URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Desa Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Semarang, menggelar tradisi tahunan Merti Dusun 2025 pada 5–19 Oktober. Warga melaksanakan bersih desa, wilujengan, kirab budaya, hingga pagelaran seni. Tradisi ini menjadi wujud syukur, sarana melestarikan budaya Jawa, serta mempererat kebersamaan masyarakat melalui prosesi adat dan hiburan rakyat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Merti Dusun Gedanganak 2025: Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Jawa di Ungaran

Merti Dusun Gedanganak 2025: Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Jawa di Ungaran

Merti Dusun Gedanganak 2025: Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Jawa di Ungaran

featured-img

UNGARAN – Desa Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, kembali bersiap menyambut Merti Dusun 2025. Tradisi tahunan ini adalah wujud syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus upaya melestarikan budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Rangkaian kegiatan akan dipusatkan di Lapangan Desa dengan berbagai prosesi adat, seni, dan hiburan budaya yang melibatkan seluruh warga.

Bersih Desa dan Sendang (Minggu, 5 Oktober 2025)

Prosesi dimulai dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan dan sendang. Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tetapi juga simbol penyucian desa. Tradisi ini dianggap penting sebagai landasan spiritual sebelum memasuki rangkaian acara utama, sekaligus sarana mempererat kebersamaan antarwarga.

Wilujengan dan Wayang Kulit (Sabtu, 11 Oktober 2025)

Agenda pembukaan Merti Dusun akan dimulai pada pagi hari dengan prosesi wilujengan, yaitu doa bersama yang dilanjutkan kenduri atau makan bersama. Warga dari berbagai RT akan berkumpul untuk memanjatkan doa demi keselamatan dan keberkahan desa. Usai prosesi tersebut, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukan wayang ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi media pelestarian sejarah dan nilai budaya Jawa bagi generasi muda.

Puncak Tradisi: Kirab Budaya (Minggu, 12 Oktober 2025)

Puncak Merti Dusun akan dirayakan dengan Kirab Budaya. Dalam kirab ini, warga menampilkan arak-arakan gunungan hasil bumi yang melambangkan kemakmuran desa. Kirab ini juga menjadi simbol kekompakan dan gotong royong masyarakat Gedanganak.

Makna dan Pesan Tradisi

Ketua Among Budaya Gedanganak, Rustono, menegaskan bahwa Merti Dusun adalah identitas budaya yang harus terus dijaga. Ia menjelaskan, tradisi ini memiliki tiga makna penting: ngrumat (merawat), ngrawat (melestarikan), dan ngruwat (membersihkan).

“Dalam pelaksanaannya, kami menjalankan tiga hal utama: bersih sendang dan lingkungan, wilujengan, serta sedekah donoroso atau berbagi kebahagiaan. Ini bukan hanya wujud syukur, melainkan juga cara kami mempererat tali persaudaraan dan mengenalkan kekayaan budaya Jawa kepada generasi muda” ujar Rustono.

Dengan rangkaian kegiatan yang meriah dan bermakna ini, Merti Dusun Gedanganak 2025 diharapkan menjadi ajang syukur, hiburan, sekaligus sebagai wujud pelestarian budaya dan pengenalan nilai – nilai luhur budaya Jawa kepada generasi penerus.  (Ben)

BACA JUGA :

