RASIKAFM.COM | SALATIGA – Majelis Daerah (MD) KAHMI Kota Salatiga sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Membangun Growth Mindset: Kunci Karakter Sepanjang Hayat” di Resto OK GO Salatiga belum lama ini.
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari masyarakat umum dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Salatiga. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi pemaparan materi maupun diskusi.
Seminar ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan moral masyarakat di tengah krisis etika dan laju disrupsi digital yang kian menantang. Forum tersebut menjadi ruang sinergi kolektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur secara konsisten, sekaligus merumuskan navigasi pendidikan karakter yang relevan dengan dinamika global saat ini.
Narasumber pertama, Dr. Edi Kuswanto, M.Pd., Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Syari’ah UIN Salatiga, menegaskan bahwa integrasi Psikologi Humanistik dalam pendidikan Islam dapat menjadi solusi atas fenomena dehumanisasi yang bersifat mekanistik.
Edi mengajak para pendidik memandang peserta didik sebagai “biji benih unggul” yang membawa kemuliaan fitrah sejak lahir. Menurutnya, paradigma pendidikan harus menempatkan guru sebagai “perawat potensi” yang membantu individu mengenal diri, untuk kemudian mengenal Tuhan. Ia memaparkan visi Insan Kamil sebagai puncak perkembangan manusia, ketika potensi diri ditransformasikan menjadi sarana pengabdian spiritual kepada Ilahi.
Dalam praktiknya, Edi mendorong penggunaan metode unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat, yakni memisahkan perilaku buruk siswa dari jati dirinya. Pendekatan ini diyakini dapat menumbuhkan karakter yang bertumpu pada kesadaran autentik atau siddiq.
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. MS Viktor Purhanudin, M.Pd., Dosen UIN Salatiga sekaligus Sekjen Perkumpulan Profesi Musik Indonesia, menyoroti urgensi penguatan karakter di era VUCA untuk menjembatani paradoks antara kemajuan teknologi yang sangat cepat dengan emosi manusia yang masih berada pada tahap purba.
Viktor memperkenalkan konsep Moral Operating System (MOS) sebagai kerangka menyeluruh yang mengintegrasikan logika, rasa, dan laku secara harmonis dalam diri individu. “Stimulus estetika seperti seni berperan melatih sensitivitas rasa agar prefrontal cortex sebagai pusat kendali diri dapat mendominasi emosi primitif atau amygdala,” papar Viktor.
Ia juga mengusung tahapan internalisasi nilai melalui niteni (mengamati), nirokke (menirukan), dan nambahi (mengembangkan hingga menjadi otomatis) guna mentransformasi moralitas menjadi identitas internal yang berintegritas. Menurutnya, ekosistem sekolah memegang peran besar karena desain fisik maupun sosial di lingkungan sekolah berfungsi sebagai “kurikulum tersembunyi” yang secara otomatis membentuk perilaku moral siswa.
Koordinator Presidium MD KAHMI Kota Salatiga, Prof. Dr. Mukti Ali, M.Hum., dalam pernyataan reflektifnya menegaskan esensi pertemuan tersebut. Ia menyebut agenda ini sebagai manifestasi nyata tanggung jawab moral organisasi terhadap masa depan bangsa di tengah gempuran disrupsi.
“Seminar ini adalah ikhtiar khidmah KAHMI dalam merawat martabat kemanusiaan. Konsep growth mindset harus menjadi kompas bagi setiap pribadi agar terus bertransformasi dengan tetap berpegang pada akar nilai luhur, karena karakter adalah jangkar utama saat badai perubahan menerpa,” tutupnya.