URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Jajanan berupa serabi asal Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang selama ini banyak dikenal sebagai kudapan yang memakai kuah. Namun ternyata, penganan khas yang dijajakan di sepanjang Jalan Raya Bawen-Yogyakarta Kelurahan Ngampin itu awalnya disajikan tanpa kuah santan.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Angkat Keaslian Serabi Ngampin Lewat Festival Serabi Klasik Asik

Angkat Keaslian Serabi Ngampin Lewat Festival Serabi Klasik Asik

Angkat Keaslian Serabi Ngampin Lewat Festival Serabi Klasik Asik

Penjual serabi Ngampin sedang melayani pembeli dalam acara Festival Serabi Klasik Asik di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Minggu (14/8/2022). (Foto/win)
featured-img

UNGARAN – Jajanan berupa serabi asal Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang selama ini banyak dikenal sebagai kudapan yang memakai kuah. Namun ternyata, penganan khas yang dijajakan di sepanjang Jalan Raya Bawen-Yogyakarta Kelurahan Ngampin itu awalnya disajikan tanpa kuah santan.

Keaslian serabi tersebut coba kembali diangkat dalam festival Serabi Klasik Asik yang diselenggarakan di lingkungan RW 3 Lonjong Kelurahan Ngampin Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang, Minggu (14/8/2022).

Ketua RW 3 Lingkungan Lonjong Kelurahan Ngampin Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang Aldila Nur Affandi mengatakan festival Serabi Klasik Asik bertujuan mengenalkan bentuk serabi yang asli kepada masyarakat luas.

“Dengan demikian serabi semakin dikenal sebagai makanan khas yang bisa meningkatkan taraf perekonomian warga,” jelasnya.

Menurutnya, terdapat perbedaan antara serabi klasik dengan yang dijual saat ini. Selain soal kuah dan tidak memakai kuah, soal ukuran juga berbeda.

“Serabi klasik ukurannya relatif lebih besar,” ungkapnya.

Dikatakan, dahulu proses pembuatan serabi klasik hanya dibuat setiap tanggal 14 hingga 16 bulan Syaban. Selain itu juga ada ritualnya, yakni ada arak-arakan dari Palagan hingga ke Kali Condong. Mereka lalu melarung bajunya, tujuannya agar gampang mendapat jodoh.

“Setelah pulang dari melarung pakaian tersebut, mereka makan serabi yang dibungkus daun untuk melengkapi ritual,” ujarnya.

Salah seorang penjual serabi, Paisah menuturkan pada 1987, beberapa orang mulai menjual serabi setiap hari. Kemudian tahun 1988 dan 1989, mereka mendapat pembinaan dari Himpunan Wanita Karya untuk pengemasan dan pemasaran. Serta dibuatkan 27 kios.

“Kemudian terus berkembang hingga sekarang menjadi 70 kios,” paparnya.

Menurut Paisah, pembuatan serabi klasik diawali dengan merendam beras dan kemudian ditumbuk bersama kelapa. Kemudian dengan memakai ayakan dihaluskan, lalu diadoni dengan tepung sampai melembung, diberi air hangat, dan siap dibuat serabi.

“Serabi klasik hanya ada dua pilihan rasa, yang coklat pakai gula aren dan putih rasa gurih. Namun kalau ada permintaan khusus, bisa saya buatkan yang dicampur telur ayam kampung,” pungkasnya. (win)

BACA JUGA :

DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum dan kampanye antikorupsi kepada sekitar 150 siswa SMAN 3 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah, Senin. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran hukum, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengenalkan bahaya HIV/AIDS serta pengelolaan sampah kepada para pelajar.
JMS di SMAN 3 Salatiga, Gandeng Berbagai Pihak, “Wujudkan Generasi Emas Anti Korupsi”
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi
WhatsApp Image 2026-08-30 at 22.25
Meriah! Peringatan HUT Paguyuban PKL Setia Kawan ke-24 di Pasaraya Salatiga
WhatsApp Image 2026-08-30 at 21.48
85 Kontingen Meriahkan Pawai Pembangunan dan Budaya Kabupaten Semarang 2026, Hidupkan Semangat Palagan Ambarawa
Seorang pecinta reptil, Galih Rizky F (20), terjatuh ke jurang sedalam sekitar 40 meter saat melakukan herping di kawasan Curug Lawe Benowo Kalisidi (CLBK), Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) malam. Tim SAR gabungan mengevakuasi korban sekitar 2,5 jam kemudian dengan teknik HART. Korban mengalami cedera kepala, lengan, dan tungkai.
Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved