KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Dicurhati Kondisi Keluarga Kopda Muslimin, Gondrong: Selalu Dikekang, Minta Istri Dibunuh

Dicurhati Kondisi Keluarga Kopda Muslimin, Gondrong: Selalu Dikekang, Minta Istri Dibunuh

Dicurhati Kondisi Keluarga Kopda Muslimin, Gondrong: Selalu Dikekang, Minta Istri Dibunuh

Agus Santoso (AS) alias Gondrong warga Karas, Kabupaten Magetan (baju putih) mengaku dicurhati oleh Kopda Muslimin karena selalu dikekang dan minta istrinya dibunuh saja.

SEMARANG – Agus Santoso (AS) alias Gondrong warga Karas, Kabupaten Magetan merupakan salah satu dari kelima tersangka kasus pembunuhan berencana terhadap istri TNI di Kota Semarang bernama Rina Wulandari.

Selain tersangka lainnya yaitu Sugiono alias Babi, pria berusia 43 tahun ini juga dipasrahkan oleh suami korban bernama Kopra Dua (Kopda) Muslimin untuk membunuh istrinya sendiri.[irp posts=”40439″ name=”Kopda Muslimin Bayar Komplotan Penembakan untuk Bunuh Istrinya Pakai Uang Ibu Korban”][irp posts=”40406″ name=”Pengakuan Babi Teman Dekat Kopda Muslimin Yang Pertama Kali Diminta Untuk Bunuh Istrinya”]

Dihadapan polisi dan awak media, Gondrong menceritakan bagaimana bisa mengenal Kopda Muslimin hingga diminta untuk menghabisi nyama istri TNI itu. Tiga pekan sebelum kejadian, Gondrong didatang Babi di rumahnya perihal seseorang yang ingin membunuh atau mencelakai istrinya.

Kepada warga Sayung, Kabupaten Demak itu, kemudian Gondrong datang ke Semarang dan meminta untuk dipertemukan oleh seseorang yang tak lain adalah Kopda Muslimin itu sendiri. Saat bertemu di rumah Kopda Muslimin, Gondrong diceritakan secara bisik-bisik perihal keadaan selama Kopda Muslimin berumah tangga oleh korban.

Karena merasa muak dan tak kuat dengan sifat korban, Gondrong diminta Kopda Muslimin untuk menghabisi nyawa istrinya yaitu Rina Wulandari.”Dia (Kopda Muslimin) cerita tentang keadaan keluarganya dan gak kuat tekanan dari istrinya yang selalu mengekang hingga minta dibunuh,” ujar Gondrong di Mapolrestabes Semarang, Rabu (27/72022).

Akan tetapi, lanjut Gondrong, ia menyarankan kepada Kopda Muslimin untuk terlebih dahulu membeli pelajaran kepada istrinya dan jangan dibunuh dulu.”Saya waktu itu sarankan untuk diberi pelajaran dulu, dikasih air kecubung. Kan kalau dia (korban) sakit nanti butuhnya ke suaminya begitu,” jelasnya.

Saran dari Gondrong itu sempat disetujui oleh Kopda Muslimin. Akan tetapi, ketika Gondrong memberikan buah kecubung, Kopda Muslimin malah tidak berani melakukannya.

“Dia (Kopda Muslimin) takut ketahuan istrinya pada saat mencampurkan kecubung ke minumannya. Itu beberapa hari masih takut untuk meracuni istrinya,” terangnya.

“Hingga pada akhirnya saya pulang ke Magetan dan meminta uang transport satu gepok kira-kira senilai 2 juta,” tambahnya.

Pada saat Gondrong tiba dirumahnya, ada tetangganya yang menawarkan senjata api untuk dijual. Kepada tetangga itu, Gondrong meminta untuk melihat barangnya apakah senjata itu asli atau rakitan.

Hingga pada akhirnya, Gondrong datang ke rumah tersangka lainnya yaitu Dwi Sulistyo (32) warga Sragen untuk membeli senjata api. Setelah cocok dengan senjatanya, kemudian Gondrong menghubungi Babi untuk melakukan transaksi.

“Babi tidak bisa untuk membayar lewat transfer. Tapi saya ngomong sama yang punya senjata bagaiaman kalau dibayar ditempat aja di Semarang. Dan dia (Dwi Sulistyo) setuju,” bebernya. [irp posts=”40356″ name=”Selain Dibayar 120 Juta Untuk Bunuh Istrinya, Kopda M Juga Janjikan Mobil Yaris”]

“Yang suruh cari senjata Bang Mus (Kopda Muslimin). Alesannya karena kalau begini terus (rencana-rencana) bisa habis uang banyak,” lanjutnya.

Selanjutnya, saat aksi penembakan, Gondrong yang awalnya berencana menembak korban, mengurungkan niatnya lantara tidak tega dan ingat akan anaknya jika kehilangan sesosok ibu.

“Saya terus terang gaberani kalau membunuh. Ingat anak saya yang masih kecil jika harus kehilangan ibunya,” tuturnya.

Sebelum aksi penembakan, Gondrong dijanjikan uang senilai Rp. 200 juta. Akan tetapi Gondrong merasa uang sebesar itu kurang dan meminta ditambah imbalannya mobil yaris.

“Sama Bang Mus lansung disetujuin,” imbuhnya.

Kabar Terkini

POPULER

PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) melakukan perbaikan expansion joint dan rekonstruksi rigid pavement di sejumlah titik Tol Semarang A, B, C hingga akhir September 2026. Pekerjaan dilakukan untuk menjaga kualitas infrastruktur dan keselamatan pengguna, dengan pengaturan lalu lintas secara situasional serta dukungan rambu, petugas lapangan, dan kepolisian.
Tol Semarang Diperbaiki, Siap-Siap Ada Perlambatan!
Polres Semarang mengamankan dua tersangka dugaan pencurian kabel dan baterai tower telekomunikasi di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang. Salah satu tersangka, BD, merupakan karyawan Telkomsel dan diduga mengajak IY melakukan pencurian di Desa Jambu pada 9 September 2026. Polisi juga mendalami keterlibatan keduanya dalam sedikitnya 12 lokasi pencurian baterai sejak Januari hingga Mei 2026.
Kabel dan Baterai di 12 Tower Milik Telkomsel Digasak Maling, Kerugian Capai Ratusan Juta
Haryono (58), warga Desa Diwak, Bergas, Kabupaten Semarang, selamat dari tenggelamnya KM Virgo 8 di perairan Masalembo, Minggu (13/9/2026). Ia bersama sembilan korban lain bertahan di rakit penolong sebelum ditemukan kapal nelayan. Haryono mengaku mengalami sejumlah kejadian yang dianggapnya sebagai firasat sebelum kapal berangkat menuju Kalimantan Tengah.
Cerita Korban Selamat Kapal Virgo Asal Kabupaten Semarang, Nasi Berkat yang Tumpah hingga Mimpi Kapal Tenggelam
Warung Murah Berkah di Jalan Nakula Sadewa, Salatiga, menyajikan mangut kepala manyung dan sekitar 20 menu masakan Jawa setiap hari. Warung milik Hariyani ini buka pukul 06.30–14.00 WIB dengan harga terjangkau, mulai Rp5.000, termasuk kepala manyung Rp25.000–Rp40.000, serta ramesan sekitar Rp10.000.
Kepala Manyung Warung Murah Berkah, Solusi Cerdas Dikala Lapar, Harga Bersahabat
[pekok2]