URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Warga RT 1 dan 2 RW 5 Kelurahan Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang mengharapkan kejelasan status lahan tempat tinggal mereka yang ternyata merupakan lahan milik Pemerintah Kabupaten Semarang. Lahan seluas 17 ribu meter persegi ini telah dihuni oleh 69 petak atau kaveling warga sejak tahun 1982 setelah direlokasi dari wilayah sebelumnya yang sering dilanda banjir.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Puluhan Tahun Terkatung-katung, Warga Pojoksari Berharap Kejelasan Status Lahan

Puluhan Tahun Terkatung-katung, Warga Pojoksari Berharap Kejelasan Status Lahan

Puluhan Tahun Terkatung-katung, Warga Pojoksari Berharap Kejelasan Status Lahan

featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN - Warga RT 1 dan 2 RW 5 Kelurahan Pojoksari, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang berharap kejelasan status lahan yang ditinggalinya. Hal itu menyusul tempat kediaman mereka berdiri di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang.

Ketua RW 5 Kelurahan Pojoksari, Nur Mukhid mengungkapkan lahan yang ditempati warganya merupakan eks tanah bengkok yang kini menjadi aset Pemkab Semarang. Di atas lahan seluas lebih kurang 17ribu meter persegi tersebut terdapat 69 petak atau kaveling yang dihuni warganya.

“Sejak tahun 1982, kawasan tersebut telah ditempati warga hasil relokasi wilayah sebelumnya yang sering dilanda banjir,” ujarnya di Ungaran, Rabu (5/7/2023).

Dikatakan Mukhid, selama lebih kurang 41 tahun ini diakui memang tidak pernah ada permasalahan. Hanya saja, warga menginginkan adanya status legal formal. Termasuk dengan melakukan audiensi bersama Pemkab Semarang terkait bagaimana mekanisme yang harus ditempuh.

“Alhamdulillah setelah berdialog dengan beberapa dinas dan biro terkait, ada sedikit titik terang. Harapan masyarakat melalui mekanisme tukar guling bisa diterima oleh Pemkab Semarang,” jelasnya.

Berkaitan dengan proses tukar guling tersebut, kata Mukhid, menunggu tim appraisal. Jika suatu saat terjadi kesepakatan harga, maka akan ada kewajiban yang harus dipenuhi.

“Kami juga meminta keringanan kepada Pemkab Semarang. Bagaimanapun juga apabila nanti ada deal-dealan harga, tentu nilainya besar,” terangnya.

Mukhid menambahkan, warga menginginkan untuk tetap tinggal di wilayah tersebut. Mengingat mereka sudah bertahun-tahun menempati dan sudah mengeluarkan biaya besar untuk membangun rumah.

“Harapan kami, biro dari Pemkab Semarang yang mendampingi kami bisa memberikan masukan terkait syarat administrasi yang dibutuhkan. Kasihan warga, puluhan tahun terkatung-katung,” paparnya. (win)

BACA JUGA :

Polres Semarang mengamankan pelajar berinisial YA (16) yang diduga hendak melakukan duel satu lawan satu di Jalan Lingkar Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rabu (26/8/2026) dini hari. Polisi menemukan celurit sepanjang sekitar 130 sentimeter yang dibawa YA setelah ajakan duel diduga disepakati melalui media sosial.
Viral Pelajar Bawa Celurit 1,3 Meter di Ambarawa, Polisi Gagalkan Rencana Duel
Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah
Penerima Bansos Terindikasi Judol Bakal Dicoret, Dinsos Kabupaten Semarang Buka Pengajuan Sanggahan
pilkades 2026
Pilkades Kabupaten Semarang Tahap Pertama Digelar 14 Desember 2026, 140 Desa Bersiap
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5.000 Persen, Industri Jadi Motor Pertumbuhan