RASIKAFM Semarang – Upaya memperkuat model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis teknologi Climate Smart Agriculture (CSA) terus didorong melalui pemanfaatan biochar. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan talkshow pertanian berkelanjutan berbasis teknologi CSA–Biochar untuk peningkatan produktivitas tanaman padi, yang menghadirkan narasumber lintas lembaga, mulai dari Bank Indonesia, Kementerian Pertanian, hingga akademisi Universitas Diponegoro.
Talkshow menghadirkan Heru Rahadyan, Deputy Direktur Departemen Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr, Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kementerian Pertanian, serta Prof. Dr. Ir. Florentina Kusmiyati, M.Sc, Guru Besar Ilmu Budidaya Pertanian Universitas Diponegoro.
Dalam sesi talkshow, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa biochar merupakan teknologi strategis yang berpotensi mengubah sistem pertanian nasional. Menurutnya, biochar tidak hanya berfungsi menyuburkan tanah, tetapi juga berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.
“Biochar mampu mengunci karbon dalam jangka waktu yang sangat panjang. Karbon seperti dikunci di dalam tanah. Teknologi ini menjadikan sistem pertanian kita lebih rendah karbon,” tegasnya.
Ia menambahkan, penerapan biochar secara luas dapat menjadi solusi adaptif terhadap tantangan perubahan iklim tanpa mengorbankan produktivitas tanaman padi.
Sementara itu, Heru Rahadyan dari Bank Indonesia menyoroti pentingnya aspek model bisnis dan keberlanjutan dalam adopsi teknologi biochar. Ia menyampaikan bahwa penerapan biochar terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara bertahap dan berkelanjutan, namun membutuhkan kerangka implementasi yang jelas.
“Adopsi biochar tidak dapat berjalan optimal tanpa pedoman yang komprehensif dan adaptif. Karena itu, Bank Indonesia bersama koperasi, pelaku pertanian, dan mitra terkait telah melakukan proyek percontohan untuk menyusun model bisnis biochar yang dapat direplikasi,” ujarnya.
Model tersebut diharapkan menjadi referensi pengembangan pertanian berkelanjutan, termasuk di wilayah perbatasan.
Dari sisi akademisi, Prof. Dr. Ir. Florentina Kusmiyati, M.Sc. menjelaskan hasil riset kolaboratif antara LPPM Undip dan Bank Indonesia yang berfokus pada pemanfaatan limbah pertanian, khususnya sekam padi, menjadi biochar.
“Biochar diaplikasikan secara praktis di lapangan untuk mengatasi permasalahan tanah, menekan kehilangan unsur hara sebagai soil amendment, serta meningkatkan retensi air di dalam tanah,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis riset menjadi kunci agar teknologi biochar dapat diterapkan secara tepat guna dan sesuai dengan kondisi agroekosistem petani.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah yang menegaskan peran strategis Jawa Tengah dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya swasembada pangan nasional. Hal ini menuntut sinergi berbagai pihak untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, serta kesejahteraan petani.
Selanjutnya, Direktur Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Kurniawan Agung, secara resmi meluncurkan buku pedoman implementasi model bisnis pertanian berkelanjutan berbasis teknologi CSA–Biochar. Peluncuran ini disertai pesan agar seluruh pemangku kepentingan dapat bersinergi dalam mendukung implementasi pertanian rendah emisi dan berkelanjutan.
Melalui talkshow ini, para narasumber sepakat bahwa penerapan teknologi CSA–Biochar merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan perubahan iklim, sekaligus menjaga produktivitas pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Ke depan, penguatan piloting dan kolaborasi lintas sektor di Jawa Tengah diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi biochar secara lebih luas.