URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang menekankan penerapan prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dalam penyembelihan hewan kurban. Kepala Dispertanikap, Moh. Edy Sukarno, menyampaikan hal ini dalam kegiatan Sosialisasi Pelaksanaan Kurban 2025 yang diikuti oleh takmir masjid, Puskeswan, Kesmavet, dan Bagian Kesra Kecamatan di Kabupaten Semarang pada Kamis, 22 Mei 2025.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Dispertanikap Kabupaten Semarang Tekankan Penyembelihan Hewan Kurban Harus Beradab

Dispertanikap Kabupaten Semarang Tekankan Penyembelihan Hewan Kurban Harus Beradab

Dispertanikap Kabupaten Semarang Tekankan Penyembelihan Hewan Kurban Harus Beradab

Suasana Pasar Pon Ambarawa, Rabu (21/5/2025). Foto: win
Suasana Pasar Pon Ambarawa, Rabu (21/5/2025). Foto: win
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang menegaskan pentingnya penerapan prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) dalam proses penyembelihan hewan kurban.

Dalam rangka hal itu, Dispertanikap melaksanakan Sosialisasi Pelaksanaan Kurban 2025 yang diikuti oleh Bagian Kesra Kecamatan, takmir masjid, Puskeswan, dan Kesmavet, pada Kamis (22/5/2025).

Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang Moh. Edy Sukarno, menyampaikan penyembelihan hewan kurban harus dilakukan secara beradab, tanpa menyakiti hewan, serta dengan alat yang tajam agar hewan segera mati setelah satu kali sembelih.

“Dalam konteks ini, penting untuk tidak menyakiti hewan. Hewan harus diperlakukan dengan baik, karena ini juga bagian dari kesadaran iman dan sosial,” ujarnya.

Ia menjelaskan, daging kurban yang akan dikonsumsi masyarakat harus berasal dari hewan yang sehat, tidak berpenyakit, dan dipotong secara syar’i.

“Aman artinya terbebas dari bahan berbahaya, Sehat berarti mengandung manfaat, Utuh artinya tidak tercampur dengan daging binatang lain, dan Halal artinya sesuai syariat,” sambungnya.

Selain aspek penyembelihan, Edy juga mengingatkan pentingnya pengelolaan limbah kurban. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak membuang limbah seperti darah dan jerohan ke aliran sungai.

“Darah sebaiknya dikubur agar tidak mencemari lingkungan. Begitu juga jerohan, harus dicuci bersih dan dibuang ke dalam lubang yang telah disediakan,” urainya.

Terkait penyakit mulut dan kuku (PMK), Edy menjelaskan saat ini Kabupaten Semarang dalam kondisi cukup aman.

“Grafik kasus PMK sudah datar, tidak ada kejadian baru yang signifikan,” katanya.

Meski begitu, pengawasan terhadap lalu lintas hewan ternak tetap dilakukan, terutama di pasar-pasar hewan seperti Pasar Pon Ambarawa. Petugas Dispertanikap terus melakukan pemeriksaan untuk memastikan hewan yang dijual bebas dari penyakit menular, baik bagi manusia maupun hewan lainnya. (win)

BACA JUGA :

pilkades 2026
Pilkades Kabupaten Semarang Tahap Pertama Digelar 14 Desember 2026, 140 Desa Bersiap
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Ada Pemeliharaan Tol Semarang ABC, Sejumlah Lajur Arah Jatingaleh Terdampak
Seniman asal Bergas, Kabupaten Semarang, Sidik Gunawan, menuangkan keinginan menenangkan diri melalui karya pari corek bergambar Buddha yang sedang bersemedi di lahan sawah seluas 1.200 meter persegi. Ia memanfaatkan padi hijau dan Black Madras untuk membentuk gambar sekaligus mengembangkan potensi wisata dan ekonomi petani tanpa mengalihfungsikan lahan.
Keinginan Bersemedi yang Belum Terwujud, Dituangkan Sidik Gunawan Lewat Pari Corek Bergambar Sang Buddha
Ratusan warga dari sembilan desa dan empat kelurahan memadati Kantor Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026), untuk mengikuti Kesenian Rakyat dan Expo Kecamatan Bergas serta KKN UPGRIS Berdampak 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan produk UMKM lokal sekaligus memperkuat kolaborasi UPGRIS dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui program KKN.
Tanggal Merah! Ratusan Warga Bergas Meriahkan Expo KKN UPGRIS Berdampak 2026
Rencana pemindahan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Kabupaten Semarang, ke lokasi baru di kawasan Jalan Lingkar Ambarawa belum terealisasi karena lahan masih berstatus zona hijau. Sembari menunggu kepastian pemanfaatan lahan, lapas tetap beroperasi dengan 507 warga binaan, jauh melebihi kapasitas ideal 222 orang.
Relokasi Lapas Ambarawa Terkendala Status Lahan, 507 Warga Binaan Masih Berdesakan
Karang Taruna Dharma Remaja Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah limbah sayuran dan buah menjadi biogas untuk memasak serta pupuk organik cair. Inovasi berbasis pengelolaan sampah dan energi alternatif tersebut mengantarkan mereka meraih juara pertama Lomba Karang Taruna Berprestasi 2026 tingkat Jawa Tengah dan mewakili Jateng di tingkat nasional.
Karang Taruna Manggihan Getasan Sulap Limbah Sayur Jadi Biogas, Juara 1 Jateng dan Melaju Nasional

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Warga Desa Pakopen, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, menemukan bayi perempuan yang masih hidup di bawah pohon mahoni, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 16.40 WIB. Bayi ditemukan Slamet (73) saat mencari kayu bakar dan botol bekas di depan makam desa, lalu mendapat pertolongan medis dari bidan setempat. Polisi kini menyelidiki identitas orang tua dan pihak yang meninggalkannya.
Cari Kayu Bakar, Warga Bandungan Temukan Bayi Perempuan Terbungkus Plastik Di Bawah Pohon
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5
Penjualan Gas PGN di Semarang Melonjak 5.000 Persen, Industri Jadi Motor Pertumbuhan