URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Selama hampir 20 tahun, keluarga Muhroji di Dusun Rejowinangun, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, hidup tanpa aliran listrik meski tiang listrik telah berdiri di dekat rumah mereka. Hingga Rabu (22/7/2026), permohonan pemasangan listrik belum terealisasi karena diperlukan penambahan jaringan. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat keluarga tersebut bertahan menggunakan sentir berbahan bakar minyak goreng sebagai penerangan setiap malam.

Mbak Google

KABAR RASIKA

20 Tahun Hidup dalam Gelap, Keluarga Miskin di Sumowono Terangi Malam dengan Sentir Jelantah

20 Tahun Hidup dalam Gelap, Keluarga Miskin di Sumowono Terangi Malam dengan Sentir Jelantah

20 Tahun Hidup dalam Gelap, Keluarga Miskin di Sumowono Terangi Malam dengan Sentir Jelantah

Keluarga Munarti, warga Dusun Rejowinangun, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang mengandalkan penerangan dari sentir berbahan minyak goreng bekas (jelantah) untuk mengusir gelap. Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Ketika setiap rumah menikmati terang lampu listrik setiap malam, kondisi berbeda masih dialami keluarga Muhroji (73) di Dusun Rejowinangun, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Selama hampir 20 tahun, rumah sederhana yang mereka tempati belum pernah tersambung jaringan listrik.

Rumah yang berdiri di tengah kawasan perkebunan itu dihuni Muhroji bersama istrinya, Munarti (65), serta putra mereka, Muhamad Tejo Pramono (15). Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari jalan penghubung Desa Pledokan dan Desa Duren, namun letaknya yang terpencil membuat rumah tersebut tersembunyi dari pandangan.

“Sejak rumah ini dibangun sekitar 20 tahun lalu memang belum pernah ada listrik,” kata Munarti saat ditemui, Rabu (22/7/2026).

Begitu malam tiba, keluarga ini hanya mengandalkan sentir sebagai sumber penerangan. Berbeda dengan lampu minyak tanah pada umumnya, sentir tersebut menggunakan bahan bakar minyak goreng karena minyak tanah sudah sulit diperoleh.

Dalam semalam, penerangan itu menghabiskan sekitar seperempat kilogram minyak goreng. Ketika harga minyak goreng melonjak atau sulit dibeli, mereka memanfaatkan minyak jelantah yang diberikan tetangga.

“Kalau minyak goreng mahal, kami pakai minyak bekas pemberian tetangga supaya tetap ada penerangan,” ujarnya.

Munarti mengaku pernah mengajukan pemasangan listrik melalui pemerintah desa. Petugas bahkan sempat datang melakukan pengecekan, tetapi permohonan itu tidak dapat direalisasikan.
Padahal, tiang listrik sudah berdiri di tepi jalan desa.

“Kata petugasnya, jaringan harus diperpanjang dengan menambah tiang baru, sementara yang mengajukan cuma rumah kami sehingga belum memungkinkan dipasang,” jelasnya.

Di balik keterbatasan itu, keluarga Muhroji juga bergulat dengan persoalan ekonomi. Munarti menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai tenaga kebersihan di SD Negeri Pledokan dan menerima honor sekitar Rp500 ribu setiap bulan. Sementara Muhroji kini lebih banyak terbaring karena kondisi kesehatannya menurun.

“Si Thole (anak laki-laki) bantu ngarit dan merawat kambing tetangga,” lanjutnya.

Munarti mengatakan keluarganya pernah menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) ketika anaknya masih duduk di kelas IV sekolah dasar. Saat itu mereka memperoleh bantuan sebesar Rp900 ribu. Setelah itu, bantuan sosial lain tidak pernah lagi diterima.

“Seingat saya hanya sekali itu. Setelahnya sampai sekarang tidak pernah dapat bantuan lagi,” tuturnya.

Empat tahun lalu, saat Ramadan, ia sempat menanyakan pembagian paket sembako kepada perangkat desa. Namun, bantuan tersebut hanya diberikan kepada warga yang menerima undangan resmi, sedangkan keluarganya tidak termasuk dalam daftar penerima.

“Sejak saat itu kami sudah tidak pernah bertanya lagi. Tidak ingin terlalu berharap akan ada bantuan yang datang,” tutupnya. (win)

BACA JUGA :

Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.
Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak
DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum dan kampanye antikorupsi kepada sekitar 150 siswa SMAN 3 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah, Senin. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran hukum, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengenalkan bahaya HIV/AIDS serta pengelolaan sampah kepada para pelajar.
JMS di SMAN 3 Salatiga, Gandeng Berbagai Pihak, “Wujudkan Generasi Emas Anti Korupsi”
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi
WhatsApp Image 2026-08-30 at 22.25
Meriah! Peringatan HUT Paguyuban PKL Setia Kawan ke-24 di Pasaraya Salatiga
WhatsApp Image 2026-08-30 at 21.48
85 Kontingen Meriahkan Pawai Pembangunan dan Budaya Kabupaten Semarang 2026, Hidupkan Semangat Palagan Ambarawa

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved