URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menilai Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus bersaing dengan ritel modern. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau Kopdes Merah Putih di Bergas Kidul dan Lodoyong, Selasa (21/7/2026), dengan syarat kelengkapan barang, dukungan fasilitas, dan kepastian regulasi pengelolaan koperasi terus diperkuat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

DPRD Kabupaten Semarang Nilai Kopdes Merah Putih Berpotensi Saingi Ritel Modern, Asal Pasokan Barang Lengkap

DPRD Kabupaten Semarang Nilai Kopdes Merah Putih Berpotensi Saingi Ritel Modern, Asal Pasokan Barang Lengkap

DPRD Kabupaten Semarang Nilai Kopdes Merah Putih Berpotensi Saingi Ritel Modern, Asal Pasokan Barang Lengkap

Warga berbelanja telur di KKMP Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Selasa (21/7/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Komisi B DPRD Kabupaten Semarang menilai Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih memiliki peluang besar menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mampu bersaing dengan ritel modern. Namun, hal itu harus didukung dengan kelengkapan barang dan kepastian regulasi pengelolaan koperasi.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto, usai melakukan kunjungan ke Kopdes Merah Putih Bergas Kidul dan Koperasi Kelurahan Merah Putih Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Selasa (21/7/2026).

Menurut Said, Kopdes Merah Putih Bergas Kidul telah memiliki sarana pendukung yang memadai dan mencatat omzet sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari. Namun, kelengkapan barang dagangan masih perlu ditingkatkan.

“Kalau barangnya bisa selengkap minimarket modern, ditambah barang-barang subsidi seperti LPG, beras, minyak goreng, hingga pupuk tersedia, saya kira koperasi ini bisa bersaing karena lokasinya juga strategis,” ujarnya.

Sementara itu, di Kelurahan Lodoyong, Said mengapresiasi perkembangan koperasi yang dibentuk langsung oleh masyarakat. Dalam waktu sekitar sembilan bulan sejak berbadan hukum, jumlah anggotanya meningkat dari tiga orang menjadi 157 orang dengan omzet harian mencapai sekitar Rp3,5 juta.

Meski demikian, ia menyoroti belum adanya pedoman teknis mengenai pengelolaan aset, keanggotaan, hingga hubungan antara koperasi yang sudah lama berdiri dengan koperasi baru dalam program nasional tersebut.

“Kami masih menunggu pedoman itu. Jangan sampai keberadaan koperasi baru justru menghilangkan koperasi yang sudah ada sebelumnya,” katanya.

Menanggapi kekhawatiran bahwa koperasi akan mematikan toko kelontong, Said menegaskan konsep Kopdes Merah Putih justru untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

“Harapannya koperasi menjadi pemain ekonomi yang kuat sehingga ekonomi tidak hanya dikuasai swasta. Ini bentuk konsolidasi ekonomi berbasis kebersamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih Lodoyong, Tri Sasmiyarti, mengatakan kendala utama yang dihadapi saat ini bukan operasional, melainkan keterbatasan sarana dan fasilitas. Ia menjelaskan koperasi yang berdiri sejak November 2025 tersebut kini mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mengklaim menjadi salah satu koperasi dengan omzet tertinggi di Jawa Tengah. Untuk menjaga harga tetap murah, koperasi menjalin kerja sama langsung dengan sejumlah produsen.

“Kami konsepnya grosir. Bahkan ada pedagang pasar yang mengambil barang dari sini karena harganya lebih murah,” ujarnya.

Saat ini koperasi memiliki 12 agen di tingkat RW dan bermitra dengan 23 pelaku UMKM. Tri menegaskan keberadaan koperasi tidak mematikan usaha kecil, melainkan menjadi pemasok barang bagi para pedagang.

“Kami tidak mengambil pasar mereka. Justru mereka yang berjualan, kami yang menyuplai barang dengan harga lebih murah,” katanya.

Meski demikian, koperasi masih menghadapi kendala dalam penyediaan gudang dan armada distribusi. Selama ini kendaraan operasional masih harus menyewa sehingga biaya distribusi menjadi lebih tinggi.

“Harapannya, kami juga mendapatkan fasilitas. Sehingga bisa menekan biaya operasional,” jelasnya.

Salah seorang warga Pandean, Kelurahan Lodoyong, Ani Alfianti (53), mengaku merasakan manfaat kehadiran koperasi tersebut. Ia mengatakan harga LPG 3 kilogram di koperasi sekitar Rp19 ribu, lebih murah dibandingkan di luar yang mencapai sekitar Rp22 ribu. Selain gas, ia juga rutin membeli beras, telur, dan tepung di koperasi karena lokasinya dekat dengan rumah.

“Enak, dekat dari rumah dan harganya lebih murah,” ujarnya. (win)

BACA JUGA :

Rencana pembangunan PLTP di kawasan Gunung Ungaran berpotensi berdampak pada sekitar 540 KK di Dusun Darum, Ngipik, dan Talun, Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang. Hingga Rabu (2/9/2026), pemerintah desa mengaku belum menerima informasi resmi maupun sosialisasi terkait proyek tersebut dan meminta keterbukaan kepada masyarakat.
Ratusan KK di Desa Candi Berpotensi Terdampak Geothermal Gunung Ungaran
Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.
Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak
Pekan QRIS Nasional Jateng 2026 Disambut Antusias, Transaksi Digital Makin Diminati
Pekan QRIS Nasional Jateng 2026 Disambut Antusias, Transaksi Digital Makin Diminati
DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi
Seorang pecinta reptil, Galih Rizky F (20), terjatuh ke jurang sedalam sekitar 40 meter saat melakukan herping di kawasan Curug Lawe Benowo Kalisidi (CLBK), Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) malam. Tim SAR gabungan mengevakuasi korban sekitar 2,5 jam kemudian dengan teknik HART. Korban mengalami cedera kepala, lengan, dan tungkai.
Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Dilema Geothermal Ungaran-Telomoyo: Menimbang Maslahat dan Mudarat Energi Bersih
Kepala Dinsos Kabupaten Semarang Istichomah
Penerima Bansos Terindikasi Judol Bakal Dicoret, Dinsos Kabupaten Semarang Buka Pengajuan Sanggahan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved