URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

[posts_like_dislike]
Kepala MTs Aswaja Tengaran, Hafid Zaen Akhmad, mengkritisi peluncuran program Sekolah Rakyat yang dinilai berpotensi menambah pemborosan anggaran di tengah keterbatasan bantuan bagi madrasah swasta. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penguatan fasilitas, kesejahteraan guru, dan digitalisasi sekolah yang telah lama berdiri serta berperan dalam pendidikan karakter masyarakat.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

Ada Jeritan dari Bangku Madrasah

featured-img

Ditulis oleh: Hafid Zaen Akhmad, S.Pd.I (Kepala MTs Aswaja Tengaran)
TELP 085641048679

Di tengah gegap gempita peluncuran program “Sekolah Rakyat” yang baru, saya berdiri di depan gerbang madrasah saya dengan perasaan campur aduk. Sebagai pendidik, saya tentu menyambut baik setiap upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, sebagai kepala madrasah yang setiap hari memutar otak agar atap kelas tidak bocor saat hujan, kebijakan ini menyisakan rasa getir yang mendalam.

Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam, kami kerap merasa seperti anak tiri yang dipaksa mandiri tanpa bekal yang cukup. Pertanyaan mendasar yang berkecamuk di kepala saya dan mungkin di benak ribuan pengelola madrasah swasta serta sekolah pinggiran lainnya adalah: Mengapa pemerintah begitu gemar membangun rumah baru, sementara rumah yang ada dibiarkan rapuh dan kekurangan penyangga? Ego Sektoral dan Hamburan Anggaran

Mari kita bedah secara objektif. Fenomena hari ini memperlihatkan kecenderungan yang mengkhawatirkan: hampir setiap kementerian seolah merasa wajib memiliki “sekolah binaan” atau program pendidikan sendiri. Alih-alih melakukan integrasi satu pintu yang solid melalui Kementerian Pendidikan atau Kementerian Agama, kita justru melihat tumpang tindih program yang memakan biaya tidak sedikit.

Membangun fisik sekolah baru berarti memunculkan pos anggaran baru:

  • Biaya pembebasan lahan dan konstruksi fisik yang fantastis.
  • Perekrutan dan penggajian aparatur atau manajemen baru.
  • Biaya operasional yang terus mengalir dari APBN.

Ini adalah pemborosan anggaran yang nyata di tengah narasi “efisiensi keuangan negara”. Ketika anggaran dihamburkan untuk membiayai ego sektoral berupa proyek-proyek fisik baru, ada ribuan madrasah di pelosok negeri yang terseok-seok mendanai kegiatan operasionalnya demi bertahan hidup. Realitas di Akar Rumput: Kami Butuh Sentuhan, Bukan Saingan
“Alih-alih memperkuat fondasi yang sudah berdiri kokoh di masyarakat, pemerintah justru sibuk membuat replika baru yang belum tentu adaptif.”

Madrasah yang kami kelola bukanlah sekolah kemarin sore. Kami telah berakar di masyarakat, merawat moralitas, dan mendidik generasi bangsa dengan nilai-nilai akhlakul karimah jauh sebelum program-program baru ini digagas. Namun, apa yang kami dapatkan?

Ketimpangan Bantuan: Akses terhadap bantuan sarana prasarana (sarpras) seringkali birokratis dan terbatas.

Kesejahteraan Guru: Guru-guru honorer kami mengabdi dengan insentif yang jauh dari kata layak, demi menjaga obor literasi tetap menyala.

Digitalisasi yang Terpincang: Di saat sekolah baru dijanjikan fasilitas serba digital, kami masih berjuang mengunduh materi ajar dengan sinyal seadanya dan perangkat yang menua.

