KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Lewat SADEWA, BPBD Kabupaten Semarang Bangun Budaya Sadar Bencana dari Desa

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang Alexander Gunawan menunjukkan aplikasi SADEWA di Aula Kantor BPBD setempat, Rabu (22/7/2026). Foto: win

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang terus memperkuat budaya sadar bencana melalui inovasi SADEWA (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana). Program berbasis kolaborasi pentahelix dan digitalisasi itu menjadi strategi untuk mempercepat pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan, mengatakan Kabupaten Semarang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi karena karakteristik wilayahnya berupa pegunungan, perbukitan, hingga daerah aliran sungai yang berpotensi mengalami tanah longsor, banjir, angin kencang, kekeringan, maupun kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, menurut dia, membangun budaya sadar bencana harus dimulai dari tingkat desa.

“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek saat terjadi bencana, tetapi harus menjadi subjek yang mampu mengenali ancaman, melakukan pencegahan, memahami jalur evakuasi, hingga mampu melakukan penyelamatan secara mandiri sebelum bantuan datang,” ujarnya ditemui di aula Kantor BPBD Kabupaten Semarang, Rabu (22/7/2026).

Melalui SADEWA, BPBD mengembangkan penguatan kelembagaan Destana, edukasi berkelanjutan, sistem deteksi dini berbasis digital, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, relawan, dan masyarakat.

“Harapannya kesiapsiagaan menjadi budaya kehidupan sehari-hari, bukan hanya muncul ketika bencana terjadi,” katanya.

Alex (sapaan akrabnya) menjelaskan, percepatan pembentukan Destana dilakukan dengan berbagai strategi. Salah satunya melalui efisiensi anggaran. Semula, anggaran pemerintah daerah hanya mampu membentuk tiga Destana setiap tahun. Namun pada 2024 dan 2025, BPBD berhasil menggandakan jumlahnya menjadi enam desa setiap tahun dengan menggabungkan desa-desa yang memiliki karakteristik ancaman bencana serupa.

“Setiap tahun sebenarnya anggaran hanya cukup untuk tiga desa. Tetapi kami ubah strateginya. Desa yang memiliki ancaman sama kami jadikan satu pola pembinaan sehingga bisa menjadi enam desa dalam setahun,” jelasnya.

BPBD juga menggandeng Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kebencanaan.
Sebanyak 10 fasilitator BPBD yang telah bersertifikat diterjunkan untuk mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN di desa-desa rawan bencana.

“Dari KKN tematik itu kami mendapatkan tambahan 66 Desa Tangguh Bencana. Itu menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mempercepat pembentukan Destana,” katanya.

Alex menyebut, hingga akhir 2025 jumlah Destana di Kabupaten Semarang mencapai 90 desa dari sekitar 150 desa yang dikategorikan rawan bencana. Sementara melalui pengembangan program SADEWA hingga 2026, jumlah tersebut telah meningkat menjadi 116 desa.

“Target kami ke depan seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Semarang menjadi Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana yang terakreditasi secara nasional,” ujarnya.

Menurutnya, BPBD tidak hanya membentuk kelembagaan Destana, tetapi juga memastikan keberlanjutannya melalui regulasi.
BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) agar pemerintah desa dapat memanfaatkan dana desa untuk kegiatan penanggulangan bencana.

“Harapan kami muncul Destana yang mandiri. Dana desa sudah bisa digunakan untuk penanggulangan bencana sehingga desa dapat memperkuat kapasitasnya sendiri,” katanya.

Alexander menegaskan Destana tidak dikhususkan hanya untuk bencana alam, tetapi juga bencana nonalam dan bencana sosial. Ia ingin Destana menjadi motor penggerak masyarakat dalam menjaga ketenteraman, ketertiban, sekaligus kesiapsiagaan di tingkat desa.

“Yang kami bangun bukan sekadar organisasinya, tetapi kapasitas masyarakat. Pelatihannya dibuat aplikatif sehingga masyarakat memiliki keterampilan nyata ketika menghadapi bencana,” katanya.

Dalam penerapannya, strategi mitigasi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah. Kawasan lereng pegunungan diprioritaskan pada mitigasi longsor, sementara wilayah bantaran sungai difokuskan pada kesiapsiagaan banjir. Adapun daerah rawan kekeringan dan kebakaran hutan memiliki pendekatan mitigasi yang berbeda.

“Melalui SADEWA seluruh data ancaman akan terintegrasi secara digital sehingga strategi mitigasi menjadi lebih tepat sasaran dan berbasis data,” ungkapnya.

.

BPBD juga mengoptimalkan komunikasi melalui jaringan relawan dan pemerintah desa. Seluruh ketua Destana telah tergabung dalam grup komunikasi sehingga informasi potensi bencana dapat diteruskan dengan cepat.
Di sisi lain, keterbatasan personel menjadi tantangan tersendiri. Dari total 34 pegawai BPBD, hanya sekitar 16 personel yang efektif bertugas di lapangan.

“Karena itulah kami membangun konsep BPBD Rumah Relawan. Kami menghimpun relawan di 19 kecamatan agar ketika terjadi bencana penanganan bisa lebih cepat. Kami juga bersinergi dengan Polres dan berbagai organisasi relawan,” urainya.

Alex berharap kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, media, relawan, dan masyarakat melalui SADEWA mampu mempercepat terwujudnya seluruh desa di Kabupaten Semarang sebagai Desa Tangguh Bencana.

“Bencana memang tidak bisa dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi apabila masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, kesiapsiagaan, dan semangat gotong royong,” pungkasnya. (win)

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Siswi MTsN Salatiga Raih Medali Emas dalam Lomba KREASI 2026 di Yogyakarta
Siswi MTsN Salatiga Raih Medali Emas dalam Lomba KREASI 2026 di Yogyakarta
Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Pendidikan menyalurkan insentif kesejahteraan kepada 1.009 guru dan tenaga kependidikan (GTK) Non-ASN dari berbagai jenjang pendidikan, Senin (19/10/2026). Dengan total alokasi anggaran Rp6,642 miliar, bantuan ini menjadi bentuk dukungan terhadap kesejahteraan pendidik. Wali Kota Robby Hernawan juga mendorong penguatan pendidikan karakter, pencegahan perundungan, serta adaptasi guru terhadap perkembangan teknologi.
Alhamdulillah! Pemkot Salatiga Berikan Insentif 1.009 Guru Non-ASN
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan peran santri dalam menjaga bangsa dan menyiapkan generasi masa depan saat menghadiri Jateng Bersholawat memperingati Hari Santri Nasional 2026 di Kota Tegal, Rabu (21/10/2026). Pemprov Jateng memperkuat dukungan bagi pesantren melalui beasiswa Rp6,8 miliar, insentif guru agama, tali asih penghafal Al-Qur’an, serta bantuan sarana pendidikan pesantren.
Dari Beasiswa hingga Insentif Guru Ngaji, Ini Dukungan Jateng untuk Pesantren
Sebanyak 337 pembalap cilik berusia 2–9 tahun mengikuti Pushbike Salatiga Heavy Race pada Minggu (18/10/2026). Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sumatera dan Sulawesi. Kompetisi sepeda tanpa pedal ini dibagi berdasarkan kelompok usia dan menjadi ajang untuk melatih keseimbangan, keberanian, konsentrasi, serta mental berkompetisi sejak dini.
Adu Cepat Pushbike, Ratusan Pembalap Cilik Serbu Salatiga
[pekok2]