RASIKA105.6FM – Transformasi digital di Jawa Tengah terus melaju pesat. Masyarakat kini semakin beralih ke pembayaran digital melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang dinilai lebih praktis, aman, dan efisien dibandingkan uang tunai.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Soemarno, menegaskan bahwa digitalisasi bukan hanya tren, tetapi juga bagian dari upaya melindungi masyarakat dari berbagai risiko dalam transaksi tunai.
“Digitalisasi adalah sebuah kemudahan dan keamanan. Sekarang orang ke mana-mana nggak perlu bawa uang tunai lagi. Nggak ada risiko uang palsu, karena tidak semua orang bisa membedakan mana uang asli dan mana yang palsu. Teknologi pemalsuan makin canggih, kadang uang palsu tampak mirip dengan uang asli,” ujar Soemarno.
Bersama dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa tengah Rahmat Dwisaputra dalam gelaran Rupiah Tresno Budoyo 2025 di Radjawali Cultural Center Semarang, Sabtu 1 November Lebih lanjut, Soemarno menilai bahwa sistem pembayaran digital juga berperan dalam menumbuhkan kejujuran dan integritas di tengah masyarakat.
“Dengan digitalisasi, kita ingin melindungi masyarakat. Selain itu, kita juga mendorong orang untuk jujur. Uang tunai itu risikonya tinggi ketika seseorang melihat wujud uang, bisa muncul godaan atau niat untuk mengambilnya. Tapi dengan digital, hal-hal seperti itu bisa diminimalkan,” imbuhnya.
Dengan berbagai keunggulan — mulai dari praktis, cepat, aman, bebas risiko uang palsu, hingga mendorong transparansi dan akuntabilitas, QRIS kini menjadi solusi masa depan dalam transaksi keuangan masyarakat.
Transformasi ini menunjukkan bahwa Jawa Tengah semakin siap menjadi provinsi yang digital, inklusif, dan modern, sejalan dengan arah kebijakan nasional menuju cashless society.
QRIS, Solusi Masa Depan Transaksi Masyarakat
Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Tengah mencatat, hingga Agustus 2025, volume transaksi QRIS di provinsi ini telah menembus Rp553 triliun. Angka tersebut melesat 231,29 persen dari target tahun berjalan.
Kepala BI Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra, mengungkapkan bahwa capaian ini menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi keempat tertinggi dalam penggunaan QRIS di Indonesia. Dari sisi pengguna, jumlahnya juga meningkat signifikan — bertambah 354 ribu pengguna baru sehingga total mencapai 7,98 juta pengguna, menempatkan Jateng di posisi ketiga nasional.
“Pertumbuhan ini menunjukkan masyarakat makin percaya pada sistem pembayaran digital yang cepat, mudah, dan aman,” ujar Rahmat, Minggu (2/10/2025).
Rahmat menambahkan, Pemda Jawa Tengah juga berhasil mempertahankan status Pemda Digital dengan Indeks ETPD (Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah) sebesar 96,5 persen pada evaluasi Semester I-2025.
Beberapa inovasi BI Jateng yang turut mendongkrak penggunaan QRIS antara lain:
- QRIS Society LPG Channel, untuk pembayaran digital di pangkalan LPG.
- Digitalisasi destinasi wisata seperti Candi Borobudur, Lawang Sewu, dan Karimunjawa.
- Program literasi keuangan dan non-tunai bersama Pemda, sekolah, pesantren, dan UMKM.
“Semua ini kami lakukan bersama mitra strategis di daerah untuk memperluas ekosistem pembayaran digital di Jawa Tengah,” tambah Rahmat.