URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Sebanyak 102 siswa kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga mengikuti program Live In di Desa Cendana, Purbalingga, pada 27 April–4 Mei 2026 dengan tinggal bersama warga untuk membentuk karakter, mengurangi ketergantungan gawai, serta menumbuhkan empati, kemandirian, dan kemampuan adaptasi melalui pengalaman hidup langsung.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Ratusan Siswa Kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga, Puasa Pegang HP

Ratusan Siswa Kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga, Puasa Pegang HP

Ratusan Siswa Kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga, Puasa Pegang HP

Siswa saat dilatih bercocok tanam
featured-img

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Di tengah arus digital yang kian melekat dalam kehidupan remaja, ratusan siswa kelas IX SMPIT Nidaul Hikmah Salatiga justru diajak “mundur sejenak” dari layar gawai. Sebanyak 102 siswa mengikuti program pendidikan karakter bertajuk Live In di Desa Cendana, Kabupaten Purbalingga, selama delapan hari, 27 April hingga 4 Mei 2026.

Program ini bukan sekadar kegiatan luar kelas biasa. Para siswa tidak tinggal di tenda atau penginapan, melainkan hidup bersama keluarga warga sebagai “anak asuh”. Mereka menyatu dalam keseharian masyarakat desa, mulai bangun sebelum subuh, membantu memasak, mencari kayu bakar, hingga bekerja di sawah dan ladang.

Guru pendamping kegiatan, Ikhsan Fahmi, menuturkan bahwa Live In dirancang sebagai sarana pembelajaran nyata yang tidak bisa digantikan oleh teori di kelas.

“Tujuan utama Live In ini adalah memutus sejenak ketergantungan anak-anak pada fasilitas instan dan gawai. Melalui interaksi langsung dengan induk semang, kami berharap dapat menumbuhkan empati, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah. Ini adalah bekal karakter yang tidak bisa hanya diajarkan melalui buku teks di kelas,” ujar Ikhsan.

Kehadiran para siswa disambut antusias oleh masyarakat Desa Cendana. Kepala Desa Cendana, Sujono, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini membuka ruang interaksi lintas budaya antara generasi muda perkotaan dan masyarakat desa.

“Desa kami sangat terbuka menjadi tempat belajar. Harapan kami, anak-anak ini bisa merasakan langsung nilai-nilai luhur pedesaan, seperti semangat gotong royong, kesederhanaan, dan sopan santun yang mungkin mulai pudar di perkotaan,” kata Sujono.

Bagi siswa, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam. Avinza Meivano, salah satu peserta, mengaku sempat mengalami culture shock saat pertama kali menjalani aktivitas di desa.

“Awalnya capek sekali karena harus bangun sangat pagi dan membantu bekerja di ladang. Tapi dari keluarga asuh di sini, saya belajar arti syukur yang sesungguhnya. Hidup di sini sederhana, tapi warga selalu terlihat ikhlas dan bahagia. Pengalaman ini membuat saya lebih menghargai apa yang saya miliki di rumah,” ungkapnya.

Melalui program Live In, SMPIT Nidaul Hikmah menegaskan komitmennya dalam membentuk siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan ketangguhan mental. Di tengah dominasi teknologi, pengalaman hidup nyata seperti ini menjadi cara sekolah menghadirkan pendidikan yang lebih utuh, kmengasah hati sekaligus akal.

BACA JUGA :

Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Kiprah Kanaya Abigail, Mahasiswa Psikologi UKSW Mengajar SDGs dan Mengenalkan Indonesia di Slovakia
Ratusan siswa SMK Negeri 1 Salatiga menggelar aksi di lingkungan sekolah pada Senin untuk mempertanyakan perubahan rencana pembangunan fasilitas yang sebelumnya disepakati sebagai ruang ekspresi siswa. Aksi muncul setelah siswa mendapat informasi lahan tersebut akan digunakan untuk ruang praktik. Kepala sekolah menyebut persoalan terjadi akibat miskomunikasi dan memastikan ruang ekspresi tetap dibangun di lokasi berbeda, sementara sekolah menggelar audiensi untuk menjelaskan perubahan tersebut.
Merasa Kecewa dengan Sekolah, Ratusan Siswa SMK 1 Salatiga Gelar Aksi Demo
Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga mewisuda dua mahasiswa difabel pada Wisuda ke-12 yang digelar pada 24–25 Juli 2026 sebagai wujud komitmen menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang inklusif. Kampus menegaskan kesetaraan akses pendidikan melalui penyediaan layanan ramah disabilitas, sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama, sekaligus mewisuda total 1.299 lulusan pada periode tersebut.
Wisuda ke-12 UIN Salatiga, Dua Mahasiswa Difabel Sukses Raih Gelar Sarjana
Tetap Produktif di Usia Senja, 112 Peserta Sekolah Lansia Pancasila Kabupaten Semarang Diwisuda
Tetap Produktif di Usia Senja, 112 Peserta Sekolah Lansia Pancasila Kabupaten Semarang Diwisuda
SD Negeri Bener 01 di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, menyediakan layanan mobil antar pulang bagi siswa menggunakan bekas angkot yang dibeli dari hasil patungan guru. Program yang mulai berjalan sejak Juni 2026 ini bertujuan membantu orang tua yang kesulitan menjemput anak sekaligus meningkatkan keselamatan siswa karena lokasi sekolah berada di tepi Jalan Raya Semarang–Solo yang padat lalu lintas.
Gani, Guru Olah Raga SD Bener Tengaran, Pagi Mengajar Siang antar Siswa Pulang
MPLS di SMA Sainstek Salatiga, Siswa dan Guru ikuti Psikotes untuk Penguatan Karakter
MPLS di SMA Sainstek Salatiga, Siswa dan Guru ikuti Psikotes untuk Penguatan Karakter

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang mengungkap kasus perampokan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, melalui jejak salah satu tersangka saat menggunakan jasa ojek online dari Grobogan menuju Ambarawa. Polisi menelusuri pengemudi GoRide yang menerima satu unit handphone sebagai pembayaran hingga memperoleh identitas tersangka. Penyidik juga menyebut motif perkara berkaitan dengan persoalan ekonomi dan masih melengkapi berkas sebelum diserahkan kepada kejaksaan.
Terungkap Lewat Histori Ojol, Perampok Royal Phone Bayar Gojek Pakai HP Hasil Kejahatan
WhatsApp Image 2026-08-12 at 22.08
Diduga Alami Rem Blong, Truk Tronton Tabrak Tiga Motor Di JLS Salatiga, Satu Orang Meninggal
Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved