URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Pemerintah Kabupaten Semarang meluncurkan Sekolah Tani Milenial 2026 untuk mendorong regenerasi petani di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Program yang diikuti 240 peserta itu digelar di Kecamatan Sumowono, Selasa (21/7/2026), dengan pembekalan budidaya, kewirausahaan, dan pemasaran digital guna mencetak petani modern yang mampu menjaga ketahanan pangan.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Tak Malu jadi Petani, Khoirul Mantap Ikut Pelatihan Sekolah Tani Milenial Usai Lulus Kuliah

Tak Malu jadi Petani, Khoirul Mantap Ikut Pelatihan Sekolah Tani Milenial Usai Lulus Kuliah

Tak Malu jadi Petani, Khoirul Mantap Ikut Pelatihan Sekolah Tani Milenial Usai Lulus Kuliah

Puluhan pemuda mengikuti pelatihan pembuatan pupuk sebagai rangkaian kegiatan Sekolah Tani Milenial "Pangan Berdikari" yang dicanangkan oleh Dispertanikap Kabupaten Semarang di Kecamatan Sumowono, Selasa (21/7/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Di saat banyak anak muda memilih bekerja di pabrik, Muhammad Khoirul Anan (25) justru mengambil jalan berbeda. Lulusan perguruan tinggi asal Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang itu memilih menjadi petani dengan mengelola lahan milik orang tuanya. Keputusan itu diambil setelah ia lulus kuliah dan belum memiliki pekerjaan.

“Orang tua punya sawah. Waktu itu ibu menawarkan saya untuk mengolah lahan sendiri. Di daerah saya kebanyakan menanam padi, tapi saya ingin mencoba yang lain, akhirnya memilih menanam cabai rawit,” ujar Khoirul ditemui di sela kegiatan pelatihan pembuatan pupuk yang digagas oleh Pemkab Semarang melalui Dispertanikap, dalam rangkaian pencanangan Sekolah Tani Milenial “Pangan Berdikari” di Kecamatan Sumowono, Selasa (21/7/2026).

Menurut Khoirul, menjadi petani memiliki kelebihan karena waktu kerja lebih fleksibel. Namun, profesi tersebut juga menuntut ketelatenan dalam merawat tanaman agar hasil panen maksimal.
Meski menikmati pekerjaannya, Khoirul mengaku khawatir dengan semakin minimnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Ia menilai sebagian besar pemuda di lingkungannya lebih memilih bekerja di pabrik dibanding menggarap lahan pertanian.

“Di daerah saya banyak pemuda yang tidak jadi petani. Kebanyakan memilih kerja di pabrik karena dianggap lebih simpel. Kalau semakin sedikit yang bertani, nanti siapa yang menyediakan kebutuhan pangan,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Semarang. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan, regenerasi petani menjadi tantangan besar karena mayoritas petani saat ini telah berusia di atas 50 tahun, sementara jumlah petani muda baru sekitar 11,4 persen. Untuk itu, Pemkab Semarang meluncurkan Sekolah Tani Milenial 2026 yang diikuti sekitar 240 peserta. Program tersebut bertujuan mencetak petani muda yang mampu menerapkan teknologi dan inovasi dalam sektor pertanian.

“Kita ingin anak-anak muda menjadi petani modern. Tidak seperti dulu hanya pegang cangkul, tetapi mampu memanfaatkan teknologi, inovasi, dan mengembangkan pertanian yang lebih maju,” ujar Ngesti.

Selain pelatihan, Pemkab juga memberikan dukungan berupa bantuan alat dan mesin pertanian, seperti transplanter, hand traktor, hingga rice mill yang telah disalurkan ke setiap kecamatan.

“Secara bertahap, kami juga mulai mendorong penerapan pertanian semi organik hingga organik. Harapannya, masyarakat bisa semakin sehat dan taraf hidupnya meningkat,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan krisis sumber daya manusia menjadi tantangan paling besar yang dihadapi sektor pertanian saat ini.

“Statistik menunjukkan petani milenial kita tinggal 11,8 persen, sementara petani tua sudah mencapai 77,8 persen. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, selama 10 tahun rumah tangga usaha pertanian juga sudah berkurang sekitar 10,27 persen, padahal jumlah penduduk terus bertambah,” ujarnya.

