Sementara itu makna “Purnomo Sidi” dalam acara tersebut, diharapkan PASEBAN ini menjadi wadah berkumpulnya para seniman yang ada di Banyubiru. Kemudian “Purnomo sidi” ini melambangkan bulan purnama. Tambah Sekdes Tegaron ini.
Bupati Semarang Ngesti Nugraha saat ditemui rasikafm.com usai acara mengatakan, Pemerintah Kabupaten Semarang mendukung penuh dengan adanya kegiatan seni seperti yang diselenggarakan oleh Paseban ini. Ia menyampaikan kegiatan seni yang diadakan baik ditempat hajatan maupun virtual saat ini sudah diizinkan, namun tentunya harus mematuhi protokol kesehatan.
“Kegiatan seni kita izinkan, namun sebagaimana aturan sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No.60/2021, dan di Kabupaten Semarang level satu, maka jika mengadakan kegiatan seni maksimal 70 orang untuk penontonya dan menerapkan protokol kesehatan,”jelas Bupati.
Ditambahkan Bupati, untuk kegiatan pentas seni sudah berjalan, baik dilaksanakan secara virtual ataupun secara langsung, kemudian juga ada pentas yang sifatnya terbatas.
“Kami mendukung kegiatan pementasan seni, namun dengan aturan yang ketat dan yang utama mematuhi protokol kesehatan,”pungkasnya.
Pantauan wartawan dilokasi, dalam pentas seni tersebut diisi dengan serangkaian acara yakni, pementasan kesenian lokal, bakar dupa sebagai simbolis budaya leluhur, potong tumpeng oleh Bupati Semarang Ngesti Nugraha yang kemudian diserahkan kepada sesepuh atau tokoh seni di Kecamatan Banyubiru dan diakhiri dengan hiburan lawak dengan cerita “Apus apus karingkus, budoyo