URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Tidak hanya menghadapi kekeringan, petani di berbagai wilayah Kabupaten Semarang kini juga dihadapkan pada serangan kera liar yang merusak ladang-ladang mereka. Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Sugeng Riyono, mengungkapkan bahwa koloni kera ekor panjang telah mendekati lahan pertanian warga dan merusak tanaman selama beberapa minggu terakhir.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Musim Kemarau, Kera Liar Dilaporkan Mulai Serbu Ladang Warga di Kaki Gunung Telomoyo

Musim Kemarau, Kera Liar Dilaporkan Mulai Serbu Ladang Warga di Kaki Gunung Telomoyo

Musim Kemarau, Kera Liar Dilaporkan Mulai Serbu Ladang Warga di Kaki Gunung Telomoyo

featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN - Petani di beberapa wilayah di Kabupaten Semarang menghadapi persoalan lain. Selain kekeringan, serangan kera liar juga dilaporkan terjadi di ladang warga.

Seperti yang disampaikan oleh Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Perikanan dan pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Sugeng Riyono, hama pengganggu tanaman itu mulai terlihat mendekati lahan pertanian dan mulai merusak tanaman dalam beberapa minggu terakhir.

“Para petani di sejumlah wilayah sudah beberapa kali menyampaikan, bahwa koloni kera ekor panjang mulai terlihat keluar dari hutan dan mendekati lahan pertanian milik warga,” ujar Sugeng di Ungaran, Jumat (11/8/2023).

Kata Sugeng, dimungkinkan sumber- sumber makanan kera liar di habitat asalnya sudah mulai berkurang akibat kekeringan. Di beberapa desa di kaki gunung Telomoyo dilaporkan kera- kera liar tersebut juga sudah mengganggu lahan pertanian warga setempat.

“Seperti di wilayah Desa Sepakung, sudah ada laporan koloni kera liar sudah turun gunung. Demikian juga kera liar dari hutan di gunung Ungaran yang mulai turun ke Desa Duren, Kecamatan Bandungan,” jelasnya.

Akibat fenomena itu, para petani yang menanam hortikultura berupa tanaman sayur dan buah terancam gagal panen. Karena koloni kera liar yang jumlahnya banyak akan cepat merusak berbagai tanaman.

“Tidak hanya sayuran seperti tomat, kacang- kacangan, bahkan buah alpukat yang masih muda pun jadi sasaran kera- kera liar yang sepertinya juga kelaparan ini,” bebernya.

Sementara Kepala Desa (Kades) Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Amat Nuri mengungkapkan, kawanan kera liar sudah sering dipergoki para petani di desanya. Bahkan beberapa warga juga sudah melaporkan kerusakan tanaman pertaniannya.

“Warga kami memang sudah banyak yang melaporkan, walaupun masih secara lisan,” ungkapnya.

Terkait hal ini, Pemerintah Desa (Pemdes) Sepakung akan kembali menyampaikan permohonan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mengurangi populasi kera liar.

“Selain itu, para petani juga melakukan langkah antisipasi berupa penjagaan lahan pertaniannya,” ucapnya. (win)

BACA JUGA :

Pemerintah Kabupaten Semarang meluncurkan Sekolah Tani Milenial 2026 untuk mendorong regenerasi petani di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Program yang diikuti 240 peserta itu digelar di Kecamatan Sumowono, Selasa (21/7/2026), dengan pembekalan budidaya, kewirausahaan, dan pemasaran digital guna mencetak petani modern yang mampu menjaga ketahanan pangan.
Tak Malu jadi Petani, Khoirul Mantap Ikut Pelatihan Sekolah Tani Milenial Usai Lulus Kuliah
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menilai Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus bersaing dengan ritel modern. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau Kopdes Merah Putih di Bergas Kidul dan Lodoyong, Selasa (21/7/2026), dengan syarat kelengkapan barang, dukungan fasilitas, dan kepastian regulasi pengelolaan koperasi terus diperkuat.
DPRD Kabupaten Semarang Nilai Kopdes Merah Putih Berpotensi Saingi Ritel Modern, Asal Pasokan Barang Lengkap
Legislatif Nilai Pengawasan Perizinan di Kabupaten Semarang Lemah, Pemkab Diminta Lebih Tegas
Legislatif Nilai Pengawasan Perizinan di Kabupaten Semarang Lemah, Pemkab Diminta Lebih Tegas
Kopdar dengan Media, Rutan Salatiga Bangun Sinergi, Tangkal Informasi Negatif
Kopdar dengan Media, Rutan Salatiga Bangun Sinergi, Tangkal Informasi Negatif
DPRD Kabupaten Semarang Desak Galian C Dipersempit, Nilai Kerusakan Lingkungan Tak Sebanding dengan Manfaat
DPRD Kabupaten Semarang Desak Galian C Dipersempit, Nilai Kerusakan Lingkungan Tak Sebanding dengan Manfaat
Keluhan Jalan Rusak Masih Mendominasi Aduan Warga Kabupaten Semarang, DPU Akui Keterbatasan Anggaran
Keluhan Jalan Rusak Masih Mendominasi Aduan Warga Kabupaten Semarang, DPU Akui Keterbatasan Anggaran

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Reformasi Transportasi Publik Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Forum Pelanggan Air Minum Nasional (FORPAMNAS) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IV di Yogyakarta, Jumat (17/7/2026), yang diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai provinsi. Forum ini membahas pembentukan badan regulator air minum, menyusun program kerja serta memilih kepengurusan periode 2026–2030 guna memperkuat perlindungan hak pelanggan, meningkatkan kualitas pelayanan Perumda Air Minum, dan mempererat kolaborasi dengan pemerintah serta para pemangku kepentingan.Munas IV FORPAMNAS di Yogyakarta mendorong pembentukan regulator air minum, memperkuat hak pelanggan, dan meningkatkan pelayanan Perumda Air Minum.
FORPAMNAS Dorong Pembentukan Badan Regulator Air Minum, Munas IV Resmi Digelar di Yogyakarta