[audio_player]
[posts_like_dislike]
Rencana relokasi pedagang pasar pagi untuk pembangunan pasar modern menuai pro-kontra di tengah masyarakat. Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, menjadi sosok di balik kebijakan tersebut. Kebijakan ini menyasar kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Wacana ini mencuat dalam waktu dekat seiring rencana penataan kawasan kota.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Begini Tanggapan Guru Besar UKSW soal Pemindahan Pasar Pagi Salatiga

Begini Tanggapan Guru Besar UKSW soal Pemindahan Pasar Pagi Salatiga

Begini Tanggapan Guru Besar UKSW soal Pemindahan Pasar Pagi Salatiga

Prof Gatot Sasongko Guru Besar UKSW

Foto dok IST

Prof Gatot Sasongko Guru Besar UKSW

RASIKA FM.COM | SALATIGA – Rencana Wali Kota Salatiga Robby Hernawan yang akan merelokasi pedagang pasar pagi di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Salatiga, Jawa Tengah menuai pro-kontra di masyarakat. Rencananya penataan kawasan tersebut akan digunakan untuk pembangunan pasar modern. Sehingga para pedagang pasar pagi harus dipindahkan dari lokasi tersebut.

‎Menanggapi hal itu, Guru Besar Ekonomi Pembangunan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Prof Gatot Sasongko angkat bicara. Dia menjelaskan, pasar merupakan pertemuan antara penjual dan pembeli. Namun banyak yang terlibat dalam ekosistem pasar. Bukan hanya penjual dan pembeli yang terlibat, tetapi banyak pihak antara lain, seperti pengguna jalan (masyarakat), sopir alat transportasi, tukang parkir, tukang ojek, dan sebagainya.

‎”Sehingga dampak relokasi tidak hanya terbatas pada penjual dan pembeli. ‎Secara teori, pasar yang keberadaan tadinya terbentuk tanpa campur tangan pemerintah, ketika ada campur tangan pemerintah akan ada kerugian sosial (deadweight loss),” terang Prof Gatot.

‎Dijelaskan, campur tangan dengan dalih penataan bisa jadi akan menguntungkan pengguna Jalan Jendral Sudirman. Sebab perjalanan menjadi lancar, tetapi akan merugikan pengguna jalan ditempat relokasi atau hanya memindah kemacetan.

‎”Dari sisi pengguna jalan, keuntungan didapatkan oleh pengguna jalan di Jalan Jendral Sudirman. Namun akan menjadi kerugian pengguna jalan di Pasar Rejosari yang lebar jalannya justru lebih sempit,” ungkap Gatot.

‎Dari sudut pandang pembeli, kata Prof Gatot, pembeli di dekat Pasar Rejosari diuntungkan karena lebih dekat, tetapi pembeli lain yang jumlahnya lebih banyak akan dirugikan. Sebab mereka lebih jauh untuk membeli barang yang diinginkan.

‎”Kemudian tempat parkir di tempat baru, yang bisa digunakan lebih sempit. Belum lagi tempat yang baru tentu membutuhkan waktu untuk mencari pedagang langganannya. Karena biasanya pembeli sudah mempunyai langganan tempat membeli barang,” kata Prof Gatot.

‎Diakuinya, dalam rencana relokasi itu, pihak yang paling dirugikan adalah penjual. Sebab dengan tempat yang baru berarti harus mencari pelanggan baru. Sisi lain, kalau di di Pasar Rejosari sudah ada penjual yang menjual barang yang sama, kedatangan penjual baru akan merugikan pedagang lama karena ada pesaing baru.

‎”Segi lain yang perlu dipertimbangkan adalah tempat parkir, lapak tempat berjualan dan fasilitas lain yang diperlukan,” ujarnya.

‎Terkait dengan rencana penggunaan kawasan Jalan Jenderal Sudirman untuk pembangunan pasar modern atau hal lainnya, lanjut Prof Gatot, revitalisasi lokasi tersebut perlu direncanakan secara matang. Termasuk kemana pedagang akan direlokasi ke tempat yang baru.


‎Berdasarkan pertimbangan ‎itu seharusnya dipikirkan oleh pemangku kebijakan sebelum rencana relokasi dilakukan. Selain itu, Pasar Pagi oleh beberapa pihak dianggap semrawut. Namun seharusnya lokasi tersebut bisa ditata lebih baik dan tidak menimbulkan masalah.

‎”Seharusnya pasar pagi itu bisa ditata tidak harus dengan memindahkan mereka. Penataan lapak tempat berjualan, pengaturan waktu berjualan, penataan parkir dan masih dimungkinkan untuk dilakukan. Di satu pihak untuk menghindarkan kerugian sosial, di pihak lain mendorong munculnya daerah pertumbuhan baru,” tegas Prof Gatot.

BACA JUGA :

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga kembali menggelar Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026 di Balairung UKSW, Kamis (10/9/2026). Mengusung tema “Lentera Harmoni”, kegiatan tahun keempat ini menampilkan inovasi ramah lingkungan dari 15 fakultas. GIHN juga mendorong kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan UMKM agar riset menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
GIHN 2026 UKSW, Ubah Inovasi Ramah Lingkungan Menjadi Dampak Nyata bagi Masyarakat
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengikuti East Asia Student Encounter (EASE) 2026 di Kwansei Gakuin University, Jepang, selama 18 hari hingga 18 Agustus 2026. Program bertema Manifest the Dream: Our Journey Toward Peace in a Divided World ini memperkuat pertukaran budaya, jejaring internasional, dan pendidikan perdamaian melalui berbagai kegiatan akademik, budaya, serta diskusi lintas negara.
15 Mahasiswa UKSW Ikuti EASE 2026 di Jepang, Rayakan Misi Perdamaian Dunia
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Muat Lebih

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Tol Jogja-Bawen masih menunggu tindak lanjut Pemkab Semarang. Warga telah memilih lahan pengganti sekitar 5.000 meter persegi, tetapi proses pembelian belum berjalan. Kepastian dibutuhkan karena makam lama masih digunakan dan menampung sekitar 550 makam.
Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas
Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Trans Banyumas Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Trans Banyumas: Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Haryono (58), warga Desa Diwak, Bergas, Kabupaten Semarang, selamat dari tenggelamnya KM Virgo 8 di perairan Masalembo, Minggu (13/9/2026). Ia bersama sembilan korban lain bertahan di rakit penolong sebelum ditemukan kapal nelayan. Haryono mengaku mengalami sejumlah kejadian yang dianggapnya sebagai firasat sebelum kapal berangkat menuju Kalimantan Tengah.
Cerita Korban Selamat Kapal Virgo Asal Kabupaten Semarang, Nasi Berkat yang Tumpah hingga Mimpi Kapal Tenggelam
[pekok2]