RASIKAFM.COM | UNGARAN – Tebing setinggi sekitar 20 meter di RT 6 RW 5 Dusun Kaligawe, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, longsor pada Rabu (4/2/2026) sore. Peristiwa ini membuat warga sekitar, khususnya Yatemi (52), diliputi rasa khawatir hingga memilih tidur di lantai dua rumahnya saat hujan turun.
Rasa takutnya bukan tak beralasan, sebab posisi rumahnya berhadapan langsung dengan tebing. Ia menuturkan longsor pertama terjadi pada Selasa (3/2/2026) sore. Saat itu ia mendengar suara “kresek-kresek” dari arah pohon di atas tebing yang bergoyang-goyang.
“Saya pikir itu ular, terus saya masuk ke rumah. Tapi kok daun-daun mulai rontok ke bawah. Tidak lama kemudian langsung longsor,” ujar Yatemi saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/2/2026).
Material longsoran berupa tanah dan batu sempat menutup total akses jalan penghubung Kabupaten Semarang dan Kota Semarang via Mluweh. Longsor tersebut sudah dibersihkan, namun keesokan harinya terjadi longsor susulan di lokasi yang sama. Menurut Yatemi, longsor kedua terjadi pada Rabu sore sekitar pukul 16.00 WIB saat kondisi hujan deras. Air bercampur tanah turun perlahan dari atas tebing, sebelum akhirnya material berukuran besar ikut meluncur ke bawah.
“Pas kejadian kedua itu hujan deras dan kondisi sepi. Material turun sedikit-sedikit, lama-lama yang besar ikut longsor,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Yatemi dan keluarganya merasa tidak tenang, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Ia mengaku memilih tidur di lantai dua rumahnya demi mengurangi rasa takut.
“Saya selalu khawatir kalau hujan deras. Tidur jadi tidak nyaman. Daripada tidur di bawah, saya pilih di lantai dua. Takut,” ungkapnya.
Yatemi yang telah tinggal di lokasi tersebut selama sekitar 30 tahun menyebut kejadian longsor kali ini adalah yang paling besar.
Sementara itu, Lurah Susukan, Suhartono, menjelaskan longsor pertama terjadi pada Selasa sekitar pukul 17.00 WIB. Penanganan dilakukan bersama BPBD, pemerintah kelurahan, TNI-Polri, serta Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penggaron hingga sekitar pukul 23.00 WIB, sehingga akses jalan kembali bisa dilalui.
“Namun pada Rabu sekitar pukul 15.00 WIB terjadi lagi longsor susulan di lokasi yang sama. Selain itu ada tambahan longsor di RT 3 dan RT 5 di lingkungan warga,” jelas Suhartono.
Pihak kelurahan telah melaporkan kejadian tersebut kepada camat untuk diteruskan ke dinas terkait. Koordinasi juga dilakukan dengan BKPH Penggaron dan Dinas Lingkungan Hidup untuk rencana pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang.
Selain itu, kelurahan meminta bantuan DPU serta berkoordinasi dengan Bina Marga Jawa Tengah terkait perbaikan jalan yang rusak, termasuk akses menuju Dusun Kaligawe yang merupakan kewenangan pemerintah provinsi.
“Kami juga meminta linmas dan warga untuk terus memantau kondisi wilayah karena curah hujan masih tinggi,” tambahnya.
Suhartono mengimbau warga di wilayah rawan bencana untuk tetap waspada dan berkoordinasi dengan RT dan RW. Ia juga meminta kendaraan bermuatan besar untuk sementara tidak melintasi jalur tersebut.
“Untuk kendaraan besar sebaiknya dialihkan dulu karena berbahaya. Sepeda motor dan mobil kecil masih memungkinkan, tapi tetap harus hati-hati,” pungkasnya. (win)