URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Bencana kekeringan di Kabupaten Semarang semakin meluas. Enam kecamatan dan delapan desa kini menghadapi krisis air bersih. Pemkab Semarang telah mengambil langkah-langkah mitigasi dan solusi jangka pendek serta panjang, termasuk pembangunan sumur bor dan pengiriman air bersih ke daerah yang terdampak.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Kekeringan Semakin Meluas, Enam Kecamatan di Kabupaten Semarang Krisis Air Bersih

Kekeringan Semakin Meluas, Enam Kecamatan di Kabupaten Semarang Krisis Air Bersih

Kekeringan Semakin Meluas, Enam Kecamatan di Kabupaten Semarang Krisis Air Bersih

Warga Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Ungaran Timur memindahkan bantuan air bersih dari PMI ke dalam galon bekas menyusul wilayah tersebut mengalami krisis air bersih belum lama ini.

(Foto/win)

Warga Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Ungaran Timur memindahkan bantuan air bersih dari PMI ke dalam galon bekas menyusul wilayah tersebut mengalami krisis air bersih belum lama ini.
featured-img

RASIKAFM.COM | UNGARAN - Bencana kekeringan yang terjadi di Kabupaten Semarang semakin meluas. Kini, sebanyak enam kecamatan dengan delapan desa mengalami krisis air bersih.

Enam kecamatan itu meliputi Kecamatan Bringin yang terdiri dari Desa Gogodalem, Sambirejo dan Rembes, Ungaran Timur yang terdiri dari Desa Kalikayen, Sumowono yang terdiri dari Desa Kemitir, Getasan dengan Desa Tajuk, Pabelan dengan Desa Semowo, dan Bancak dengan Desa Plumutan.

Atas hal ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang sudah melakukan upaya mitigasi termasuk pemetaan wilayah mana saja yang terdampak bencana kekeringan.

“Permasalahan di lokasi masing-masing desa berbeda sehingga penanganannya pun tak sama. Kami sudah kaji dan siapkan solusi jangka pendek, menengah dan panjangnya seperti apa,” kata Bupati Semarang Ngesti Nugraha seusai meninjau langsung Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Senin (21/8/2023) sore.

Solusi yang disiapkan itu, jelas Ngesti, berupa dropping air bersih ke desa-desa yang kesulitan air bersih. Di antaranya ke Dusun Kebontaman Desa Kalikayen yang membutuhkan 10 tangki air setiap minggu.

“Itu merupakan solusi jangka pendek. Sementara kita kirim air dulu, karena infrastruktur berupa bak penampungnya belum siap,” jelasnya.

Sedangkan terkait solusi jangka panjang, Pemkab Semarang telah mendapatkan bantuan senilai Rp 20 miliar dari Kementerian PUPR untuk pembangunan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan. Salah satunya ada di Kecamatan Bringin.

“Pembangunannya telah selesai, tinggal menunggu serah terima serta penyalaan listriknya. Kalau sudah bisa beroperasi, bisa dipakai sekitar enam desa di sekitar Gogodalem,” ungkapnya.

Untuk wilayah lain seperti di Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, Ngesti menambahkan masalah air bersih masih lebih mudah diatasi karena sumber mata air masih bisa diandalkan.

“Masih bisa keluar (air) meski volumenya berkurang. Untuk pertaniannya, kami sarankan menanam tanaman yang lebih memiliki ketahanan saat kemarau seperti jagung, singkong dan tembakau,” bebernya. (win)

BACA JUGA :

Masyarakat Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terus melestarikan tradisi Saparan atau merti dusun yang digelar setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar. Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini diwujudkan melalui rangkaian ritual adat, open house, serta pertunjukan kesenian sebagai ungkapan syukur, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan 'MBG Swadaya'
Dosen STAI Kuningan, Dakhori, menjelaskan bahwa istilah Londo Ireng kini berkembang sebagai simbol kritik terhadap praktik kekuasaan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Pernyataan tersebut disampaikan kepada Rasika FM, Minggu (26/7/2026), sebagai refleksi atas ketimpangan sosial, pembangunan, dan demokrasi. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan merupakan bagian penting dalam menjaga akuntabilitas pemerintahan serta memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat.
Istilah Londo Ireng Kembali Muncul, Dr. Dakhori Soroti Bahaya Mental Penjajah di Tubuh Bangsa Sendiri
Forkopimda Kabupaten Semarang tampil sebagai pemain ketoprak bertajuk "Rebut Kembar Mayang" pada puncak peringatan HUT ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang di GOR Pandanaran Wujil, Kecamatan Bergas, Sabtu (25/7/2026) malam. Ngesti Nugraha bersama jajaran pimpinan daerah turun langsung ke panggung sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Jawa sekaligus mengajak generasi muda menjaga bahasa, tata krama, dan nilai-nilai luhur budaya melalui seni tradisional
Forkopimda Kabupaten Semarang Main Ketoprak, Cara Unik Permadani Lestarikan Budaya Jawa
Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Abdul Ghoffar Rozin menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan kolaborasi lintas elemen dalam menghadapi bencana saat Apel Kesiapsiagaan Jambore Relawan NU Peduli se-Jawa Tengah di Bumi Perkemahan Harda Walika, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini diisi peluncuran aplikasi NU Risk, penyerahan bantuan kebencanaan, serta penanaman pohon sebagai upaya memperkuat respons bencana, pemulihan korban, dan konservasi lingkungan.
Gus Rozin: Relawan NU Peduli Harus Siaga, Cepat dan Utamakan Kemanusiaan
BPBD Kabupaten Semarang Siapkan 150 Tangki Air Bersih Hadapi Kemarau, Enam Desa Sudah Terdampak
BPBD Kabupaten Semarang Siapkan 150 Tangki Air Bersih Hadapi Kemarau, Enam Desa Sudah Terdampak
Petani cabai di Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, menghadapi penurunan harga saat musim panen meski produksi meningkat. Cabai sret kini hanya dihargai sekitar Rp20.000 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting sekitar Rp16.000 per kilogram di tingkat petani. Melimpahnya hasil panen dan berkurangnya pembeli menyebabkan harga turun, sehingga keuntungan petani menjadi sangat tipis meski produktivitas tanaman cukup tinggi.
Panen Cabai Berlimpah, Petani Sumowono Justru Gigit Jari karena Harga Anjlok

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Salatiga Jadi Panggung Raja-Raja Nusantara dan Dunia, 100 Lebih Kerajaan Siap Berkumpul Juli 2026
Puluhan pecatur dari berbagai daerah mengikuti Turnamen Catur Taman Tingkir Cup I kategori non-master di Kota Salatiga, Minggu (19/7/2026), dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Salatiga. Ajang ini digelar untuk mewadahi penghobi catur, mengembangkan bibit atlet muda, mempererat komunitas pecatur, serta diharapkan menjadi agenda bergengsi yang mampu melahirkan prestasi hingga tingkat nasional.
Puluhan Peserta ikuti Turnamen Catur Taman Tingkir Cup I Non-Master
WhatsApp Image 2026-07-23 at 15.22
Songsong Hari Jadi, Lintas Iman Satukan Doa untuk Salatiga