RASIKAFM.COM | UNGARAN — Musim panen yang seharusnya membawa keuntungan bagi petani cabai di Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, justru menyisakan kekecewaan. Produksi cabai yang melimpah tidak diikuti dengan harga jual yang menguntungkan, sehingga pendapatan petani jauh dari harapan.
Mulyadi (72), petani cabai asal Dusun Gondangtani, Desa Sumowono, merasakan langsung kondisi tersebut. Cabai sret yang dipanennya kini hanya dihargai sekitar Rp20.000 per kilogram di tingkat petani.
“Ini anjloknya banyak. Dulu pas awal tanam harganya Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram,” katanya ditemui di lahan cabai miliknya, Jumat (24/7/2026).
Tak hanya cabai sret, harga cabai merah keriting juga mengalami penurunan. Saat ini komoditas tersebut hanya laku sekitar Rp16.000 per kilogram.
“Penyebabnya ya panennya banyak. Pedagang yang biasanya beli langsung ke lahan juga berkurang, sehingga harganya turun,” lanjutnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca sebenarnya sangat mendukung budidaya cabai. Curah hujan yang tidak terlalu tinggi membuat tanaman tumbuh lebih baik dan minim serangan penyakit maupun hama. Produktivitas pun meningkat hingga mencapai sekitar 0,5 sampai 0,8 kilogram per tanaman. Meski harga jual rendah, Mulyadi mengaku masih bisa menutup biaya produksi sehingga tidak mengalami kerugian.
“Untungnya tipis, tapi ya mending daripada rugi,” ujarnya.
Mulyadi bersyukur seluruh proses penanaman hingga perawatan dilakukan sendiri di lahan seluas sekitar 200 meter persegi. Dengan begitu, ia tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar buruh tani.
“Kalau semua pekerjaan harus memakai tenaga buruh, dengan harga cabai seperti sekarang saya pasti rugi. Praktis tidak ada keuntungan yang tersisa,” pungkasnya. (win)









