RASIKAFM.COM | UNGARAN – Upaya meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao (cokelat) nasional kini mulai menyasar generasi muda, khususnya Generasi Z, melalui penerapan konsep smart agroforestry. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci transformasi sektor kakao yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan di tingkat petani.
Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER bersama CIRAD, sebuah organisasi penelitian publik Perancis memperkenalkan konsep tersebut dalam pelatihan program INDOKAKAO yang digelar pada 14–17 April 2026 di KP2 INSTIPER Ungaran, Desa Randugunting, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari penyuluh, pendamping, hingga kelompok tani.
Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso, menjelaskan smart agroforestry merupakan sistem budidaya yang tidak hanya berfokus pada satu komoditas, tetapi mengintegrasikan kakao dengan tanaman lain untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan lingkungan.
“Smart agroforestry itu tidak bergantung pada satu komoditas saja. Kakao bisa dikombinasikan dengan kopi, karet, kelapa, hingga tanaman lainnya. Sistem ini saling mendukung dan memperkuat ekonomi petani,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).
Menurut Agus, pendekatan ini juga dirancang agar mampu menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Pasalnya, karakter Gen Z dinilai berbeda dengan generasi sebelumnya.
Ia menyebutkan, generasi muda saat ini cenderung menginginkan penghasilan yang fleksibel untuk memenuhi gaya hidup, seperti kebutuhan hiburan, perjalanan, hingga pembaruan perangkat digital. Selain itu, mereka juga sangat lekat dengan teknologi dan gadget.
“Ke depan, kami dorong agar gadget tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan. Misalnya dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memantau produksi kakao, memprediksi panen, hingga akses pasar,” jelasnya.
Tak hanya itu, INSTIPER juga mendorong generasi muda memanfaatkan tren media sosial sebagai peluang ekonomi. Karakter Gen Z yang dekat dengan konten digital dinilai bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan promosi produk pertanian.
“Generasi Z ini juga FOMO, jadi kita arahkan bagaimana kegiatan mereka bisa menjadi konten yang menarik dan bernilai ekonomi,” tambah Agus.
Dalam implementasinya, smart agroforestry didukung dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, seperti pemetaan lahan, penggunaan barcode, hingga prediksi produksi berbasis digital.
“Harapan kami mampu meningkatkan efisiensi sekaligus kualitas kakao agar memenuhi standar pasar global,” urainya.
Sementara itu, Regional Director CIRAD, Jean-Marc Roda, menekankan pentingnya peningkatan kualitas kakao Indonesia. Selama ini, menurutnya, petani masih lebih fokus pada kuantitas dibanding mutu.
“Indonesia memang masuk lima besar produsen kakao dunia, tetapi kualitasnya masih kalah dibanding Afrika Barat. Ini yang harus kita perbaiki agar nilai kakao meningkat dan pendapatan petani ikut naik,” paparnya.
Melalui program INDOKAKAO, kolaborasi Indonesia–Prancis ini diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi petani baru yang adaptif terhadap teknologi dan mampu mengelola usaha kakao secara berkelanjutan. (win)