URL audio tidak tersedia.

RASIKA 105.6 FM

"KAWAN PEMANDU JALAN"

Lonjakan kasus gangguan kesehatan mental anak di Indonesia diungkap Kemenkes setelah pemeriksaan terhadap 20 juta jiwa pada 2025. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan karena tekanan akademik, paparan digital, dan minimnya relasi hangat. Para ahli menilai perbaikan dilakukan melalui kehadiran emosional orang tua serta dukungan sekolah.

Mbak Google

KABAR RASIKA

Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: Saatnya Sekolah dan Rumah Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa

Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: Saatnya Sekolah dan Rumah Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa

Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: Saatnya Sekolah dan Rumah Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa

Ditulis oleh:  Falentinus Wegig Sulistya (Pendidik dan Mahasiswa Magister Psikologi Soegijapranata Catholic University)
Custom Image

Beberapa waktu yang lalu publik seakan tercengang mendengar berita lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Data ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan jiwa gratis terhadap sekitar 20 juta jiwa.

Di sisi lain, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah mengungkapkan perkiraan sekitar 30 persen penduduk Indonesia memiliki penyakit mental dalam berbagai tingkat. Data ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang terjadi pada anak-anak kita? Mengapa di tengah kemajuan pendidikan dan teknologi, semakin banyak anak merasa lelah secara batin, kehilangan makna, bahkan keinginan untuk hidup?.

Anak yang Tertekan di Tengah Dunia yang Bising

Tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan paparan media digital yang berlebihan menciptakan dunia yang penuh dengan kebisingan bagi anak dan remaja saat ini. Mereka bertumbuh dalam situasi di mana perhatian sering kali terpecah, sementara kasih sayang dan komunikasi hangat semakin berkurang.

Di banyak keluarga saat ini, yang terjadi adalah interaksi antara orang tua dan anak tergantikan oleh layar gawai. Anak – anak lebih sering mencari validasi dari media sosial, bukan dari pelukan keluarga.

Sementara itu, sebagian orang tua tanpa sadar menilai keberhasilan anak dari ranking dan prestasi, bukan dari kesejahteraan batin mereka. Studi Health Collaborative Center (2024) mengungkapkan bahwa 34 persen pelajar SMA di Jakarta menunjukkan indikasi gangguan mental emosional. Angka ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental anak bukan hanya isu medis, melainkan cerminan dari relasi keluarga dan sistem pendidikan yang kurang memperhatikan keseimbangan emosional.

Akar Masalah: Hubungan yang Terputus dan Minimnya Kehadiran Emosional

Salah satu akar terdalam dari krisis kesehatan mental anak adalah terputusnya relasi yang hangat antara orang tua, guru, dan anak- anak. Psikologi humanistik (Rogers, 1961) menegaskan bahwa individu hanya dapat berkembang secara sehat bila merasa diterima dan dipahami tanpa syarat. Kalau kita melihat fakta sekarang ini, banyak anak – anak tumbuh dalam tekanan ekpektasi yang berlebihan sehingga membuat mereka merasa kurang mampu, kurang berharga, dan kurang diterima apa adanya.

Orang tua sering kali terlalu berfokus pada hasil belajar dan perilaku anak, tetapi lupa bahwa perhatian dan penerimaan adalah kebutuhan emosional dasar yang membentuk ketahanan psikologis seseorang. Anak yang merasa diterima akan lebih mampu menghadapi stres, karena ia memiliki “tempat pulang” secara emosional.

Rumah Sebagai Ruang Pemulihan Pertama

Sebelum sekolah berperan, rumah adalah tempat bertumbuh dan sekolah pertama bagi jiwa anak. Di sinilah anak – anak pertama kali belajar mencintai, memahami, dan dimengerti. Orang tua menjadi role model pertama dalam hal mengelola emosi, menghadapi kegagalan, dan menumbuhkan empati.

Ada beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan orang tua:

1. Hadir secara penuh
Orang tua harus meluangkan waktu untuk hadir bagi anak – anak mereka. Kehadiran bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Anak membutuhkan mata yang benar-benar melihat dan telinga yang mau mendengar, bukan hanya kata – kata nasehat.

2. Mendengarkan tanpa menghakimi
Banyak anak – anak remaja menutup diri karena setiap keluhannya langsung ditanggapi dengan kritik. Orang tua yang dapat mendengarkan secara empatik membantu anak merasa aman untuk jujur tentang perasaannya.

3. Membangun rutinitas reflektif di rumah.
Orang tua dapat membiasakan percakapan reflektif dengan anak – anak di rumah, misalnya dengan bertanya : “Hal apa yang paling membuatmu senang atau sedih hari ini?” Pertanyaan sederhana ini bisa membuka ruang dialog emosional yang menenangkan bagi anak.

4. Mengajarkan keseimbangan digital.
Orang tua perlu menjadi teladan dalam penggunaan gawai dan mengajarkan anak batas sehat dalam konsumsi media sosial. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan terutama perilaku doomscrolling berdampak negatif pada kesehatan mental. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk mengajarkan keseimbangan digital ini. Kesehatan mental di era digital berawal dari disiplin bersama di rumah.

