KAWAN PEMANDU JALAN

KABAR RASIKA

Pemkot Semarang jaring Aspirasi lewat “Mbak Ita Sapa Warga” secara Langsung

Pemkot Semarang jaring Aspirasi lewat “Mbak Ita Sapa Warga” secara Langsung

Pemkot Semarang jaring Aspirasi lewat “Mbak Ita Sapa Warga” secara Langsung

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, melaksanakan kegiatan Mbak Ita Sapa Warga di Kelurahan Sumurboto, Banyumanik, sebagai bagian dari program kunjungan langsung untuk mendengarkan aspirasi masyarakat. Kegiatan ini merupakan inisiatif Pemerintah Kota Semarang guna memberikan dukungan dan pelayanan kepada masyarakat secara langsung.
(Foto: Humas Pemkot Semarang)
Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, saat menggelar program Mbak Ita Sapa Warga di Tlogosari Kulon, Jumat (9/6/2023).

Semarang – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menyambangi Kelurahan Sumurboto, Banyumanik dalam rangkaian kegiatan Mbak Ita Sapa Warga, Rabu (14/6/2023). Rencananya kegiatan tersebut akan dilaksanakan di beberapa kelurahan di Kota Semarang. Mbak Ita Sapa Warga adalah program jemput bola yang dicanangkan Pemerintah Kota Semarang untuk mengetahui aspirasi masyarakat di lapangan secara langsung, sekaligus mengadakan pelayanan kepada masyarakat.

“Ini adalah bagaimana program-program Pemerintah Kota Semarang ini mengena kepada masyarakat. Jadi tidak hanya mendengarkan aspirasi lalu sudah selesai. Bagaimana kita bisa memberikan support kepada masyarakat. Ada ketahanan pangan, Pak Rahman, pelayanan KB, KTP, pembayaran PBB, semua ini mengeroyok,” ujar Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita Gunaryanti Rahayu.

“Saya memang menyampaikan bahwa teman-teman ini jangan satu-satu acaranya, kalau satu-satu kecil. Beda kalau bersama-sama jadi besar masyarakat datang, masyarakat juga mendapatkan manfaat (mengakses pelayanan) di samping aspirasinya tersampaikan,” imbuh wali kota perempuan pertama di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Menurut Mbak Ita, program ini menjadi wujud komitmen jajarannya untuk mendeteksi dan menyelesaikan masalah dari level pemerintahan terdasar. Dirinya menjelaskan, dengan mengidentifikasi potensi-potensi permasalahan yang ada di setiap kelurahan maka akan memudahkan dalam mengimplementasikan solusi, pembagian bantuan, hingga memonitor proses pengembangannya.

“Kalau mulai dari bawah, mulai dari kecil ini kita bisa selesaikan, di atasnya itu tidak berat. Tapi kalau top down itu akan berat mengurainya. Maka kita buat program itu per kelurahan. Pastinya berbeda antara kelurahan satu dengan lainnya,” terang Mbak Ita.

“Contohnya kemarin di Tlogosari Kulon, dia lebih karena banjir, saluran, dan itu kan muara. Kemudian Tugurejo pesisir, di sana berbeda penghidupannya dengan di Sumurboto. Sumurboto sendiri masyarakatnya lebih ke menengah ke atas hanya ada beberapa titik yang mengalami kemiskinan ekstrem. Identifikasi ini yang diperlukan untuk merancang program yang sesuai kebutuhan masyarakat. Harapannya dengan bottom up ini dapat menyelesaikan masalah,” tutup Mbak Ita.

Knowledge

Kabar Terkini

POPULER

Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyerahkan SK perpanjangan kontrak kepada 896 PPPK paruh waktu di Halaman Kantor Pemkot Salatiga, Senin (28/9/2026). Perpanjangan berlaku 1 Oktober 2026 hingga 30 September 2027 sebagai kelanjutan masa kerja dan tanggung jawab pelayanan pemerintahan. Pemkot juga meluncurkan tiga inovasi pengelolaan pendapatan daerah berbasis digital.
896 PPPK di Salatiga kembali Terima SK Perpanjangan Kontrak
Pemkab Semarang mendorong Wisata Edukasi Setepeng di Bergas Lor menjadi pusat pelatihan keterampilan bagi masyarakat, termasuk ASN dan non-ASN menjelang pensiun. Budidaya ayam petelur dan ikan menjadi salah satu pilihan usaha yang dapat dipelajari secara langsung. Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu juga akan dikembangkan dengan tanaman buah dan komoditas lainnya.
Wisata Edukasi Setepeng Jadi Tempat Belajar Usaha, Bupati Semarang Sasar ASN Jelang Pensiun
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
11 Pendaftar Calon Pimpinan Baznas Salatiga Lolos Administrasi
Fakultas Pertanian dan Bisnis UKSW melalui program KKN mendampingi 25 warga Dusun Sengon, Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang, mengolah bio-slurry dan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik cair, pupuk organik padat, serta MOL. Kegiatan selama sebulan ini mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
KKN UKSW di Desa Manggihan, Mahasiswa Olah Limbah Biogas jadi Pupuk Organik
[pekok2]