URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Rencana pengeboran panas bumi di kawasan Gunung Ungaran mulai membuat warga Desa Candi, Bandungan, Kabupaten Semarang, gelisah karena belum mendapat penjelasan langsung mengenai lokasi, mekanisme, dan dampaknya. Warga khawatir aktivitas tersebut memengaruhi sumber air dan pertanian, sementara pemerintah maupun pihak terkait belum melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak

Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak

Isu Pengeboran Gunung Ungaran Bikin Warga Candi Gelisah, Khawatir Sumber Air dan Pertanian Terdampak

Kawah yang berlokasi di dalam kompleks objek wisata Candi Gedong Songo, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang terlihat aktif menyemburkan uap belerang, Selasa (1/9/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Ungaran mulai menjadi perhatian warga di sekitar kawasan wisata Candi Gedong Songo, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Sejumlah warga mengaku telah mendengar informasi mengenai rencana pengeboran geothermal. Namun, hingga kini mereka belum memperoleh penjelasan secara langsung dari pemerintah maupun pihak terkait mengenai rencana tersebut, termasuk lokasi, mekanisme pengeboran, serta potensi dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Salah satunya Sriyanah (50), pedagang yang telah berjualan sekitar 30 tahun di kawasan Candi Gedong Songo. Warungnya berada tepat berhadapan dengan kawasan kawah belerang di bawah Candi Gedong Songo, yang menjadi salah satu lokasi tujuan wisatawan.

Ia mengaku sudah mendengar kabar mengenai rencana pengeboran geothermal. Namun, informasi tersebut baru sebatas kabar yang beredar di tengah masyarakat.

“Sudah pada tahu, cuma belum ada perkumpulan masyarakat yang membahas itu,” kata Sriyanah saat ditemui di warung miliknya, Selasa (1/9/2026).

Ia mengaku tidak terlalu takut dengan rencana tersebut, tetapi khawatir jika aktivitas pengeboran nantinya berdampak terhadap sumber air dan kondisi lingkungan di kawasan pegunungan. Menurutnya, sebagian besar warga di sekitar Gedong Songo menggantungkan kehidupan dari pertanian. Karena itu, berkurangnya ketersediaan air dinilai dapat berpengaruh langsung terhadap tanaman dan penghidupan warga.

“Kalau airnya kurang, orang tani di sini bagaimana? Tanamannya tidak bagus. Tanah bisa kering,” ujarnya.

Sriyanah juga mengkhawatirkan perubahan kondisi lingkungan di kawasan pegunungan dapat memicu persoalan lain, seperti banjir hingga longsor. Kekhawatiran tersebut muncul lantaran kawasan di sekitar warungnya memang memiliki aktivitas panas bumi alami. Ia menyebut terdapat kawah yang hingga kini masih aktif mengeluarkan belerang.

“Yang paling aktif ya di sini. Kalau dulu semburannya besar, sekarang kecil,” ungkapnya.

Menurut dia, aktivitas keluarnya belerang juga dipengaruhi kondisi cuaca. Saat musim hujan, semburan belerang disebut lebih banyak dibandingkan ketika musim kemarau. Meski demikian, Sriyanah mengatakan selama puluhan tahun berjualan di kawasan tersebut, belum pernah terjadi semburan lumpur maupun letusan yang membahayakan warga.

Budi, salah satu warga Dusun Darum, Desa Candi, mengatakan keresahan warga lebih banyak disebabkan minimnya informasi mengenai rencana geothermal tersebut.

“Warga sebenarnya merasa resah, tapi secara pengetahuan mereka belum tahu secara detail informasinya seperti apa dan bagaimana mekanismenya,” katanya.

Menurut Budi, kekhawatiran utama warga berkaitan dengan dampak pengeboran terhadap sektor pertanian. Mayoritas masyarakat di kawasan tersebut masih menggantungkan kehidupan dari pertanian. Ia menyebut sekitar empat bulan lalu sempat ada sejumlah kelompok yang melakukan penelitian di kawasan sekitar rencana lokasi. Namun, warga belum mengetahui secara pasti tujuan dan hasil penelitian tersebut.

“Bahasanya penelitian, tapi arahnya mau ke mana masyarakat juga belum tahu. Tidak ada komunikasi sama sekali,” ujarnya.