Menurut Edy, apabila kondisi tersebut tidak segera diantisipasi, sektor pertanian akan menghadapi persoalan serius karena semakin sedikit orang yang bersedia memproduksi pangan.
Karena itu, Pemkab Semarang menggagas Sekolah Tani Milenial sebagai upaya membangkitkan minat generasi muda untuk kembali ke sektor pertanian, baik sebagai petani maupun wirausahawan di bidang pertanian.

“Kalau SDM ini tidak kita fokuskan, maka program-program pertanian yang lain akan percuma. SDM itu enabler factor. Inti pertanian tetap ada pada manusianya karena sampai sekarang belum bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin,” tegasnya.

Program Sekolah Tani Milenial telah berjalan sejak 2024 dan terus dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini diikuti 240 peserta yang dibagi dalam enam angkatan atau masing-masing 40 orang. Peserta berasal dari sejumlah kecamatan penghasil tembakau, seperti Sumowono, Tengaran, Bancak, Kaliwungu, Bandungan, dan wilayah lainnya. Program ini didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dengan anggaran sekitar Rp240 juta.

Selama dua hari pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh materi teknis budidaya pertanian, tetapi juga dibekali kemampuan berwirausaha, pemasaran digital, hingga pengembangan usaha pertanian.

“Ada dua materi utama. Pertama technical skill tentang bagaimana bercocok tanam. Kedua upgrading skill, seperti kewirausahaan, marketing digital, dan kemampuan menjadi entrepreneur di bidang pertanian,” jelas Edy.

Ia menambahkan, meski anggaran pelatihan bersumber dari DBHCHT sehingga diprioritaskan di kecamatan penghasil tembakau, materi yang diberikan tidak hanya membahas budidaya tembakau.

“Kita tidak hanya mengajari budidaya tembakau, tetapi pertanian dalam arti luas, mulai teknik budidaya sampai bagaimana menjadi entrepreneur di bidang pertanian,” katanya.

Dispertanikap juga menyiapkan langkah jangka panjang melalui program penyuluh masuk sekolah. Program tersebut sedang disusun agar menjadi kegiatan kokurikuler sehingga siswa mulai mengenal dunia pertanian sejak di bangku sekolah.

“Harapannya, para lulusan Sekolah Tani Milenial nantinya menjadi agen perubahan yang mampu mempercepat modernisasi pertanian sekaligus mengajak lebih banyak anak muda terjun ke sektor pertanian,” tandasnya. (win)

BACA JUGA :

Rencana pembangunan PLTP di kawasan Gunung Ungaran berpotensi berdampak pada sekitar 540 KK di Dusun Darum, Ngipik, dan Talun, Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang. Hingga Rabu (2/9/2026), pemerintah desa mengaku belum menerima informasi resmi maupun sosialisasi terkait proyek tersebut dan meminta keterbukaan kepada masyarakat.
Ratusan KK di Desa Candi Berpotensi Terdampak Geothermal Gunung Ungaran
Kota Salatiga meraih juara I kategori Akses Penduduk ke Layanan Pendidikan dalam Apresiasi Pemda Berprestasi Regional Jawa-Bali 2026 Batch II yang digelar Kemendagri pada 28 Agustus 2026. Atas capaian tersebut, Salatiga mendapat dukungan Rp2 miliar untuk memperkuat akses dan kualitas layanan pendidikan bagi masyarakat.
Bukan Kaleng-kaleng! Kota Salatiga raih Prestasi di Bidang Pendidikan
Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.
Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak
DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum dan kampanye antikorupsi kepada sekitar 150 siswa SMAN 3 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah, Senin. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran hukum, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengenalkan bahaya HIV/AIDS serta pengelolaan sampah kepada para pelajar.
JMS di SMAN 3 Salatiga, Gandeng Berbagai Pihak, “Wujudkan Generasi Emas Anti Korupsi”
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah
Penerima Bansos Terindikasi Judol Bakal Dicoret, Dinsos Kabupaten Semarang Buka Pengajuan Sanggahan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved