URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang memperkuat budaya sadar bencana melalui inovasi SADEWA (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana). Program berbasis kolaborasi pentahelix dan digitalisasi ini berhasil meningkatkan jumlah Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi 116 desa hingga 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan edukasi, sistem deteksi dini, KKN Tematik Kebencanaan, serta optimalisasi dana desa guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan menunjukkan aplikasi SADEWA di Aula Kantor BPBD setempat, Rabu (22/7/2026). Foto: win
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan menunjukkan aplikasi SADEWA di Aula Kantor BPBD setempat, Rabu (22/7/2026). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang terus memperkuat budaya sadar bencana melalui inovasi SADEWA (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana). Program berbasis kolaborasi pentahelix dan digitalisasi itu menjadi strategi untuk mempercepat pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan, mengatakan Kabupaten Semarang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi karena karakteristik wilayahnya berupa pegunungan, perbukitan, hingga daerah aliran sungai yang berpotensi mengalami tanah longsor, banjir, angin kencang, kekeringan, maupun kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, menurut dia, membangun budaya sadar bencana harus dimulai dari tingkat desa.

“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek saat terjadi bencana, tetapi harus menjadi subjek yang mampu mengenali ancaman, melakukan pencegahan, memahami jalur evakuasi, hingga mampu melakukan penyelamatan secara mandiri sebelum bantuan datang,” ujarnya ditemui di aula Kantor BPBD Kabupaten Semarang, Rabu (22/7/2026).

Melalui SADEWA, BPBD mengembangkan penguatan kelembagaan Destana, edukasi berkelanjutan, sistem deteksi dini berbasis digital, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, relawan, dan masyarakat.

“Harapannya kesiapsiagaan menjadi budaya kehidupan sehari-hari, bukan hanya muncul ketika bencana terjadi,” katanya.

Alex (sapaan akrabnya) menjelaskan, percepatan pembentukan Destana dilakukan dengan berbagai strategi. Salah satunya melalui efisiensi anggaran. Semula, anggaran pemerintah daerah hanya mampu membentuk tiga Destana setiap tahun. Namun pada 2024 dan 2025, BPBD berhasil menggandakan jumlahnya menjadi enam desa setiap tahun dengan menggabungkan desa-desa yang memiliki karakteristik ancaman bencana serupa.

“Setiap tahun sebenarnya anggaran hanya cukup untuk tiga desa. Tetapi kami ubah strateginya. Desa yang memiliki ancaman sama kami jadikan satu pola pembinaan sehingga bisa menjadi enam desa dalam setahun,” jelasnya.

BPBD juga menggandeng Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kebencanaan.
Sebanyak 10 fasilitator BPBD yang telah bersertifikat diterjunkan untuk mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN di desa-desa rawan bencana.

“Dari KKN tematik itu kami mendapatkan tambahan 66 Desa Tangguh Bencana. Itu menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mempercepat pembentukan Destana,” katanya.

Alex menyebut, hingga akhir 2025 jumlah Destana di Kabupaten Semarang mencapai 90 desa dari sekitar 150 desa yang dikategorikan rawan bencana. Sementara melalui pengembangan program SADEWA hingga 2026, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 116 desa.

“Target kami ke depan seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Semarang menjadi Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana yang terakreditasi secara nasional,” ujarnya.

Menurutnya, BPBD tidak hanya membentuk kelembagaan Destana, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui regulasi.
BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) agar pemerintah desa dapat memanfaatkan dana desa untuk kegiatan penanggulangan bencana.

“Harapan kami muncul Destana yang mandiri. Dana desa sudah bisa digunakan untuk penanggulangan bencana sehingga desa dapat memperkuat kapasitasnya sendiri,” katanya.

Alexander menegaskan Destana tidak dikhususkan hanya untuk bencana alam, tetapi juga bencana nonalam dan bencana sosial. Ia ingin Destana menjadi motor penggerak masyarakat dalam menjaga ketenteraman, ketertiban, sekaligus kesiapsiagaan di tingkat desa.

“Yang kami bangun bukan sekadar organisasinya, tetapi kapasitas masyarakat. Pelatihannya dibuat aplikatif sehingga masyarakat memiliki keterampilan nyata ketika menghadapi bencana,” katanya.

Dalam penerapannya, strategi mitigasi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Kawasan lereng pegunungan diprioritaskan pada mitigasi longsor, sementara wilayah bantaran sungai difokuskan pada kesiapsiagaan banjir. Adapun daerah rawan kekeringan dan kebakaran hutan memiliki pendekatan mitigasi yang berbeda.

“Melalui SADEWA seluruh data ancaman akan terintegrasi secara digital sehingga strategi mitigasi menjadi lebih tepat sasaran dan berbasis data,” ungkapnya.

.

BPBD juga mengoptimalkan komunikasi melalui jaringan relawan dan pemerintah desa. Seluruh ketua Destana telah tergabung dalam grup komunikasi sehingga informasi potensi bencana dapat diteruskan dengan cepat.
Di sisi lain, keterbatasan personel menjadi tantangan tersendiri. Dari total 34 pegawai BPBD, hanya sekitar 16 personel yang efektif bertugas di lapangan.

“Karena itulah kami membangun konsep BPBD Rumah Relawan. Kami menghimpun relawan di 19 kecamatan agar ketika terjadi bencana penanganan bisa lebih cepat. Kami juga bersinergi dengan Polres dan berbagai organisasi relawan,” urainya.

Alex berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, relawan, dan masyarakat melalui SADEWA mampu mempercepat terwujudnya seluruh desa di Kabupaten Semarang sebagai Desa Tangguh Bencana.

“Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, kesiapsiagaan, dan semangat gotong royong,” pungkasnya. (win)

BACA JUGA :

Selama hampir 20 tahun, keluarga Muhroji di Dusun Rejowinangun, Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, hidup tanpa aliran listrik meski tiang listrik telah berdiri di dekat rumah mereka. Hingga Rabu (22/7/2026), permohonan pemasangan listrik belum terealisasi karena diperlukan penambahan jaringan. Kondisi ekonomi yang terbatas membuat keluarga tersebut bertahan menggunakan sentir berbahan bakar minyak goreng sebagai penerangan setiap malam.
20 Tahun Hidup dalam Gelap, Keluarga Miskin di Sumowono Terangi Malam dengan Sentir Jelantah
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) meraih penghargaan Most Impactful University for National Integration dalam ajang Solopos Best Brand and Innovation (SBBI) Awards 2026 di Solo pada 17 Juli 2026. Penghargaan ini diberikan atas kontribusi UKSW dalam menghadirkan pendidikan inklusif, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat melalui berbagai program di bidang kesehatan, lingkungan, pemberdayaan UMKM, serta penguatan ekonomi desa.
Berkat Akademi BUMDes, UKSW Raih Pengakuan Nasional atas Inovasinya
Menjelang Hari Jadi Ke-1276 Kota Salatiga, upaya Pemerintah Kota Salatiga melestarikan Gedung Pakuwon, bangunan cagar budaya yang menjadi lokasi bersejarah Perjanjian Salatiga 1757, masih terkendala komunikasi dengan pemilik yang berdomisili di Semarang. Hingga Selasa (21/7/2026), Disbudpar belum memperoleh respons atas permohonan audiensi sehingga pemerintah berencana menggandeng Pemkot Semarang untuk memfasilitasi pertemuan, sembari menyiapkan langkah pelestarian agar nilai sejarah bangunan tetap terjaga.
Begini Nasib Gedung Pakuwon Salatiga, Pemkot Kesulitan Bertemu Pemilik
Wali Kota Salatiga bersama Ketua DPRD, Sekretaris Daerah, Ketua Tim Penggerak PKK, dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melaksanakan ziarah ke makam para mantan Wali Kota Salatiga pada Senin (21/7/2026) sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-1276 Kota Salatiga. Ziarah dilakukan di TPU Ngemplak dan Makam Sidomulyo untuk mendoakan serta memberikan penghormatan kepada almarhum John Manuel Manoppo dan Letkol Soegiman atas jasa dan pengabdian mereka dalam membangun Kota Salatiga
Jelang Hari Jadi, Robby bersama Istri Tabur Bunga di Makam Mantan Wali Kota
Pemerintah Kabupaten Semarang meluncurkan Sekolah Tani Milenial 2026 untuk mendorong regenerasi petani di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Program yang diikuti 240 peserta itu digelar di Kecamatan Sumowono, Selasa (21/7/2026), dengan pembekalan budidaya, kewirausahaan, dan pemasaran digital guna mencetak petani modern yang mampu menjaga ketahanan pangan.
Tak Malu jadi Petani, Khoirul Mantap Ikut Pelatihan Sekolah Tani Milenial Usai Lulus Kuliah
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menilai Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekaligus bersaing dengan ritel modern. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau Kopdes Merah Putih di Bergas Kidul dan Lodoyong, Selasa (21/7/2026), dengan syarat kelengkapan barang, dukungan fasilitas, dan kepastian regulasi pengelolaan koperasi terus diperkuat.
DPRD Kabupaten Semarang Nilai Kopdes Merah Putih Berpotensi Saingi Ritel Modern, Asal Pasokan Barang Lengkap

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Reformasi Transportasi Publik Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Forum Pelanggan Air Minum Nasional (FORPAMNAS) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IV di Yogyakarta, Jumat (17/7/2026), yang diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai provinsi. Forum ini membahas pembentukan badan regulator air minum, menyusun program kerja serta memilih kepengurusan periode 2026–2030 guna memperkuat perlindungan hak pelanggan, meningkatkan kualitas pelayanan Perumda Air Minum, dan mempererat kolaborasi dengan pemerintah serta para pemangku kepentingan.Munas IV FORPAMNAS di Yogyakarta mendorong pembentukan regulator air minum, memperkuat hak pelanggan, dan meningkatkan pelayanan Perumda Air Minum.
FORPAMNAS Dorong Pembentukan Badan Regulator Air Minum, Munas IV Resmi Digelar di Yogyakarta