Budi menyebut lokasi yang diketahui pernah menjadi sasaran survei berada di kawasan Posong dan sekitar sumber air panas. Salah satu titik berada di lahan pertanian milik warga. Dari informasi yang diketahui warga, jarak titik tersebut dengan permukiman sekitar satu kilometer.

“Untuk posko maupun petisi (penolakan) belum ada. Warga masih menunggu, jadi atau tidaknya juga belum tahu,” katanya.

Sementara itu, salah seorang pelaku wisata Candi Gedong Songo, Budi Nugroho, mengatakan isu geothermal saat ini masih dalam tahap kajian. Ia menyebut rencana pengembangan panas bumi tersebut sebenarnya bukan isu baru dan telah disiapkan sejak sekitar dua dekade lalu. Budi mengatakan pada awal 2000-an, sejumlah masyarakat dan tokoh masyarakat Candi Gedong Songo bahkan pernah diajak melihat konsep pengembangan geothermal di Lembang, Bandung. Namun, untuk rencana terbaru, ia mengakui belum ada sosialisasi kembali kepada masyarakat.

“Harapannya ada sosialisasi, penyampaian, pengertian dan pemahaman kepada masyarakat Dusun Darum khususnya dan Candi Gedong Songo pada umumnya,” katanya.

Menurutnya, masyarakat perlu mendapat informasi yang utuh mengenai konsep, mekanisme kerja, hingga potensi keuntungan dan dampak proyek geothermal sebelum rencana tersebut berjalan.

“Dengan demikian, warga tidak hanya menerima informasi dari kabar yang beredar, tetapi dapat memahami secara jelas apa yang akan dilakukan di lingkungan mereka,” tandasnya. (win)

BACA JUGA :

DPRD Kabupaten Semarang meminta pemerintah daerah melakukan kajian menyeluruh sebelum pengembangan energi panas bumi Gunung Ungaran dilanjutkan, Senin (31/8/2026). Dewan menyoroti potensi dampak pengeboran lebih dari 2.000 meter terhadap kondisi geologi, lingkungan, sumber air, cagar budaya, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Legislator Kabupaten Semarang Soroti Risiko Geothermal Ungaran, Ingatkan Dampak Pengeboran
Kejaksaan Negeri Salatiga memberikan penyuluhan hukum dan kampanye antikorupsi kepada sekitar 150 siswa SMAN 3 Salatiga melalui program Jaksa Masuk Sekolah, Senin. Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran hukum, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sejak dini, sekaligus mengenalkan bahaya HIV/AIDS serta pengelolaan sampah kepada para pelajar.
JMS di SMAN 3 Salatiga, Gandeng Berbagai Pihak, “Wujudkan Generasi Emas Anti Korupsi”
Pemkab Semarang menyiapkan anggaran hampir Rp16 miliar untuk pelaksanaan Pilkades serentak yang dijadwalkan pada 14 Desember 2026. Bupati Semarang Ngesti Nugraha mengatakan anggaran tersebut digunakan untuk mendukung seluruh tahapan Pilkades, dengan kebutuhan tambahan dipenuhi melalui efisiensi belanja yang tidak menjadi prioritas.
Pemkab Semarang Tambah Anggaran Pilkades, Belanja Tak Mendesak Jadi Sasaran Efisiensi
WhatsApp Image 2026-08-30 at 22.25
Meriah! Peringatan HUT Paguyuban PKL Setia Kawan ke-24 di Pasaraya Salatiga
WhatsApp Image 2026-08-30 at 21.48
85 Kontingen Meriahkan Pawai Pembangunan dan Budaya Kabupaten Semarang 2026, Hidupkan Semangat Palagan Ambarawa
Seorang pecinta reptil, Galih Rizky F (20), terjatuh ke jurang sedalam sekitar 40 meter saat melakukan herping di kawasan Curug Lawe Benowo Kalisidi (CLBK), Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jumat (28/8/2026) malam. Tim SAR gabungan mengevakuasi korban sekitar 2,5 jam kemudian dengan teknik HART. Korban mengalami cedera kepala, lengan, dan tungkai.
Pecinta Reptil Terjatuh ke Jurang 40 Meter Saat Herping di CLBK Ungaran

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Arti Desil 1 sampai 10
Arti Desil 1 sampai 10
Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved