KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Nayir Warga Salatiga, Olah Limbah Kayu dan Batok Kelapa, Menjadi Barang yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Nayir Warga Salatiga, Olah Limbah Kayu dan Batok Kelapa, Menjadi Barang yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Nayir Warga Salatiga, Olah Limbah Kayu dan Batok Kelapa, Menjadi Barang yang Bernilai Ekonomi Tinggi

Komunitas Latar Kalitan, yang berbasis di kampung Grogol Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga, menunjukkan dedikasinya dalam mengurangi sampah dan menyelamatkan lingkungan dengan mengolah bahan tak terpakai menjadi produk bernilai ekonomis.
Foto dok Ade
Nayir, saat merubah barang tidak berguna menjadi lebih bermanfaat di workshop Latar Kalitan Sidomukti Salatiga.

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Mengolah bahan tak terpakai hingga memiliki nilai ekonomis, banyak dilakukan para perajin. Namun, bagi komunitas Latar Kalitan, penggunaan bahan-bahan tak terpakai tersebut juga bertujuan untuk mengurangi sampah demi penyelamatan lingkungan.

Triyan Hendra (28) salah satunya, dia mampu mengolah limbah kayu, bunga pinus, bambu, ban motor, dan batok kelapa. Bahan-bahan tersebut, dibuat menjadi barang yang laku dijual seperti pipa rokok, gembes minuman, aksesoris seperti gantungan kunci dan cincin, serta pot bunga.

“Untuk bambu itu kami dapatkan dari sisa pembuatan tusuk sate, batok kelapa dari rumah tangga, sementara bunga pinus dari area Gunung Merbabu, yang jatuh di tanah itu diolah,” ungkapnya, Jumat (15/3/2024) di tempat workshop Latar Kalitan kampung Grogol Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Kota Salatiga.

Nayir, panggilan Triyan, mengatakan proses pembuatan barang-barang tersebut tak terlalu sulit. “Kalau prosesnya itu mudah, yang penting telaten. Karena ini barang tak terpakai, terpenting itu harus steril dan nyaman saat digunakan,” kata dia.

“Prosesnya, bahan dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Lalu dilem sebagai perekat, kemudian finishing. Prosesnya kalau untuk pipa sekira dua hari dan gembes lebih lama, karena harus dites untuk kebocoran, total empat sampai lima hari,” kata Nayir.

Untuk harga jual, pipa kisaran Rp 30.000 hingga Rp 100.000, pot Rp 15.000 dan gembes Rp 150.000. Sementara aksesoris mulai Rp 10.000. Selain melalui online, barang produksi anggota Latar Kalitan tersebut dipasarkan melalui pameran komunitas-komunitas.

Nayir mengungkapkan, produk Latar Kalitan diproduksi secara manual. “Alat-alatnya manual, jadi proses pembuatan agak lama. Meski begitu, produknya cukup diminati dan ada pembeli dari Cirebon, Blora, Semarang, Semarang, dan lokal Salatiga,” kata dia.

Pengurus Latar Kalitan Teni Ardian mengatakan fokus komunitasnya adalah penyelamatan lingkungan dan kebudayaan. “Kami secara berkala melakukan penanaman bibit pohon di lereng Gunung Merbabu, terutama di Desa Tajuk Kecamatan Getasan sebagai upaya rehabilitasi pasca kebakaran. Selain itu juga ada kebun bibit yang dikerjakan oleh teman-teman,” jelasnya.

Teni mengungkapkan Latar Kalitan terbentuk pada medio 2016. Sejak saat itu, komunitas ini seringkali berkolaborasi dengan komunitas lain dalam berkegiatan. “Kami aktif di musikalisasi puisi, wayang gondes, dan kesenian lain. Itu biasa ditampilkan saat ada even lingkungan, termasuk acara Festival Sumur Wali yang diadakan setiap tahun,” tutupnya.

Kabar Terkini

POPULER

Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT) menjadi salah satu upaya memperkuat mitigasi bencana di Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga. Hal itu dibahas dalam Forum Konsultasi Publik di Hotel Aston Semarang, Senin (28/9/2026), untuk menyamakan pemahaman serta mendorong pemanfaatan data dalam perencanaan pembangunan dan kesiapsiagaan masyarakat.
Peta Zona Gerakan Tanah Kabupaten Semarang-Salatiga Dibahas, Mitigasi Jadi Perhatian
Seorang siswa kelas 4 SD Hj Isriati Moenadi, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, berinisial R diduga menjadi korban perundungan oleh teman sekelas pada Rabu (23/9/2026). R mengalami sejumlah memar, luka di belakang telinga, bibir pecah, serta trauma setelah kejadian. Pihak sekolah mengaku telah memberikan konsekuensi kepada siswa yang terlibat dan menyiapkan pembinaan serta upaya pemulihan kondisi psikologis korban.
Diduga Jadi Korban Perundungan Berulang, Siswa SD Hj Isriati Moenadi Ungaran Alami Luka hingga Trauma
Relokasi Makam Wonokendeng di Lingkungan Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang terdampak pembangunan Tol Jogja-Bawen masih menunggu tindak lanjut Pemkab Semarang. Warga telah memilih lahan pengganti sekitar 5.000 meter persegi, tetapi proses pembelian belum berjalan. Kepastian dibutuhkan karena makam lama masih digunakan dan menampung sekitar 550 makam.
Makam Wonokendeng Terdampak Tol Jogja-Bawen, Warga Sudah Pilih Lahan Baru tapi Relokasi Belum Jelas
Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
[pekok2]