RASIKAFM.COM | SALATIGA – Pasca ramainya pemberitaan soal kenaikan pajak kendaraan bermotor di Jawa Tengah memantik beragam sikap warga, tak terkecuali di Salatiga. Sejumlah unggahan bernada protes. Namun, pelayanan pembayaran pajak tetap berlangsung ramai.
Kepala UPPD Salatiga, Amar Ustadi Abdullah, mengakui adanya respons negatif tersebut. “Di medsos memang ada komentar-komentar,” kata Amar saat ditemui diruang kerjanya. rabu (18.2.2026)
Ia menilai isu itu berdampak, tetapi tidak signifikan. “Ada pengaruhnya, tapi sedikit,” ujarnya.
Bahkan, menurut dia, antusiasme wajib pajak masih terlihat. “Wajib pajak masih antusias membayar pajak,” terang Amar.
Data terbaru menunjukkan penerimaan Januari 2025 sebesar Rp 6,5 miliar. Pada Januari 2026 turun menjadi Rp 6,2 miliar. Dirinya menyebut ada koreksi penerimaan. “Memang di Januari 2026 ada penurunan sekitar Rp 308 juta,” kata Amar.
Penurunan itu sekitar 7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, ia belum menyimpulkan penyebabnya. “Belum bisa memastikan apakah ini karena pengaruh isu itu atau ada faktor lain,” ujarnya.
Komposisi objek pajak di Salatiga didominasi sepeda motor, sekitar 87 persen. Penunggakan terjadi baik pada roda dua maupun roda empat. Amar juga menyinggung kendaraan listrik yang bebas pajak. “Kendaraan listrik pajaknya 0,” katanya.
Tercatat sekitar 50 unit roda dua listrik. “Secara jumlah objek meningkat, tapi secara penerimaan pajak kita turun,” ujar Amar.
Untuk capaian 2025, realisasi penerimaan melampaui target. “Masih memenuhi 112 persen,” kata Amar.
Namun tren awal 2026 menjadi perhatian. “Ini menjadi warning untuk kita,” ujarnya.
Sementara itu, upaya yang dilakukan antara lain edukasi dan sosialisasi. “Penagihan door to door kepada wajib pajak yang menunggak,” kata Amar yang didampingi Kanit Reg Ident IPDA Widodo.
Juga razia bersama kepolisian. “Untuk kepatuhan berkendara maupun kepatuhan bayar pajak,” ujarnya.
Di sisi lain, warga tetap datang membayar pajak.
Ahmad Sahroni Seorang wajib pajak mengatakan, “Harus seharusnya kan bayar pajak itu mengikuti aturan pemerintahnya,” katanya.
Ia mengaku tidak mengetahui detail kenaikan. “Nggak tahu naik berapa, yang penting bayar pajak itu,” bebernya.
Menurut warga Pabelan ini , pihaknya memilih patuh. “Mau gimana lagi ya, Mas, nggak ada pilihan lain,” katanya.
Meski demikian, ia berharap kebijakan ke depan lebih ringan. “Semoga nggak naik terus,” ujarnya.
Sementara itu Pantauan Rasika FM dikantor Unit Penggelolaan Pendapatan Daerah (UPPD) Salatiga, Rabu (18.2.2026) masih banyak warga yang tetap datang ke kantor dan membayar pajak,
meskipun di medsos ajakan boikot pajak dan gerakan tidak bayar pajak cukup masif