KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Foto Arief Rasika
Titi Permata menunjukkan kain batik pelindung sinar UV di rumahnya, Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Kain batik sudah dikenal luas sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu, inovasi batik terus dilakukan. Salah satunya yang dilakukan oleh komunitas Soramata, Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng).

Mereka membuat inovasi batik yang tidak hanya bagus untuk dikenakan sebagai pakaian, namun juga bisa melindungi dari sinar ultraviolet (UV).

Founder Soramata Titi Permata mengatakan, inovasi ini dilakukan sebagai jawaban isu lingkungan yang semakin panas, batik bisa juga digunakan untuk melindungi sinar UV. Sehingga menaikan nilai tambah batik. Tidak hanya sebagai fashion saja, lebih dari itu memiliki kegunaan lain.

“Untuk efektivitas melindungi dari sinar UV, kami sudah ukur dengan alat ukur sinar UV. Kami sudah coba di cuaca panas Salatiga dan hasilnya bisa melindungi dengan tingkat 100%. Kalau untuk yang daerah panas ekstrim, kita belum melakukan risetnya,” kata Titi di rumahnya Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (13/6/2025).

Diakuinya, proses pembuatan batik pelindung sinar UV sebetulnya sama dengan batik yang lainnya. Namun ada perbedaan pada penggunaan bahan dasar kainnya.

Jika kain batik biasa menggunakan kain katun yang sudah diolah pabrik, untuk kain batik pelindung sinar UV menggunakan kain katun mentah yang belum diputihkan.

“Dengan jenis kain katun itu, kita juga memilih tingkat kerapatan yang tinggi. Tekstur kainnya lebih tebal, namun tetap dingin di kulit. Sehingga tidak membuat gerah saat dipakai,” ungkap Titi.

Selain itu, batik Soramata juga menggunakan pewarna alami. Di antaranya adalah menggunakan daun teh, daun kopi, kulit manggis, kulit mahoni, dan lainnya. Pewarna alami juga sebagaimenegaskan bahwa Soramata peduli terhadap lingkungan.

“Penggunaan pewarna alami memang membutuhkan waktu yang lama. Proses untuk menghasilkan warna yang diinginkan itu bisa sampai satu bulan. Untuk pewarnaan ke kain bisa celup dan keringkan hingga 30 kali,” jelas Titi.

Tak hanya itu, dalam penggunaan air untuk proses membatik, Titi menggunakan air hujan atau air sumur yang dangkal. Hal itu dilakukan untuk mengurangi penggunaan air yang saat ini juga menjadi isu lingkungan.

“Dalam proses ini, kami juga mengolah limbahnya sehingga aman untuk dikembalikan ke alam,” ujar Titi.

Untuk mendapatkan batik pelindung sinar UV dengan pembuatan yang ramah lingkungan tersebut, kata Titi, harganya mulai dari Rp 1.000.000 per meter.

Namun bagi kalangan muda yang ingin memiliki kain batik tersebut bisa juga membeli dengan ukuran lebih kecil.

“Atau bisa juga mengikuti workshop kami untuk mendapatkan produk kami. Tapi mereka harus bersabar membuat dari potongan-potongan kecil,” ungkap Titi.

Produksi Terbatas

Saat ini kain batik pelindung UV itu juga tersedia dalam bentuk pakaian jadi. Sementara untuk pemasaran masih terbatas dari komunitas.

Sebab belum bisa produksi secara besar, karena masih industri rumahan berbasis komunitas. Meski begitu, produk kain batik pelindung sinar UV sudah pernah dipesan untuk kapal pribadi berbendera Australia.

“Untuk permintaan pertama kami buat dalam bentuk tirai itu untuk kapal pribadi. Kemudian dalam bentuk kain dan hoodie. Kami mulai dari teman-teman di jejaring komunitas,” beber Titi.

Keunikan dan inovasi batik pelindung sinar UV Soramata itu telah diikutsertakan dalam lomba Krenova Kota Salatiga dan mendapatkan peringkat pertama kategori umum. Selanjutnya batik pelindung sinar UV itu akan mewakili Kota Salatiga dalam ajang Krenova tingkat Jawa Tengah.

Titi saat diwawancara Rasika

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]