SEMARANG – Usia 81 tahun menjadi momentum bagi Jawa Tengah untuk menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya soal angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana pertumbuhan tersebut memberi dampak bagi masyarakat.
Di tengah situasi global yang masih penuh ketidakpastian, perekonomian Jawa Tengah justru mampu tumbuh kuat. Hingga Semester I-2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah secara kumulatif mencapai 5,80 persen, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan membaiknya sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angka kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 turun menjadi 9,21 persen, atau setara dengan sekitar 3,29 juta penduduk.
Jumlah tersebut berkurang 59.390 orang dibanding September 2025 dan turun 81.250 orang dibanding Maret 2025.
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, mengatakan penurunan juga terlihat dari sisi persentase. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 turun 0,18 persen dibanding September 2025 yang berada di level 9,39 persen. Jika dibandingkan Maret 2025, angkanya turun 0,27 persen dari sebelumnya 9,48 persen.
“Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional,” kata Ali dalam jumpa pers daring, Rabu (5/8/2026).
Pertumbuhan ekonomi tersebut juga tercermin dari semakin kuatnya aktivitas investasi. Sepanjang Semester I-2026, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp48,54 triliun.
Investasi tersebut tersebar dalam 55.989 proyek dan mampu menyerap 213.217 tenaga kerja.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menjelaskan, realisasi tersebut berasal dari investasi sebesar Rp23,02 triliun pada triwulan I dan Rp25,53 triliun pada triwulan II.
Dengan demikian, realisasi investasi pada triwulan II meningkat 10,88 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
“Alhamdulillah, di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja, Jawa Tengah tetap bertambah dan bertumbuh 10,88 persen dari triwulan pertama,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Dari total investasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) memberikan kontribusi Rp25,92 triliun atau 53,40 persen. Sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp22,62 triliun atau 46,60 persen.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun terus memperkuat fondasi investasi dengan mendorong pengembangan kawasan industri di sejumlah daerah.
Kehadiran kawasan industri diharapkan mampu menyediakan infrastruktur yang lebih siap sekaligus memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor.
Namun, capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan kolaborasi sebagai salah satu kunci dalam menggerakkan pembangunan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian menghadapi luasnya persoalan pembangunan di 35 kabupaten/kota.
“Maka kita punya semangat collaborative government (pemerintahan kolaboratif), karena kita tidak bisa sendiri-sendiri,” kata Luthfi.
Menurutnya, pembangunan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, media, hingga masyarakat.
“Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super team dalam rangka melakukan pembangunan di wilayah kita. Provinsi (Jateng) dengan 35 kabupaten/kota dan segala aspek yang ada, (maka) collaborative government (pemerintahan kolaboratif) harus kita ciptakan,” ujarnya.
Semangat tersebut kemudian menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan tema “Gumregut Nyawiji” menggambarkan semangat untuk bergerak bersama dan menyatukan kekuatan dalam membangun Jawa Tengah.
“Semangatnya adalah bareng-bareng membangun Jawa Tengah. Ini selaras dengan arahan Pak Gubernur, bahwa kita harus berkolaborasi dengan semua pihak,” kata Sumarno.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, investasi yang terus bergerak, lapangan kerja yang bertambah, serta angka kemiskinan yang menurun, Hari Jadi ke-81 Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat kerja bersama.
Bukan sekadar merayakan usia provinsi, tetapi memastikan setiap pertumbuhan benar-benar bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah.