Sekolah Sebagai Rekan Tumbuh, Bukan Sekadar Tempat Belajar

Sekolah berperan penting sebagai mitra keluarga dalam membangun ketahanan mental anak – anak. Setiap guru, konselor/guru BK, dan tenaga pendidik perlu melihat siswa secara utuh, artinya tidak hanya melihat siswa sebagai subjek yang harus mencapai target kurikulum, tetapi sebagai pribadi yang sedang tumbuh dan mencari makna.

Langkah konkret yang dapat dilakukan sekolah antara lain:
  1. Membangun budaya refleksi dan empati, misalnya pembiasaan refleksi dengan menulis jurnal harian setelah kegiatan belajar di sekolah berlangsung, mengagendakan sesi berbagi pengalaman atau kegiatan mindfulness sederhana.
  2. Menyediakan ruang konseling yang aman dan terjangkau. Tantangan bagi sekolah bagaimana agar stereotif ruang konseling atau BK adalah untuk anak – anak yang bermasalah atau nakal. Tapi bagaimana fasilitas konseling ini menjadi tempat bagi anak – anak untuk merasa di dengar dan menjadi tempat yang aman untuk mengungkapkan perasaan ataupun masalah yang dihadapi siswa.
  3. Meningkatkan kolaborasi dengan orang tua melalui program pembinaan keluarga dan forum diskusi tentang kesehatan mental remaja.
  4. Penguatan literasi digital dan media sosial. Sekolah perlu membekali siswa dengan literasi digital agar mampu menggunakan gawai secara sehat, mulai dari memilah informasi, mengenali konten negatif, memahami risiko doomscrolling, hingga mengatur waktu layar. Dengan pemahaman ini, siswa dapat lebih bijak dalam beraktivitas di dunia digital dan terhindar dari dampak psikologis seperti kecemasan atau stres akibat konsumsi media berlebihan.

Sekolah yang memanusiakan siswanya akan menjadi ruang penyembuhan sosial, tempat anak merasa diterima dan dibimbing untuk mengenali dirinya sendiri.
Menemani, Bukan Mengadili

Baik orang tua maupun guru sering kali ingin “memperbaiki” anak dengan cepat, padahal yang anak butuhkan adalah pendampingan penuh empati. Kehadiran yang tulus, percakapan yang hangat, dan penghargaan terhadap proses lebih menyembuhkan dibanding nasihat panjang atau hukuman.

Kesehatan mental anak tumbuh dari relasi yang sehat, bukan dari kesempurnaan sistem. Anak yang merasa diterima akan berani menghadapi dunia, bahkan ketika dunia itu tidak selalu ramah padanya.

BACA JUGA :

Maut Masih Mengintai di Perlintasan Sebidang
Dilema Anggaran Keselamatan Kereta di Jawa T imur
Rencana Penanganan 135 Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera
Rencana Penanganan 135 Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera
arus mudik 2
Mudik Lebaran 2026: Jangan Hanya Bertumpu Pada Jalan Tol
JALAN-RUSAK_ilustrasi
Memahami Hak Masyarakat dan Tanggung Jawab Negara Atas Jalan Rusak

Satu pemikiran pada “Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: Saatnya Sekolah dan Rumah Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa”

Tinggalkan komentar

Satu pemikiran pada “Krisis Kesehatan Mental Anak Indonesia: Saatnya Sekolah dan Rumah Menjadi Ruang Pemulihan Jiwa”

Tinggalkan komentar

JANGAN LEWATKAN:

Mudik Lebaran 2026 Mobilitas Besar, Antisipasi Maksimal
Mudik Lebaran 2026: Mobilitas Besar, Antisipasi Maksimal
Wajib Baca! Bijak di Jalan, Aman di Tujuan Pentingnya Kesadaran Lalu Lintas di Indonesia
Wajib Baca! Bijak di Jalan, Aman di Tujuan: Pentingnya Kesadaran Lalu Lintas di Indonesia
Etika pengemudi di jalan raya sangat penting untuk menciptakan keselamatan dan kenyamanan bersama. Pengemudi perlu menghormati pejalan kaki dengan berhenti di zebra cross, mengurangi kecepatan di area ramai, tidak berkendara di trotoar, serta memperhatikan anak-anak dan lansia sebagai pengguna jalan paling rentan.
Etika Pengemudi terhadap Pejalan Kaki
Soto Kare Reksa di Salatiga menjadi kuliner legendaris sejak 1942, warisan keluarga Sofyan yang masih mempertahankan resep tradisional dengan kuah santan dan sandung lamur khas. Berlokasi di gang belakang bekas Bioskop Reksa, warung ini tetap ramai dikunjungi pecinta kuliner dari berbagai daerah karena cita rasanya yang autentik.
Soto Kare Reksa Salatiga Sensasi Kuliner sejak 1942
Rasika memberikan panduan bagi masyarakat untuk tetap menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia. Artikel ini membahas pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental, tetap bersosialisasi, menekuni hobi positif, serta memperkuat ibadah sebagai kunci menghadapi pertambahan usia dengan penuh rasa syukur dan semangat hidup.
Umur Semakin Bertambah? Ini Tips Agar Tetap Positif di Masa Tua
Lima tempat dimsum di Ungaran, Kabupaten Semarang, menjadi rekomendasi favorit pecinta kuliner. Rasika memperkenalkan ragam inovasi dimsum kekinian yang populer di kalangan masyarakat. Dimsum lezat ini disajikan dengan beragam varian rasa dan topping unik melalui layanan offline maupun ojek online.
Bikin Ngiler! Berikut 5 Rekomendasi Dimsum di Ungaran

