URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
GM Hingga Karyawan d'Emmerick Hotel Salatiga terlihat kompak Main Wayang bareng menghibur tamu hotel dan relasi. Mereka tanpa canggung memerankan lakon wayang di atas panggung disaksikan para penonton.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Memasuki Usia 5 Tahun, d’Emmerick Hotel Salatiga Gelar Pentas Wayang Mbeling

Memasuki Usia 5 Tahun, d’Emmerick Hotel Salatiga Gelar Pentas Wayang Mbeling

Memasuki Usia 5 Tahun, d’Emmerick Hotel Salatiga Gelar Pentas Wayang Mbeling

Ada yang tak biasa di d’Emmerick Hotel, jumat malam, dimana GM Hingga Karyawan d’Emmerick Hotel Salatiga terlihat kompak Main Wayang bareng menghibur tamu hotel dan relasi. Mereka tanpa canggung memerankan lakon wayang di atas panggung disaksikan para penonton.

“memang hal ini terlihat unik, menarik dan mengundang rasa penasaran, kegiatan ini sekaligus sebagi puncak acara ulang tahun ke-5 d’Emmerick Hotel” jelas Yoga Prasetya Marcomm Officer d’Emmrick Hotel Salatiga kepada Rasika FM.

Mereka yang dalam keseharian berkecimpung dengan setelan rapi, mentereng serta elengan tiba-tiba harus berdandan bak seorang seniman profesional.

Tampak GM hingga kepala departemen ambil bagian memerankan tokoh di ‘Wayang Mbeling’.

“Ya, pemain Wayang Mbeling adalah staf dan karyawan D’Emmerick Hotel sendiri. Bermodal adanya basic beberapa staf yang pernah berkecimpung di kesenian, hingga akhirnya ‘nekat’ memerankan sejumlah peran di Wayang Mbeling,” tambah Yoga.

Yoga menambahkan, di ulang tahun ke-5 d’Emmerick Hotel Salatiga management sepakat ingin memberikan persembahan kepada warga Salatiga umumnya.

Sementara itu dipilihnya Wayang Mbeling dengan lakon Hanggrengkuh Geyayuhan Agung itu sebagai simbol seseorang yang mempunyai cita cita tinggi yang harus dicapai.

Diambilnya Wayang Mbeling karena lebih tradisional dan merakyat sekaligus nguri-uri budaya Jawa.

“Wayang Mbeling tidak pakem, diselipkan juga dengan gayonan,” akunya.

Di sela sela pementasan Ulang Tahun-5 ini d’Emmerick Hotel Salatiga memberikan potongan tumpeng kepada karyawan tertua yakni Darwanto diserahkan langsung dari Direktur Utama Dodit Purwo.

“Harapannya, setelah acara ini tamu lebih percaya lagi. Target, akhir tahun akan ada perayaan akhir tahun tercapai,” imbuhnya.

Ika Puspitarini saat menemani kegiatan Flasmob hari tari 2022 Salatiga. (Poto dok ika)

Tercatat, untuk saat ini d’Emmerick Hotel Salatiga telah meraup okupansi antara 80-90 persen perminggu ini. Sedangkan orderan wedding mencapai 70-80 persen per Agustus 2022.

Sementara itu bagi Ika Puspitarini, Pamong Budaya Sub Koordinator Kebudayaan dan Kesenian Tradisional Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Salatiga mengaku senang karena Saat ini banyak pihak yang mulai mencintai kesenian.

“Luaaarr biasaa, kereeenn D’Emmerick Hotel dalam kesibukannya melayani tamu masih sempat meluangkan waktu untuk nguri-uri budaya, baik GM dan juga karyawan, Karna untuk memerankan wayang orang itu butuh latihan khusus dan ternyata mereka bisa menyuguhkan wayang mbeling yang dikemas secara apik” Kata Ika.

– Yoga Prasetya saat diwawacarai Rasika FM
– Suasana pementasa wayang mbeling

Ika menambahkan, dirinya sangat apresiasi terhadap pementasan Jumat malam itu, “Proficiat untuk d’Emmerick Hotel tetap memberikan pelayanan yang terbaik untuk customer dan tetap melestarikan budaya” tambah ibunda dari Athan, Dalang Muda berbakat asal Kabupaten Semarang ini bangga.

BACA JUGA :

Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan
Masyarakat Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terus melestarikan tradisi Saparan atau merti dusun yang digelar setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar. Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini diwujudkan melalui rangkaian ritual adat, open house, serta pertunjukan kesenian sebagai ungkapan syukur, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan 'MBG Swadaya'
Forkopimda Kabupaten Semarang tampil sebagai pemain ketoprak bertajuk "Rebut Kembar Mayang" pada puncak peringatan HUT ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang di GOR Pandanaran Wujil, Kecamatan Bergas, Sabtu (25/7/2026) malam. Ngesti Nugraha bersama jajaran pimpinan daerah turun langsung ke panggung sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Jawa sekaligus mengajak generasi muda menjaga bahasa, tata krama, dan nilai-nilai luhur budaya melalui seni tradisional
Forkopimda Kabupaten Semarang Main Ketoprak, Cara Unik Permadani Lestarikan Budaya Jawa
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Ribuan warga memadati tradisi Jolenan di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Sabtu (18/7/2026). Masyarakat mengarak gunungan hasil bumi sebagai wujud syukur atas panen raya yang melimpah sekaligus melestarikan budaya Jawa. Tradisi tahunan bertema Ketahanan Pangan itu diakhiri dengan perebutan hasil bumi yang menjadi daya tarik utama dan diharapkan berkembang sebagai destinasi wisata budaya
Angkat Tema Ketahanan Pangan, Desa Kemetul Kembali Sukses gelar Jolenan Tahun 2026
Pemerintah Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, menggelar Labuh Agung Sedekah Rawa Pening pada bulan Muharam, Senin (6/7/2026) malam. Warga mengadakan kirab budaya, penyalaan obor, larung sesaji, dan pentas Reog Ponorogo sebagai ungkapan syukur atas rezeki serta keselamatan, sekaligus melestarikan tradisi bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan di Rawa Pening.
Labuh Agung Sedekah Rawa Pening Kembali Digelar, Warga Larung Hasil Bumi dan Perairan sebagai Wujud Syukur

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5.000 Persen, Industri Jadi Motor Pertumbuhan