Jika anggaran raksasa untuk “Sekolah Rakyat” baru itu dialihkan secara proporsional untuk men-support, merevitalisasi, dan memperkuat madrasah serta sekolah-sekolah yang sudah ada, dampaknya akan jauh lebih instan dan masif. Pemerintah tidak perlu merangkak dari nol. Fondasinya sudah ada, sistemnya sudah berjalan, yang kami butuhkan hanyalah intervensi dan sentuhan nyata dari negara. Menagih Keberpihakan yang Adil

Pendidikan bukan panggung komoditas politik untuk pamer portofolio kebaikan instansi. Pendidikan adalah tentang keberlanjutan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sudah saatnya pemerintah menghentikan syahwat membangun sekolah-sekolah baru yang sarat ego kelembagaan. Tengoklah kami, madrasah-madrasah yang selama ini menjadi benteng pertahanan karakter bangsa. Support kami, perbaiki fasilitas kami, dan sejahterakan guru-guru kami.

Jangan biarkan kami terus Menatap megahnya gedung-gedung baru milik pemerintah, sementara murid-murid kami harus belajar di bawah atap yang lapuk, sembari bertanya-tanya: apakah kami bukan bagian dari rakyat yang sedang disekolahkan itu

BACA JUGA :

mbg
​Menata Ulang Rute MBG: Menghindari Kebocoran Anggaran, Memperkuat Pondasi Ekonomi Lokal
Reformasi Transportasi Publik Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Reformasi Transportasi Publik: Saatnya Trans Jateng Hadir di Jekuti (Jepara – Kudus – Pati)
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Arah Baru Modernisasi Armada Trans Semarang
Ketiadaan layanan transportasi dan rute ekstrem pedesaan membutuhkan waktu dan energi sebelum memasuki ruang kelas
Tiba di Kelas dengan Senyuman: Mengapa Guru Butuh Transportasi Layak?
Tips Cerdas Sewa Bus Wisata Sekolah Liburan Seru, Rombongan Aman dan Tenang
Tips Cerdas Sewa Bus Wisata Sekolah: Liburan Seru, Rombongan Aman dan Tenang
Menuju Era Baru Trans Semarang Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan
Menuju Era Baru Trans Semarang: Hijau, Jalur Khusus, dan Berkeadilan

Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar

INFOGRAFIS

Kabar Terkini

POPULER

DPC PPP Kabupaten Semarang mulai menyusun strategi menghadapi Pemilu 2029 dengan memperkuat konsolidasi organisasi dan menyasar generasi milenial serta pemilih pemula. Hal itu disampaikan Sekretaris DPC PPP Kabupaten Semarang Zaenudin di Ungaran, Kamis (16/7/2026), usai kepengurusan baru periode 2026–2031 menerima SK DPP. Langkah tersebut dilakukan melalui pembentukan kepengurusan hingga tingkat desa serta peningkatan pendidikan politik bagi kader muda.
PPP Kabupaten Semarang Bidik Pemuda dan Pemilih Pemula Hadapi Pemilu 2029
Puluhan korban dugaan penipuan pembelian rumah di Perumahan Bandarjo Village Permai, Kecamatan Ungaran Barat, mengadukan kasus tersebut ke Komisi C DPRD Kabupaten Semarang, Rabu (15/7/2026). Para korban menuntut pengembang mengembalikan dana sekitar Rp1,4 miliar setelah proyek mangkrak, rumah tidak kunjung dibangun, dan sebagian sertifikat belum diterbitkan. DPRD meminta pengembang menuntaskan pengembalian dana hingga September 2026 serta menunda penerbitan izin proyek sampai seluruh persoalan konsumen selesai.
Puluhan Korban Perumahan Bandarjo Village Permai Mengadu ke DPRD, Tuntut Refund Rp1,4 Miliar
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca Semarang dan Jawa Tengah pada Senin, 13 Juli 2026, didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Hasil pengamatan pukul 06.00 WIB menunjukkan suhu udara di Semarang mencapai 25,4 derajat Celsius dengan kelembapan 65 persen, sementara cuaca kering masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
13 Juli 2026: Cuaca Semarang Cerah, BMKG Minta Waspadai Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan di Jawa Tengah