RASIKAFM.COM | UNGARAN – Haryono (58), warga Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, mengaku mengalami sejumlah kejadian yang dianggapnya sebagai firasat sebelum kapal KM Virgo 8 yang ditumpanginya tenggelam di perairan Masalembo, Minggu (13/9/2026) dini hari.
Haryono merupakan satu dari 16 warga yang berangkat dari Semarang menuju Kalimantan Tengah. Mereka hendak bekerja di PT Karya Luhur Sejati, perusahaan perkebunan sawit di Desa Papuyu, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau.
Perjalanan dimulai dari Langensari, Kecamatan Bergas menuju Surabaya pada Jumat (11/9/2026). Dari Surabaya, rombongan melanjutkan perjalanan menggunakan KM Virgo 8 pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB.
Sebelum berangkat, Haryono mengaku mengalami beberapa kejadian yang menurutnya tidak biasa. Pagi sebelum keberangkatan, dia menghadiri selamatan pembangunan gedung PAUD. Saat membawa nasi berkat pulang ke rumah, makanan tersebut justru tumpah di depan rumah.
“Pas sampai di pagar depan itu, nasi berkatnya numplek (tumpah),” kata Haryono saat ditemui di rumahnya, Senin (21/9/2026).
Firasat lain terjadi saat perjalanan menuju Surabaya. Kendaraan travel yang ditumpanginya mengalami dua kali ban kempis, masing-masing di Sragen dan Ngawi.
“Di Sragen kebanan pertama, selesai ditangani lanjut perjalanan lagi. Sesampainya di Mantingan daerah Ngawi, ban bocor lagi,” katanya.
Sesampainya di Pelabuhan Surabaya, Haryono juga melihat seorang penumpang yang menurutnya memiliki raut wajah berbeda saat diantar keluarganya menuju kapal. Namun, kejadian yang paling membekas adalah mimpi yang dialaminya sebelum kapal berangkat.
“Waktu naik kapal, kapal belum jalan, saya sempat bermimpi kapal tenggelam,” ujarnya.
Haryono mengaku tidak terlalu memikirkan mimpi tersebut karena terjadi pada siang hari. Setelah itu, kapal berangkat sekitar pukul 10.00 WIB. Ia sempat makan siang sebelum kemudian tidur. Sekitar pukul 01.00 dini hari, Minggu (13/9/2026), mimpi tersebut seolah menjadi kenyataan. KM Virgo 8 mengalami musibah dan terbalik di perairan Masalembo. Dalam kondisi panik, para penumpang berupaya menyelamatkan diri masing-masing.
“Saya sempat dengar ada yang membangunkan sambil bilang kapal mau tenggelam. Begitu terjaga, saya langsung lari ambil jaket pelampung. Kita enggak bisa nolong yang lain karena masing-masing orang sudah panik. Akhirnya menyelamatkan diri sendiri,” ungkapnya.
Haryono berhasil bertahan dengan mengenakan pelampung. Bersama sembilan orang lainnya, dia kemudian naik ke life raft atau rakit penolong.
Mereka terombang-ambing di tengah laut sejak sekitar pukul 02.00 dini hari hingga akhirnya ditemukan kapal nelayan asal Juwana, Pati, bernama Cahaya Bahari sekitar pukul 10.00 WIB.
“Di kapal ternyata sudah terdapat 12 orang korban lain yang lebih dulu diselamatkan, sehingga dengan rombongan kami ada 22 orang,” bebernya.
Dijelaskan Haryono, dari 16 orang yang ikut rombongannya sampai hari ini masih ada 5 orang yang belum ditemukan.
“Bahkan orang yang sempat membangunkan dan memberi tahu kapal tenggelam juga belum diketahui keberadaannya,” urainya.
Setelah para korban berada di kapal nelayan, informasi mengenai kejadian tersebut diteruskan kepada tim SAR dan pihak terkait. Kapal TNI AL KRI Nala kemudian datang untuk membantu proses evakuasi. Namun, proses pemindahan korban tidak dapat langsung dilakukan karena kondisi cuaca buruk, gelombang tinggi, serta situasi malam yang gelap. Evakuasi baru dilakukan keesokan paginya sekitar pukul 10.00 WIB. Para korban dipindahkan dari kapal nelayan menuju KRI Nala menggunakan perahu karet milik TNI AL menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.
“Begitu kita turun, langsung dicek kesehatannya. Yang lukanya agak parah langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat,” jelas Haryono.
Setelah mendapat penanganan, Haryono dan korban lainnya mendapatkan santunan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebesar Rp5 juta. Bantuan tersebut digunakan untuk membeli tiket dan kebutuhan perjalanan pulang.
“Pihak KM Virgo 8 juga memberikan tali asih. Awalnya Rp500 ribu, tapi kami menolak karena uang segitu buat beli tiket saja tidak cukup, belum lagi barang yang hilang dan rusak. Lalu ada kesepakatan akhirnya ditambahi,” ungkapnya.
Haryono akhirnya kembali ke Kabupaten Semarang pada Sabtu (19/9/2026) siang. Ia tiba di Bandara Jenderal Ahmad Yani sekitar pukul 10.40 WIB dan langsung dijemput pemerintah desa, kepala dusun, istri, serta anaknya.
“Sampai di rumah ternyata sudah banyak orang berkumpul. Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada warga yang telah mendoakan keselamatan saya,” jelasnya.
Bagi Haryono, rangkaian kejadian sebelum keberangkatan, mulai dari nasi berkat yang tumpah, dua kali ban kendaraan bocor, hingga mimpi kapal tenggelam, menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakannya.
“Memang sudah ada firasat. Sudah diingatkan,” katanya. (win)











