. Sektor rumah tangga, UMKM dan pelanggan komersial kecil juga masih menjadi pasar yang terus dikembangkan.
BPH Migas mencatat jaringan distribusi gas PGN di Jawa Tengah telah dimanfaatkan oleh pembangkit listrik Tambak Lorok, puluhan sektor industri di kawasan Demak-Semarang, Tambak Aji, Wijaya Kusuma, Kendal dan Batang, serta ribuan pelanggan jaringan gas rumah tangga di Kota Semarang.
Menurut Sugianto, pelanggan kecil termasuk UMKM dapat menggunakan gas bumi untuk berbagai kebutuhan usaha, mulai dari restoran, rumah makan hingga usaha lainnya.
PGN juga masih membuka peluang bagi pelanggan lama yang sebelumnya berhenti menggunakan gas untuk kembali berlangganan. Program gratis biaya pasang kembali diberikan hingga akhir 2026. Sebelumnya, biaya pasang kembali berada di kisaran Rp200 ribu.
Untuk pelanggan baru, PGN melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap lokasi calon pelanggan, termasuk kedekatan dengan jaringan pipa dan kelayakan keekonomian. Jika dinilai layak, proses dilanjutkan ke kontrak dan pembangunan sambungan.
Tiga SPBG, Tantangan Konversi Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Penggunaan gas bumi juga dikembangkan untuk transportasi. Di Semarang terdapat tiga SPBG yang dikelola anak usaha PGN dan salah satunya melayani kebutuhan bus Trans Semarang.
Namun, pengembangan gas bumi sebagai bahan bakar kendaraan masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah biaya konversi kendaraan dari BBM ke bahan bakar gas.
PGN menyebut peningkatan pemanfaatan gas untuk transportasi membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas, termasuk semakin banyaknya kendaraan yang menggunakan teknologi bahan bakar gas.
Potensi Jateng Belum Habis
Dengan pertumbuhan volume penjualan yang mencapai lebih dari 5.000 persen sejak 2021 dan pemanfaatan kapasitas jaringan yang disebut baru sekitar 20–30 persen, Sugianto melihat prospek gas bumi di Jawa Tengah masih sangat besar.
PGN menyiapkan ekspansi jaringan ke sejumlah kawasan potensial, termasuk wilayah industri di Semarang dan sekitarnya.
Di tingkat nasional, PGN juga menargetkan penyaluran gas bumi pada 2026 sekitar 877 BBTUD, tumbuh 4 persen, dengan salah satu pendorong pertumbuhan berasal dari kawasan industri dan pelanggan baru, khususnya Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Bagi Jawa Tengah, perkembangan tersebut datang bersamaan dengan semakin terhubungnya jaringan pipa gas Trans Jawa.
Sementara industri terus tumbuh dan kawasan-kawasan industri baru bermunculan, infrastruktur gas kini diposisikan bukan lagi sekadar saluran energi, tetapi bagian dari infrastruktur penunjang investasi.
“Potensi ke depan untuk meningkat ini masih terus besar,” kata Sugianto.