INFOGRAFIS

TERKINI

Konsumsi BBM dan LPG Meningkat Selama Mudik, Pertamina Pastikan Pasokan Aman hingga Arus Balik
Konsumsi BBM dan LPG Meningkat Selama Mudik, Pertamina Pastikan Pasokan Aman hingga Arus Balik
Lonjakan konsumsi energi terjadi selama Satgas RAFI 2026, dicatat Pertamina Patra Niaga di wilayah Jawa Bagian Tengah, seiring arus mudik dan balik Lebaran. Peningkatan BBM dan LPG dipicu mobilitas masyarakat,...
Kejuaraan bola basket “Lentera Cup 3x3 Battleground 2026” digelar SMP Kristen Lentera Ambarawa di AKA Arena Ambarawa, 30–31 Maret 2026. Ajang ini menyasar pelajar KU-12 dan KU-16 guna membentuk karakter, menjaring talenta muda, serta memasyarakatkan olahraga basket melalui kompetisi sehat dan dinamis.
Puluhan Sekolah bakal ikuti Kejuaraan Basket Pelajar “Lentera Cup 3x3 Battleground 2026”
Kejuaraan bola basket “Lentera Cup 3x3 Battleground 2026” digelar SMP Kristen Lentera Ambarawa di AKA Arena Ambarawa, 30–31 Maret 2026. Ajang ini menyasar pelajar KU-12 dan KU-16 guna membentuk karakter,...
sampah
Selama Lebaran, Volume Sampah di Salatiga Naik 7 Ton per Hari
Peningkatan volume sampah terjadi selama Lebaran 2026 di Salatiga, disampaikan Yunus Juniadi, pada periode 18–24 Maret. Kenaikan sekitar 7 ton per hari dinilai wajar, dipicu aktivitas konsumsi masyarakat,...
Pasca Lebaran, Penyakit Gangguan Pencernaan Mendominasi, Dinkes Salatiga Pastikan Layanan
Pasca Lebaran, Penyakit Gangguan Pencernaan Mendominasi, Dinkes Salatiga Pastikan Layanan
Kasus gangguan pencernaan mendominasi laporan kesehatan pasca Lebaran 2026 di Salatiga, disampaikan Prasit Al Hakim. Meski mobilitas meningkat, kondisi tetap terkendali berkat kesiapan layanan kesehatan,...
Lonjakan aktivitas mudik dan balik Lebaran 2026 mendorong peningkatan ekonomi UMKM, pelaku usaha kuliner, dan sektor wisata di Jawa Tengah, Jumat (27/3/2026). Pedagang, pengelola restoran, hingga destinasi wisata merasakan kenaikan omzet signifikan, dipicu tingginya mobilitas pemudik yang singgah, berbelanja, dan berwisata sepanjang jalur strategis.
Berkah Mudik Lebaran Omzet Pedagang Makanan di Tuntang Melonjak
Lonjakan aktivitas mudik dan balik Lebaran 2026 mendorong peningkatan ekonomi UMKM, pelaku usaha kuliner, dan sektor wisata di Jawa Tengah, Jumat (27/3/2026). Pedagang, pengelola restoran, hingga destinasi...
Muat Lebih

POPULER

Lonjakan volume sampah terjadi di Kabupaten Semarang selama Lebaran 2026, disampaikan DLH di Ungaran pada 18–24 Maret, mencapai 293 ton per hari dari normal 280 ton, dipicu aktivitas rumah tangga, ditangani melalui TPS 3R, bank sampah, serta penambahan petugas dan armada pengangkut.
Lonjakan Sampah Saat Momen Lebaran di Kabupaten Semarang Capai 293 Ton per Hari
ruas tol Solo- Ngawi
Tarif Tol Solo–Ngawi Disesuaikan Mulai 5 Januari 2026
Forum PUSAKA Jawa Tengah membuka call for papers bagi akademisi, peneliti, dan masyarakat di Gedung Bank Indonesia Semarang pada Maret 2026 untuk merumuskan rekomendasi kebijakan ekonomi daerah, dengan pengiriman extended abstract 2.500 kata serta peluang publikasi di jurnal ilmiah bereputasi.
Forum PUSAKA Jateng 2026 Buka Call for Papers, Dorong Rekomendasi Kebijakan Ekonomi Daerah

Copyright @ rasikafm.com | All rights reserved