Masyarakat Dusun Wates, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, terus melestarikan tradisi Saparan atau merti dusun yang digelar setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar. Tradisi yang berlangsung turun-temurun ini diwujudkan melalui rangkaian ritual adat, open house, serta pertunjukan kesenian sebagai ungkapan syukur, mempererat silaturahmi, dan menjaga nilai gotong royong sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.
Saparan di Getasan, Tradisi Tahunan yang Hadirkan Suasana Mudik dan 'MBG Swadaya'
Forkopimda Kabupaten Semarang tampil sebagai pemain ketoprak bertajuk "Rebut Kembar Mayang" pada puncak peringatan HUT ke-35 DPD Permadani Kabupaten Semarang di GOR Pandanaran Wujil, Kecamatan Bergas, Sabtu (25/7/2026) malam. Ngesti Nugraha bersama jajaran pimpinan daerah turun langsung ke panggung sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya Jawa sekaligus mengajak generasi muda menjaga bahasa, tata krama, dan nilai-nilai luhur budaya melalui seni tradisional
Forkopimda Kabupaten Semarang Main Ketoprak, Cara Unik Permadani Lestarikan Budaya Jawa
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Malam ini, Ratusan Raja dan Pemangku Adat Berkumpul di UKSW Salatiga
Ribuan warga memadati tradisi Jolenan di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Sabtu (18/7/2026). Masyarakat mengarak gunungan hasil bumi sebagai wujud syukur atas panen raya yang melimpah sekaligus melestarikan budaya Jawa. Tradisi tahunan bertema Ketahanan Pangan itu diakhiri dengan perebutan hasil bumi yang menjadi daya tarik utama dan diharapkan berkembang sebagai destinasi wisata budaya
Angkat Tema Ketahanan Pangan, Desa Kemetul Kembali Sukses gelar Jolenan Tahun 2026
Pemerintah Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, menggelar Labuh Agung Sedekah Rawa Pening pada bulan Muharam, Senin (6/7/2026) malam. Warga mengadakan kirab budaya, penyalaan obor, larung sesaji, dan pentas Reog Ponorogo sebagai ungkapan syukur atas rezeki serta keselamatan, sekaligus melestarikan tradisi bagi masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan di Rawa Pening.
Labuh Agung Sedekah Rawa Pening Kembali Digelar, Warga Larung Hasil Bumi dan Perairan sebagai Wujud Syukur
Komunitas Salatiga Keris Ageman Lestari menggelar prosesi jamasan pusaka di halaman Museum Salatiga, kawasan Prasasti Plumpungan, Kamis (2/7/2026), sebagai upaya pelestarian budaya Nusantara. Dalam kegiatan itu, bakal keris dan tombak diserahkan kepada empu untuk ditempa menjadi pusaka resmi Kota Salatiga, sekaligus melibatkan perawatan puluhan keris dan tosan aji milik masyarakat sebagai media edukasi budaya bagi generasi muda.
Sakral Gelar Jamasan Pusaka, Serahkan Bakal Keris Salatiga

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

Satreskrim Polres Semarang mengungkap kasus perampokan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, melalui jejak salah satu tersangka saat menggunakan jasa ojek online dari Grobogan menuju Ambarawa. Polisi menelusuri pengemudi GoRide yang menerima satu unit handphone sebagai pembayaran hingga memperoleh identitas tersangka. Penyidik juga menyebut motif perkara berkaitan dengan persoalan ekonomi dan masih melengkapi berkas sebelum diserahkan kepada kejaksaan.
Terungkap Lewat Histori Ojol, Perampok Royal Phone Bayar Gojek Pakai HP Hasil Kejahatan
Satreskrim Polres Semarang menetapkan TI (25) dan DPP (20) sebagai tersangka kasus pencurian dengan kekerasan yang menewaskan pemilik Royal Phone, Chandra Waskito, di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026). Polisi mengungkap aksi tersebut direncanakan sehari sebelumnya dan dilakukan dengan memukul korban menggunakan palu sebelum kedua tersangka membawa 53 telepon genggam serta mobil korban ke Gubug, Grobogan. Keduanya kini dijerat pasal pencurian dengan kekerasan dan pembunuhan dengan ancaman pidana seumur hidup atau maksimal 20 tahun penjara.
Kronologi Perampokan Disertai Pembunuhan Bos Royal Phone Ambarawa, Korban Dihabisi Pakai Palu di Bagian Kepala
Seorang pelajar kelas 10 SMK Bakti Nusantara berinisial KM (16) ditilang Satlantas Polres Salatiga karena mengendarai sepeda motor dengan knalpot tidak sesuai spesifikasi di pertigaan Cebongan, Selasa (11/8/2026). Polisi menilai suara knalpot brong mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Selain penindakan, Kasat Lantas AKP Henry Sulistyanta memberikan edukasi agar pelajar tidak menggunakan knalpot yang menimbulkan kebisingan.
Tertangkap Basah Gunakan Knalpot Brong di Pertigaan Cebongan, Siswa SMA di Salatiga Tertunduk Lesu

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved