[audio_player]
[posts_like_dislike]
Alumni dan peneliti Universitas Kristen Satya Wacana mengembangkan Mikoologi atau Mikoo, kit budidaya jamur tiram sebagai sarana belajar dan bermain anak sekaligus produk komersial. Riset yang berlangsung Maret–Mei 2025 itu mematangkan media tanam agar jamur tumbuh cepat, konsisten, dan aman dikonsumsi, sehingga membantu orang tua mengurangi waktu penggunaan gawai anak melalui aktivitas merawat tanaman.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Mahasiswa UKSW Riset Jamur Mikoologi, Berhasil Masuk ke Swalayan

Mahasiswa UKSW Riset Jamur Mikoologi, Berhasil Masuk ke Swalayan

Mahasiswa UKSW Riset Jamur Mikoologi, Berhasil Masuk ke Swalayan

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Berawal dari keresahan melihat anak-anak yang semakin akrab dengan gawai, lahirlah sebuah inovasi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang menawarkan cara belajar sekaligus bermain melalui budidaya jamur. Produk bernama Mikoologi atau Mikoo ini kini telah berkembang menjadi lini usaha berbasis riset yang sukses menembus pasar komersial.

Perjalanan Mikoo berawal dari ide alumni Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW, Aditya Yoga Sustika, yang memiliki ketertarikan untuk mengembangkan produk pertanian bernilai tambah. Dari diskusi sederhana dan pertukaran gagasan, ia merancang sebuah produk pertanian yang tidak hanya menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga memiliki potensi bisnis.

Gayung bersambut, saat bertemu dengan salah seorang Dosen FPB Ruth Meike Jayanti, dan melakukan brainstorming, dilakukanlah riset bersama fakultas. Riset tersebut berjalan dari Maret hingga Mei 2025.

Sementara itu, Aditya mengembangkan aspek bisnis Mikoologi melalui penyusunan strategi pemasaran, sistem penjualan, dan pengelolaan operasional usaha. Perannya memastikan inovasi yang dikembangkan tim dapat diterima pasar dan tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan.

Perjalanan dari tahap riset hingga posisi komersial saat ini di tahun 2026 pun terhitung baru berjalan kurang lebih satu tahun. Berkat dukungan riset dan inovasi yang terus dikembangkan, Mushroom Growing Kit kini menjadi contoh nyata hilirisasi hasil penelitian yang mampu menjawab kebutuhan Masyarakat sekaligus membuka peluang usaha.

Kolaborasi ini berhasil mematahkan “kutukan” yang sering menimpa riset kampus, yaitu berhenti di rak perpustakaan sebagai laporan akhir atau jurnal akademik. Lewat Mikoo, riset ini melompat ke tahap hilirisasi. Keterlibatan dosen dan mahasiswa tak lagi sebatas pendampingan di atas kertas. Mereka meriset jamur tiram warna-warni dan mematangkan formula media tanam agar jamur bisa tumbuh lebih cepat, hasilnya konsisten, dan tetap aman dikonsumsi.

“Diproduksi, diperjualbelikan, dan dikomersialisasikan. Itu semua sudah termasuk hilirisasi nyata,” ungkap Ruth Meike.

Bagi Aditya keterlibatan UKSW memberikan dampak besar, salah satunya pada aspek trust atau kepercayaan konsumen. Penandatanganan kerja sama (MoU) resmi dengan UKSW pada Oktober tahun lalu menjadi nilai tambah yang menguntungkan saat dimasukkan ke dalam portofolio maupun company profile bisnis mereka.

“Konsumen kami beragam, mulai dari swalayan hingga end user. Terutama untuk mitra bisnis atau B2B, mereka pasti melihat portofolio Mikoo. Ketika mereka mengetahui bahwa kami telah berkolaborasi dengan Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW serta memiliki kerja sama resmi dengan kampus, hal itu menjadi nilai yang sangat menguntungkan bagi kami. Jadi secara kepercayaan, posisi kami menjadi lebih kuat,” jelas Aditya.

Secara produk, Mikoo mencoba meningkatkan value produk pertanian yang biasanya hanya dijual sebagai komoditas pangan biasa. Jamur tiram ditingkatkan nilainya agar bisa menjadi gift, suvenir, hiasan, sekaligus sarana edukasi.

Dampaknya pun mulai dirasakan oleh konsumen. Banyak orang tua yang memberikan testimoni bahwa anak-anak mereka, bahkan yang masih balita, sudah bisa merawat Mikoo sendiri. Pengalaman berinteraksi dengan tanaman inilah yang berhasil membantu mengurangi waktu beralih ke gawai (screen time) pada anak.

BACA JUGA :

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga kembali menggelar Gelar Inovasi Harmoni Nusantara (GIHN) 2026 di Balairung UKSW, Kamis (10/9/2026). Mengusung tema “Lentera Harmoni”, kegiatan tahun keempat ini menampilkan inovasi ramah lingkungan dari 15 fakultas. GIHN juga mendorong kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan UMKM agar riset menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
GIHN 2026 UKSW, Ubah Inovasi Ramah Lingkungan Menjadi Dampak Nyata bagi Masyarakat
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Sebanyak 15 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) mengikuti East Asia Student Encounter (EASE) 2026 di Kwansei Gakuin University, Jepang, selama 18 hari hingga 18 Agustus 2026. Program bertema Manifest the Dream: Our Journey Toward Peace in a Divided World ini memperkuat pertukaran budaya, jejaring internasional, dan pendidikan perdamaian melalui berbagai kegiatan akademik, budaya, serta diskusi lintas negara.
15 Mahasiswa UKSW Ikuti EASE 2026 di Jepang, Rayakan Misi Perdamaian Dunia
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Muat Lebih

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Peserta Aksi Jateng Guyub Kecewa Tak Diizinkan Transit di Kantor Bupati Semarang
Pemkab Semarang memanfaatkan ganti kerugian aset daerah terdampak Tol Jogja-Bawen senilai sekitar Rp112 miliar untuk membangun fasilitas publik di Bawen. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menjelaskan pembangunan dilakukan dalam bentuk tanah dan bangunan pengganti, meliputi kantor kelurahan, RTH, balai RW, serta gedung TK dan SD yang terdampak proyek tol.
Rp40 Miliar Ganti Rugi Tol Jogja-Bawen Disulap Jadi Fasilitas Publik di Bawen, Ditarget Rampung Februari 2027
Trans Banyumas Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Trans Banyumas: Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Haryono (58), warga Desa Diwak, Bergas, Kabupaten Semarang, selamat dari tenggelamnya KM Virgo 8 di perairan Masalembo, Minggu (13/9/2026). Ia bersama sembilan korban lain bertahan di rakit penolong sebelum ditemukan kapal nelayan. Haryono mengaku mengalami sejumlah kejadian yang dianggapnya sebagai firasat sebelum kapal berangkat menuju Kalimantan Tengah.
Cerita Korban Selamat Kapal Virgo Asal Kabupaten Semarang, Nasi Berkat yang Tumpah hingga Mimpi Kapal Tenggelam
[pekok2]