URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
SD Dancingbee School Salatiga mengajarkan siswanya berkebun dan menjual hasilnya sejak dini, sebuah inovasi yang biasanya hanya diterapkan di tingkat SMK. Dengan menggandeng Rumah Maya Saura di Pabelan, Kabupaten Semarang, siswa diajarkan membuat pupuk kompos, merawat tanaman, hingga memanennya.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Siswa SD Dancingbee School Salatiga Punya Progam Berkebun, Seperti apa Konsepnya?

Siswa SD Dancingbee School Salatiga Punya Progam Berkebun, Seperti apa Konsepnya?

Siswa SD Dancingbee School Salatiga Punya Progam Berkebun, Seperti apa Konsepnya?

SD Dancingbee School Salatiga mengajarkan siswanya berkebun dan menjual hasilnya sejak dini, sebuah inovasi yang biasanya hanya diterapkan di tingkat SMK. Dengan menggandeng Rumah Maya Saura di Pabelan, Kabupaten Semarang, siswa diajarkan membuat pupuk kompos, merawat tanaman, hingga memanennya.
Foto dok IST
Siswa SD Dancingbee School Salatiga saat belajar menanam tanaman dengan metode organik di Rumah Maya Saura, Pabelan.
featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Biasanya progam pertanian atau perkebunan hanya menjadi program pada tingkat SMK, namun di SD Dancingbee School Salatiga ternyata memiliki inovasi mengajarkan siswanya untuk berkebun dan menjual hasilnya sejak usia dini.

Tidak tanggung-tanggung, untuk membuat program tersebut pihak sekolah menggandeng Rumah Maya Saura di wilayah Pabelan, Kabupaten Semarang.

Di tempat itu siswa diajarkan mulai dari pembuatan pupuk kompos, merawat tanaman, sampai dengan memanennya. Selanjutnya siswa mengolahnya dan menjualnya.

Salah seorang guru SD Dancingbee Salatiga Nauly Natra Sari mengaku, program tersebut dilakukan untuk merespons isu perubahan iklim dan permasalahan sampah.

Sehingga dalam program ini siswa kelas 1-2 diajarkan untuk memanfaatkan sampah untuk kompos hingga merawat tanaman.

“Jadi anak-anak diajarkan membuat kompos, menanam, merawat, hingga panen. Mereka setiap sepekan sekali datang ke kebun ini untuk merawat tanamannya. Kemudian setelah panen mereka akan menjualnya,” kata Nauly.

Diakuinya, lewat kegiatan itu selain mengajarkan anak untuk bertanggungjawab merawat tanamannya, juga untuk mengajarkan anak-anak untuk berwirausaha sejak dini.

“Nantinya setelah dapat ilmunya, kita akan buat skala kecil di sekolah. Jadi anak-anak bisa merawatnya ketika di sekolah dan setiap minggunya anak-anak ke sini untuk merawat tanamannya juga,” terang Nauly.

Sementara itu, salah seorang orang tua siswa Danik menyambut baik program yang dilakukan oleh SD Dancingbee School. Menurutnya, dengan program ini anak-anak bisa memiliki pengalaman berkebun sejak dini.

“Ini melatih anak bertanggungjawab terhadap kegiatannya. Apalagi ke depan ini juga akan menghasilkan pendapatan bagi anak. Selain itu, juga bisa diaplikasikan saat di rumah,” katanya.

Senada, salah seorang orang tua siswa, Devi menyebut, dengan anaknya diajarkan berkebun ini akan menjadi peluang untuk anak-anak berwirausaha. Terutama saat ini lahan yang semakin sempit karena banyak pembangunan.

“Jadi anak-anak bisa memanfaatkan lahan yang semit untuk menghasilkan makanan yang sehat. Di rumah nanti juga ada rencana untuk membuat kebun kecil. Nanti yang diajarkan di sini akan saya terapkan,” kata Devi.

BACA JUGA :

Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Ratusan siswa SMK Negeri 1 Salatiga menggelar aksi di lingkungan sekolah pada Senin untuk mempertanyakan perubahan rencana pembangunan fasilitas yang sebelumnya disepakati sebagai ruang ekspresi siswa. Aksi muncul setelah siswa mendapat informasi lahan tersebut akan digunakan untuk ruang praktik. Kepala sekolah menyebut persoalan terjadi akibat miskomunikasi dan memastikan ruang ekspresi tetap dibangun di lokasi berbeda, sementara sekolah menggelar audiensi untuk menjelaskan perubahan tersebut.
Merasa Kecewa dengan Sekolah, Ratusan Siswa SMK 1 Salatiga Gelar Aksi Demo
Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga mewisuda dua mahasiswa difabel pada Wisuda ke-12 yang digelar pada 24–25 Juli 2026 sebagai wujud komitmen menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang inklusif. Kampus menegaskan kesetaraan akses pendidikan melalui penyediaan layanan ramah disabilitas, sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama, sekaligus mewisuda total 1.299 lulusan pada periode tersebut.
Wisuda ke-12 UIN Salatiga, Dua Mahasiswa Difabel Sukses Raih Gelar Sarjana
Tetap Produktif di Usia Senja, 112 Peserta Sekolah Lansia Pancasila Kabupaten Semarang Diwisuda
Tetap Produktif di Usia Senja, 112 Peserta Sekolah Lansia Pancasila Kabupaten Semarang Diwisuda
SD Negeri Bener 01 di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, menyediakan layanan mobil antar pulang bagi siswa menggunakan bekas angkot yang dibeli dari hasil patungan guru. Program yang mulai berjalan sejak Juni 2026 ini bertujuan membantu orang tua yang kesulitan menjemput anak sekaligus meningkatkan keselamatan siswa karena lokasi sekolah berada di tepi Jalan Raya Semarang–Solo yang padat lalu lintas.
Gani, Guru Olah Raga SD Bener Tengaran, Pagi Mengajar Siang antar Siswa Pulang
MPLS di SMA Sainstek Salatiga, Siswa dan Guru ikuti Psikotes untuk Penguatan Karakter
MPLS di SMA Sainstek Salatiga, Siswa dan Guru ikuti Psikotes untuk Penguatan Karakter

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang mengungkap kasus perampokan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, melalui jejak salah satu tersangka saat menggunakan jasa ojek online dari Grobogan menuju Ambarawa. Polisi menelusuri pengemudi GoRide yang menerima satu unit handphone sebagai pembayaran hingga memperoleh identitas tersangka. Penyidik juga menyebut motif perkara berkaitan dengan persoalan ekonomi dan masih melengkapi berkas sebelum diserahkan kepada kejaksaan.
Terungkap Lewat Histori Ojol, Perampok Royal Phone Bayar Gojek Pakai HP Hasil Kejahatan
Seorang pelajar kelas 10 SMK Bakti Nusantara berinisial KM (16) ditilang Satlantas Polres Salatiga karena mengendarai sepeda motor dengan knalpot tidak sesuai spesifikasi di pertigaan Cebongan, Selasa (11/8/2026). Polisi menilai suara knalpot brong mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Selain penindakan, Kasat Lantas AKP Henry Sulistyanta memberikan edukasi agar pelajar tidak menggunakan knalpot yang menimbulkan kebisingan.
Tertangkap Basah Gunakan Knalpot Brong di Pertigaan Cebongan, Siswa SMA di Salatiga Tertunduk Lesu
Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved