URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Salatiga Eco Park hadir sebagai destinasi wisata edukasi yang memadukan budaya dan sains. Dikelola Roy Wibisono, kawasan seluas lima hektare ini berlokasi di Salib Putih, Salatiga, dan dikenalkan kepada publik untuk memperkuat edukasi ramah lingkungan melalui praktik langsung profesi, science, dan seni demi melestarikan budaya sekaligus mengurangi sampah plastik.

Mbak Google

KABAR RASIKA

SAE Lestarikan Bumi, Genjot Wisata Edukasi dengan Sovenir Ecogreen

SAE Lestarikan Bumi, Genjot Wisata Edukasi dengan Sovenir Ecogreen

SAE Lestarikan Bumi, Genjot Wisata Edukasi dengan Sovenir Ecogreen

featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Menyatukan budaya dan science menjadi keunikan dan daya tarik tersendiri bagi destinasi wisata terbaru di Salatiga. Salatiga yang dikenal sebagai kota pelajar dengan toleransi tinggi antar masyarakatnya, bahkan di sebut sebagai Indonesia mini, kini semakin dilengkapi kemeriahannya dengan hadirnya Salatiga Eco Park (SAE).

Merujuk pada konsep eco green, Salatiga Eco Park yang terhampar di lahan 5 hektare ini menyuguhkan dua hal istimewa, yakni modernisasi ilmu pengetahuan dan budaya lama nenek moyang bangsa Indonesian yang sedikit demi sedikit mulai di lupakan karena tergerus arus kemodernan.

Tempat wisata yang terhampar di kawasan Salib Putih memantabkan diri sebagai wisata edukasi terlengkap di Indonesia. Terbagi dalam 3 bagian edukasi, yaitu Edukasi profesi, yang terdiri dari beberapa gubug, Edukasi pojok science, serta art work. Roy Wibisono, pemilik SAE juga menjelskan, ” Edukasi yang kami usung adalah edukasi yang memberikan pengalaman praktek langsung, sehingga anak- anak memiliki gambaran nyata tentang profesi jaman dahulu ataupun bagaimana sebuah alat bekerja. Sebagai contoh anak- anak bisa belajar bagaimana menggunakan canting di gubug batik, bagaimana seorang empu membentul keris di gubug pande besi, serta bagaimana lampu pijar mampu menyala, itu bagaimana rangkaian alatnya, Anak-anak bisa mempraktekkan sendiri, ” ungkapnya.

Sementara pada bagian Art Work pengunjung akan disuguhi alat-alat modern pada jamannya, jaman dulu, seperti telepon jaman kuno, layar tancep, serta foto jadul. ” Kami menginginkan pengunjung yang telah datang dan menikmati SAE akan pulang dengan mendapatkan ilmu, sehingga kunjungannya ke SAE itu beanfaat, ” lanjut Roy pemilik SAE.

Pada bagian akhir perjalanan, pengunjung akan mendapatkan sovenir cantik nan segar, yakni bibit pohon cabai.menariknya, bibit pohon yang diberikan kepada pengunjung ini ditanam di gelas plastik bekas minuman yang dikonsumsi pengunjung. Sebagaimana prinsip SAE yang ingin menyunguhkan Eco green dan mengurangi sampah plastik, untuk kelestarian bumi.

BACA JUGA :

Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional
Mahasiswa KKN Tim II Undip 2026 mengembangkan potensi ekonomi dan pangan lokal di Desa Purworejo, Wonogiri, selama program pengabdian masyarakat. Sebanyak 10 mahasiswa mendampingi UMKM memanfaatkan Google Maps, QRIS, media sosial, dan website untuk pemasaran, sekaligus mengolah singkong dan ikan lele menjadi BoLeSi sebagai alternatif makanan tambahan bergizi bagi balita.
KKN Undip Dorong Transformasi Desa Purworejo Wonogiri melalui Inovasi Pangan dan Digitalisasi Sektor Ekonomi
Rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran untuk PLTP masih dalam tahap kajian dan belum memasuki pelaksanaan, kata Pemkab Semarang, Kamis (20/8/2026). Pemerintah masih menunggu hasil penelitian potensi geothermal, sekaligus memastikan aspek lingkungan, keamanan, aktivitas warga, dan keberadaan Candi Gedongsongo tetap terlindungi.
Pengembangan Panas Bumi Gunung Ungaran untuk PLTP Bakal Dilanjut, Pemkab Semarang: Masih Tahap Kajian
Satpol PP Kota Salatiga mengedukasi dan mengajak pedagang kaki lima (PKL) bermotor yang berjualan di lingkar dalam Alun-alun Pancasila untuk pindah secara sukarela, Rabu (19/8/2026). Langkah tersebut dilakukan karena aktivitas berjualan dan parkir kendaraan di area tersebut dilarang, sekaligus untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan warga dengan pendekatan humanis.
Humanis! Cara Kabid Ketertiban Satpol PP Salatiga Rayu PKL agar Mau Pindah Sukarela
Artis nasional Anang Hermansyah dan Ashanty mengunjungi Kota Salatiga pada Selasa (18/8/2026) malam untuk menjajaki pemanfaatan sejumlah lokasi sebagai tempat pengambilan gambar film. Didampingi Wali Kota Salatiga Robby Hernawan, rombongan juga menikmati suasana kota sekaligus mengenal potensi budaya, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif setempat.
Kenakan Blangkon Pecis dan Syal Motif Khas Salatiga, Artis Anang dan Ashanty Keliling Kota

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

20 Agustus 2026
Setelah sekitar 21 tahun terpisah dari keluarga, Nuryanto, warga Bugel, Sidorejo, Salatiga, akhirnya kembali ke rumah setelah ditemukan di Rumah Rehabilitasi Jalma Sehat, Kudus. Informasi tentang asalnya dari Salatiga ditelusuri relawan dan Dinas Sosial hingga identitasnya dipastikan oleh keluarga.
Setelah 21 Tahun Menghilang, Nuryanto akhirnya bisa Pulang ke Salatiga
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Trans Jateng Menuju Transportasi Publik Hijau, Terjangkau, dan Terintegrasi di Jawa Tengah
Warga Dusun Tetep, Kelurahan Randuacir, Argomulyo, Salatiga, menggelar tradisi merti dusun atau sedekah bumi di Sendang Gambir pada 19 Agustus. Kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus upaya merawat warisan leluhur, sumber mata air bersejarah, kesenian lokal, serta toleransi antarumat beragama melalui doa bersama dan pertunjukan budaya.
50 Tahun Lebih Warga Dusun Tetep Salatiga Gelar Ritual Tahunan Saparan