RASIKAFM Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak di Jawa Tengah yang dipusatkan di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari mengatakan, dua isu utama yang menjadi perhatian pemerintah adalah ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga.
Menurutnya, menjelang Idul Fitri diperkirakan jumlah penduduk di Jawa Tengah akan meningkat signifikan karena kedatangan para pemudik.
“Pada H-3 Idul Fitri nanti diperkirakan ada tambahan sekitar 17,7 juta orang yang masuk ke Jawa Tengah. Ini karena adanya kebijakan work from anywhere sehingga banyak orang bisa tinggal lebih lama di daerah tujuan mudik,” ujarnya.
Dengan potensi lonjakan penduduk tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota telah memetakan kondisi ketersediaan pangan di wilayahnya.
Hasil proyeksi hingga akhir Maret menunjukkan bahwa seluruh komoditas pangan di Jawa Tengah dalam kondisi surplus.
Beberapa komoditas utama yang diperkirakan surplus antara lain beras sekitar 1,5 juta ton, telur ayam ras sekitar 130 ribu ton, gula pasir 54 ribu ton, serta minyak goreng sekitar 5 ribu liter.
“Dengan kondisi tersebut, insyaallah kebutuhan pangan baik untuk masyarakat Jawa Tengah maupun para pemudik tetap dapat terpenuhi,” jelasnya.
Selain memastikan ketersediaan pangan, pemerintah juga melakukan berbagai langkah untuk menjaga keterjangkauan harga di masyarakat. Salah satunya melalui pemantauan dan inspeksi pasar bersama Satgas Pangan.
Pemantauan tersebut melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah daerah, aparat kepolisian hingga Satgas dari Badan Pangan Nasional. Dari hasil sidak yang dilakukan, harga beras hingga saat ini masih relatif stabil.
Namun demikian, pemerintah mencatat ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, salah satunya cabai yang saat ini masih berada di atas harga acuan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov Jawa Tengah melakukan intervensi melalui program subsidi harga cabai yang disalurkan melalui BUMD pangan daerah, Jateng Agro Berdikari.
Tahap awal penyaluran dilakukan sekitar 3 ton cabai, dan akan dilanjutkan sesuai kebutuhan di daerah yang harga cabainya masih tinggi.
Selain cabai, komoditas lain yang mengalami sedikit kenaikan harga adalah daging sapi. Sementara komoditas pangan lainnya relatif stabil.

Sebagai bagian dari stabilisasi harga, pemerintah juga menggelar Gerakan Pangan Murah serentak di berbagai daerah di Jawa Tengah.
Dalam kegiatan GPM kali ini, tercatat 31 kabupaten/kota mengikuti secara daring di wilayah masing-masing, sementara empat daerah lainnya telah lebih dulu melaksanakan kegiatan serupa di luar jadwal.
Sejumlah komoditas yang disalurkan melalui GPM serentak tersebut antara lain beras sebanyak 74 ton, gula pasir 7.250 kilogram, minyak goreng 21.000 liter, telur ayam ras 11.500 kilogram, serta bawang putih 3.400 kilogram.
Hingga saat ini, pelaksanaan GPM di Jawa Tengah bahkan telah melampaui target. Dari target 308 kegiatan hingga Maret, tercatat sudah terlaksana 333 kegiatan Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.
Ia menyebutkan, Gerakan Pangan Murah menjadi langkah konkret untuk memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, terutama pada periode Ramadhan dan Idul Fitri yang identik dengan meningkatnya permintaan.
Berdasarkan data terbaru, inflasi Jawa Tengah pada Februari tercatat 0,76 persen secara bulanan atau 4,43 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 4,76 persen, meski sudah berada di atas target inflasi nasional.
“Karena itu pengendalian inflasi harus terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah,” ujarnya.
Upaya pengendalian tersebut dilakukan melalui strategi 4K, yaitu menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan, posisi Jawa Tengah sebagai jalur utama arus mudik nasional membuat kebutuhan bahan pokok di daerah ini meningkat setiap menjelang Lebaran.
“Jawa Tengah menjadi sentral gateway nasional arus mudik dan balik. Jadi yang masuk bukan hanya orang, tetapi juga kebutuhan bahan pokok,” ujarnya.
Karena itu pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat operasi pasar dan distribusi pangan. Hingga saat ini tercatat sudah dilaksanakan sekitar 363 kegiatan operasi pasar di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas pasokan dan harga pangan di Jawa Tengah tetap terjaga sehingga masyarakat dapat menjalani Ramadhan dan Idul Fitri dengan tenang.