KAWAN PEMANDU JALAN

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

KABAR RASIKA

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Juara 1 Krenova Salatiga 2025, Komunitas Soramata Ciptakan Batik Pelindung Sinar UV

Foto Arief Rasika
Titi Permata menunjukkan kain batik pelindung sinar UV di rumahnya, Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga

RASIKAFM.COM | SALATIGA – Kain batik sudah dikenal luas sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Seiring dengan perjalanan waktu, inovasi batik terus dilakukan. Salah satunya yang dilakukan oleh komunitas Soramata, Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng).

Mereka membuat inovasi batik yang tidak hanya bagus untuk dikenakan sebagai pakaian, namun juga bisa melindungi dari sinar ultraviolet (UV).

Founder Soramata Titi Permata mengatakan, inovasi ini dilakukan sebagai jawaban isu lingkungan yang semakin panas, batik bisa juga digunakan untuk melindungi sinar UV. Sehingga menaikan nilai tambah batik. Tidak hanya sebagai fashion saja, lebih dari itu memiliki kegunaan lain.

“Untuk efektivitas melindungi dari sinar UV, kami sudah ukur dengan alat ukur sinar UV. Kami sudah coba di cuaca panas Salatiga dan hasilnya bisa melindungi dengan tingkat 100%. Kalau untuk yang daerah panas ekstrim, kita belum melakukan risetnya,” kata Titi di rumahnya Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Jumat (13/6/2025).

Diakuinya, proses pembuatan batik pelindung sinar UV sebetulnya sama dengan batik yang lainnya. Namun ada perbedaan pada penggunaan bahan dasar kainnya.

Jika kain batik biasa menggunakan kain katun yang sudah diolah pabrik, untuk kain batik pelindung sinar UV menggunakan kain katun mentah yang belum diputihkan.

“Dengan jenis kain katun itu, kita juga memilih tingkat kerapatan yang tinggi. Tekstur kainnya lebih tebal, namun tetap dingin di kulit. Sehingga tidak membuat gerah saat dipakai,” ungkap Titi.

Selain itu, batik Soramata juga menggunakan pewarna alami. Di antaranya adalah menggunakan daun teh, daun kopi, kulit manggis, kulit mahoni, dan lainnya. Pewarna alami juga sebagaimenegaskan bahwa Soramata peduli terhadap lingkungan.

“Penggunaan pewarna alami memang membutuhkan waktu yang lama. Proses untuk menghasilkan warna yang diinginkan itu bisa sampai satu bulan. Untuk pewarnaan ke kain bisa celup dan keringkan hingga 30 kali,” jelas Titi.

Tak hanya itu, dalam penggunaan air untuk proses membatik, Titi menggunakan air hujan atau air sumur yang dangkal. Hal itu dilakukan untuk mengurangi penggunaan air yang saat ini juga menjadi isu lingkungan.

“Dalam proses ini, kami juga mengolah limbahnya sehingga aman untuk dikembalikan ke alam,” ujar Titi.

Untuk mendapatkan batik pelindung sinar UV dengan pembuatan yang ramah lingkungan tersebut, kata Titi, harganya mulai dari Rp 1.000.000 per meter.

Namun bagi kalangan muda yang ingin memiliki kain batik tersebut bisa juga membeli dengan ukuran lebih kecil.

“Atau bisa juga mengikuti workshop kami untuk mendapatkan produk kami. Tapi mereka harus bersabar membuat dari potongan-potongan kecil,” ungkap Titi.

Produksi Terbatas

Saat ini kain batik pelindung UV itu juga tersedia dalam bentuk pakaian jadi. Sementara untuk pemasaran masih terbatas dari komunitas.

Sebab belum bisa produksi secara besar, karena masih industri rumahan berbasis komunitas. Meski begitu, produk kain batik pelindung sinar UV sudah pernah dipesan untuk kapal pribadi berbendera Australia.

“Untuk permintaan pertama kami buat dalam bentuk tirai itu untuk kapal pribadi. Kemudian dalam bentuk kain dan hoodie. Kami mulai dari teman-teman di jejaring komunitas,” beber Titi.

Keunikan dan inovasi batik pelindung sinar UV Soramata itu telah diikutsertakan dalam lomba Krenova Kota Salatiga dan mendapatkan peringkat pertama kategori umum. Selanjutnya batik pelindung sinar UV itu akan mewakili Kota Salatiga dalam ajang Krenova tingkat Jawa Tengah.

Titi saat diwawancara Rasika

Leave a Comment

Leave a Comment

Kabar Terkini

Leave a Comment

Leave a Comment

Kabar Terkini

POPULER

DPRD Kabupaten Semarang meminta sosialisasi rencana pengembangan geothermal Gunung Ungaran tidak menjadi formalitas agar masyarakat dapat menyatakan menerima atau menolak proyek tersebut. Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Said Riswanto menyampaikan hal itu di Ungaran, Kamis (10/9/2026), karena suara warga dinilai penting dalam proses pembangunan dan pengelolaan lingkungan.
DPRD Kabupaten Semarang Ingatkan Sosialisasi Geothermal Jangan Dianggap Persetujuan Warga
Menag MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
Menag: MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
Tim sepak bola Popda Kota Salatiga berhasil menjadi juara Popda Jawa Tengah 2026 setelah mengalahkan Kabupaten Wonogiri 1-0 pada partai final. Sebelumnya, Salatiga menyingkirkan Kota Semarang melalui adu penalti 5-3 di semifinal. Gelar ini diraih berkat konsistensi, kekompakan, dan mental bertanding para pemain muda sepanjang kompetisi.
Skuad Muda Juara, Perjuangan Tim Sepak Bola Salatiga di ajang Popda Jateng Berbuah Manis
Kota Semarang menjadi pusat pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026 selama 10 hari, 11–20 September. Rangkaian dimulai dengan kedatangan kafilah dan Malam Ta’aruf, dilanjutkan pembukaan pada 12 September yang dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Kompetisi berlangsung 13–18 September, sebelum city tour, penutupan, dan kepulangan kafilah ke daerah masing-masing.
Catat Jadwalnya, MTQ Nasional XXXI Digelar 11-20 September di Semarang